Asosiasi Pertanian Organik Vietnam (VOAA) meresmikan kursus pelatihan Standar Organik VOAA untuk memperkenalkan sekaligus membimbing penerapan Standar Dasar TCCS 01:2024/VOAA kepada anggota, organisasi, dan individu yang berminat pada pertanian organik.
Pelatihan ini dilaksanakan sesuai rencana proyek “Penguatan Kapasitas Asosiasi Pertanian Organik Vietnam” (KVP1052), kolaborasi VOAA dengan Asosiasi Pertanian Organik Jerman, Naturland, yang didanai SEQUA pada 2026. Melalui program tersebut, VOAA menyelenggarakan Pelatihan Standar Organik TCCS 01:2024/VOAA sebagai bagian dari penguatan layanan dukungan bagi anggotanya.
Pada hari pertama, materi difokuskan pada perkembangan pertanian organik di dunia dan di Vietnam, konsep serta prinsip pertanian organik, sistem standar dan sertifikasi, hingga pembahasan rinci mengenai perbedaan dan signifikansi standar VOAA. Kegiatan dihadiri antara lain oleh Dr. Ha Phuc Mich selaku Presiden VOAA, Dang Thi Thuy sebagai Manajer Proyek KVP sekaligus perwakilan Naturland di Vietnam, serta pengajar utama Tu Thi Tuyet Nhung (Komite Tetap VOAA dan Kepala Departemen Standar VOAA) dan Bui Khanh Tung (Wakil Direktur Pusat Pendukung Pengembangan Pertanian Organik/CODAS). Sejumlah anggota asosiasi, organisasi, serta individu yang tertarik pada pertanian organik juga turut mengikuti pelatihan.
Dalam sambutan pembukaan, Dr. Ha Phuc Mich menyampaikan bahwa pengembangan standar dasar asosiasi merupakan aspirasi lama yang lahir dari kebutuhan akan alat praktis bagi produsen, koperasi, dan pelaku usaha untuk memilih dan menerapkan acuan yang sama, sehingga transparansi dalam proses produksi dapat meningkat. Ia juga menekankan pengakuan IFOAM International terhadap standar ini sebagai aspek penting yang dinilai memberi keuntungan bagi organisasi dan individu yang menerapkannya, sekaligus membantu membangun kepercayaan pasar.
Sementara itu, Dang Thi Thuy menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pembangunan Ekonomi dan Kerja Sama Federal Jerman atas dukungan penyelenggaraan program pelatihan. Menurutnya, penerbitan standar oleh VOAA menjadi tonggak penting untuk memperkuat dukungan bagi anggota dan menambah rujukan bagi konsumen dalam mengenali produk di pasaran. Namun, ia menilai standar tersebut baru akan benar-benar bernilai apabila disebarluaskan kepada pihak-pihak yang terlibat langsung dalam produksi, bisnis, dan rantai pasok organik.
Dalam sesi pengajaran, Tu Thi Tuyet Nhung menekankan bahwa pertanian organik tidak dapat dipahami semata-mata sebagai praktik “tidak menggunakan bahan kimia”. Ia menyebut organik sebagai sistem produksi yang menjaga kesehatan tanah, ekosistem, dan manusia, dengan empat prinsip—Kesehatan, Ekologi, Keadilan, dan Kepedulian—sebagai dasar penyusunan standar yang memandu produksi. Ia menambahkan, untuk memperoleh sertifikasi organik, fasilitas produksi harus memenuhi standar secara menyeluruh pada seluruh proses.
Menurut Nhung, standar berfungsi sebagai “tolok ukur” untuk menciptakan transparansi. Tanpa standar, siapa pun dapat mengklaim menghasilkan produk organik. Ia juga membedakan antara prinsip umum sebagai tujuan yang perlu diupayakan, langkah-langkah yang direkomendasikan sebagai saran praktis, dan standar sebagai persyaratan dasar yang wajib dipenuhi produsen untuk memperoleh sertifikasi.
Bui Khanh Tung menyoroti kebingungan yang kerap muncul di pasar, terutama terkait perbedaan produk “alami” dan “organik”. Ia menegaskan produk organik merupakan hasil dari sistem yang dikelola berdasarkan standar, kontrol, serta catatan ketertelusuran, bukan sekadar produk yang dipromosikan dengan konsep yang tidak jelas. Ia juga menilai salah satu kendala besar saat ini adalah kepercayaan konsumen, mengingat banyak istilah beredar seperti “sayuran bersih”, “sayuran aman”, “VietGAP”, dan “organik” yang tidak selalu dijelaskan secara gamblang.
Dalam pelatihan, instruktur turut menjelaskan definisi pertanian organik sebagai sistem produksi yang mematuhi standar organik, melindungi dan meningkatkan kesehatan tanah, lingkungan ekologis, serta manusia melalui penghapusan input kimia sintetis. Para pengajar juga membedakan konsep produksi paralel—yakni fasilitas yang memproduksi produk organik dan konvensional dari jenis yang sama sehingga secara visual sulit dibedakan—dengan produk organik yang diproduksi, diproses, dikemas, dan dibuat sesuai standar pertanian organik.
Salah satu topik yang memicu diskusi adalah pengelolaan hama dan penyakit. Dalam sesi tanya jawab, Nguyen Van Phi dari Koperasi Longan Bao Tien mengutarakan kekhawatiran terkait tekanan hama dan penyakit serta keterbatasan pestisida biologis dalam praktik produksi. Menanggapi hal itu, para dosen menekankan filosofi organik bukan berfokus pada “membasmi” hama dengan segala cara, melainkan mengelolanya melalui penciptaan ekosistem sehat—tanah sehat, tanaman sehat, dan keanekaragaman hayati tinggi—yang mendorong keberadaan musuh alami serta menurunkan tekanan hama. Pendekatan ini disebut sejalan dengan standar VOAA yang mensyaratkan penerapan langkah biologis, budidaya, dan pencegahan proaktif secara komprehensif sebelum mempertimbangkan penggunaan input pendukung.
Instruktur juga menekankan aspek deklarasi dan pelabelan produk. Menurut Nhung, petani dapat menerapkan standar untuk menyatakan praktik produksi sesuai standar organik VOAA. Setelah proses konversi diakui secara resmi dalam bentuk tertulis, produsen dapat menyatakan tengah beralih ke organik. Adapun produk baru dapat disebut organik dan menampilkan label standar ketika proses produksi dinilai sepenuhnya sesuai dengan ketentuan.
VOAA menyatakan Standar Organik TCCS 01:2024/VOAA dikembangkan berdasarkan standar organik PGS Vietnam yang ditetapkan Komite Standar VOAA pada 18 Desember 2020. Standar ini dikeluarkan oleh VOAA melalui Keputusan No. 18/2024/QD-HHNNHCVN pada 17 April 2024, kemudian dinilai serta diakui oleh IFOAM International sebagai anggota keluarga standar IFOAM pada Mei 2025.
Dokumen standar tersebut terdiri dari 10 bagian dengan total 60 halaman, mencakup manajemen umum, pertanian organik, panen produk alami, budidaya jamur dan kecambah, peternakan organik, peternakan lebah organik, pengolahan dan penanganan, kesetaraan sosial, input untuk produksi organik, serta panduan penilaian input, aditif, dan alat bantu pengolahan. VOAA menyebut rangkaian standar ini dibangun di atas kerangka PGS Vietnam yang telah diakui IFOAM, sekaligus menambahkan area yang dinilai masih kurang dalam praktik produksi, seperti panen alami, kecambah, jamur, lebah, dan evaluasi bahan masukan.
Secara keseluruhan, pelatihan hari pertama tidak hanya membahas standar teknis, tetapi juga mengangkat isu yang lebih luas: upaya meningkatkan transparansi produksi organik, menstandarkan konvensi penamaan produk, serta memperkuat kepercayaan pasar di tengah banyaknya istilah serupa yang beredar di kalangan konsumen.

