Perjalanan wisata keberagaman warga RT 01 hingga RT 05 RW 04, Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos, Kota Depok, berujung kekecewaan. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (14/6/2026) itu diwarnai kendala teknis berupa bus mogok dan pendingin udara (AC) tidak berfungsi, serta memunculkan pertanyaan warga terkait transparansi penggunaan anggaran kegiatan yang disebut mencapai Rp 25 juta.
Rombongan berangkat dari Depok menuju Masjid Agung Banten dan Pantai Sambolo dengan menggunakan lima armada bus. Namun, dalam perjalanan pulang dari arah Banten, bus yang ditumpangi rombongan dari RT 02 dan RT 03/RW 04 dilaporkan mengalami mogok di tengah perjalanan. Situasi menjadi tidak nyaman karena AC bus juga tidak berfungsi, sehingga penumpang merasakan kepanasan.
Salah seorang warga menyampaikan keluhan bahwa perjalanan yang semula diharapkan menyenangkan berubah menjadi tidak nyaman karena panas dan ketidakpastian selama kendala terjadi.
Selain persoalan teknis, warga juga menyoroti adanya biaya tambahan yang diminta kepada peserta. Disebutkan, setiap peserta wajib membayar Rp 50.000 untuk kebutuhan tiket masuk objek wisata dan tol. Dengan asumsi kapasitas 59 penumpang per bus dan total empat armada, jumlah pungutan tersebut diperkirakan mencapai Rp 11,8 juta.
Di sisi lain, warga dari RT 02/RW 04 menyatakan tidak dikenakan pungutan tersebut karena menggunakan dana kas lingkungan setempat. Namun, informasi mengenai anggaran resmi kegiatan memunculkan pertanyaan. Sejumlah warga menyebut anggaran wisata keberagaman diketahui sebesar Rp 25 juta.
Warga juga mengaitkan besaran anggaran dengan perkiraan biaya operasional bus. Berdasarkan informasi yang mereka terima, biaya operasional satu bus disebut sekitar Rp 4,6 juta. Jika dikalikan lima bus, totalnya menjadi Rp 23 juta. Dari perhitungan tersebut, warga mempertanyakan sisa anggaran sekitar Rp 2 juta, terlebih karena masih ada pungutan mandiri untuk tiket dan tol.
Warga menilai ketidakjelasan rincian belanja dapat mengganggu semangat kebersamaan yang ingin dibangun melalui program wisata keberagaman. Mereka berharap pihak penyelenggara memberikan pertanggungjawaban keuangan yang transparan serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen perjalanan agar kejadian serupa tidak terulang.