Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia disebut mencapai 8,2% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Di tengah perkembangan tersebut, persoalan transparansi dalam valuasi startup masih menjadi perhatian karena berpengaruh pada kepercayaan investor dan iklim investasi.
Pakar ekonomi Dr. Sri Mulyani menilai transparansi valuasi startup penting untuk membangun kepercayaan investor sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Kurangnya keterbukaan dalam penilaian nilai perusahaan rintisan dinilai dapat mempersulit investor memahami kondisi bisnis dan risiko yang melekat.
Sejumlah strategi disebut dapat diterapkan untuk meningkatkan transparansi valuasi startup di Indonesia pada 2026. Pertama, penggunaan metode valuasi yang konsisten. Metode yang umum dipakai antara lain discounted cash flow (DCF) dan metode komparatif. Konsistensi metode dinilai membantu pembanding dan pemangku kepentingan membaca hasil valuasi secara lebih jelas.
Kedua, pengungkapan informasi keuangan yang akurat. Informasi yang perlu disampaikan mencakup laporan keuangan, proyeksi pendapatan, dan struktur biaya. Keterbukaan data tersebut dianggap membantu investor mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai.
Ketiga, pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan transparansi. Teknologi seperti blockchain dan artificial intelligence (AI) disebut dapat membantu pengumpulan serta analisis data keuangan startup, sehingga proses penilaian dapat dilakukan lebih terstruktur.
Keempat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Ketersediaan tenaga yang kompeten dinilai penting untuk mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data keuangan startup secara benar, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas transparansi valuasi.
Kelima, pengembangan kerangka regulasi yang jelas. Regulasi yang lebih tegas dan mudah dipahami dinilai dapat membantu investor mengidentifikasi risiko dan peluang dalam investasi startup, sekaligus menjadi rujukan praktik valuasi yang lebih terbuka.
Dari sisi dampak, kurangnya transparansi valuasi dinilai dapat memengaruhi arus investasi. Kementerian Keuangan mencatat nilai investasi di startup di Indonesia mencapai Rp 10 triliun pada 2025. Namun, minimnya transparansi berpotensi menurunkan kepercayaan investor dan pada akhirnya mengurangi investasi.
Selain itu, data CB Insights menyebut 70% startup gagal karena kurangnya pengetahuan tentang valuasi startup. Situasi ini memperkuat kebutuhan peningkatan kesadaran dan pemahaman mengenai valuasi, termasuk pentingnya transparansi dalam proses tersebut.
Dalam konteks penguatan kapasitas, peran lembaga pendidikan dan pelatihan disebut penting untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia serta mendukung pengembangan kerangka regulasi yang lebih jelas. Dengan penerapan strategi-strategi tersebut, transparansi valuasi startup diharapkan meningkat dan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi serta penguatan kepercayaan investor.