Jakarta—Self-Regulatory Organizations (SRO) pasar modal yang terdiri dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar dua forum strategis pada Rabu (17/6). Kegiatan ini mencakup “Diskusi Sinergi dalam Menjaga Stabilitas dan Resiliensi Pasar Modal Indonesia” serta “Capital Market Insight: Pengaturan Buyback dan Market Update”, yang ditujukan untuk memperkuat komunikasi pasar, menjaga stabilitas, dan mempercepat reformasi pasar modal.
Forum diskusi pada sesi pagi mempertemukan regulator dan SRO dengan perwakilan asosiasi pasar modal, manajer investasi, serta pelaku industri. Agenda utamanya adalah pemaparan progres reformasi transparansi yang tengah dijalankan. Sementara itu, sesi siang melalui forum “Capital Market Insight” melibatkan perwakilan perusahaan tercatat untuk membahas perkembangan pasar dan kinerja emiten, termasuk kebijakan pembelian kembali saham (buyback).
Sesi pagi dibuka dengan keynote speech Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Khoirul Muttaqien. Pemaparan juga disampaikan oleh Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Henry Rialdi, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, Direktur KPEI Antonius Herman Azwar, serta Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat.
Khoirul Muttaqien menyampaikan OJK terus memperkuat integritas dan daya saing pasar modal melalui agenda reformasi yang dijalankan secara terstruktur dan berkelanjutan. Reformasi tersebut meliputi peningkatan transparansi data kepemilikan saham, penguatan klasifikasi investor yang lebih granular, implementasi pengumuman High Shareholding Concentration (HSC), peningkatan persyaratan minimum free float menjadi 15%, serta penguatan pengawasan dan penegakan hukum. Menurutnya, langkah ini diperlukan untuk memperkuat fondasi pasar modal dan meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Dalam pemaparan yang sama, BEI menyampaikan pasar modal Indonesia dinilai masih memiliki fundamental yang kuat meski menghadapi tekanan eksternal. Pasar sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada level 9.134,70 pada Januari 2026, namun kemudian mengalami volatilitas yang dipengaruhi berbagai faktor global dan domestik, termasuk dinamika geopolitik, kebijakan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta rebalancing indeks global.
BEI mencatat, hingga 12 Juni 2026 rata-rata nilai transaksi harian saham mencapai Rp24,7 triliun. Jumlah investor pasar modal disebut telah melampaui 28 juta, dengan investor saham mencapai 9,8 juta. Dari sisi emiten, sekitar 80% perusahaan tercatat dilaporkan membukukan laba pada kuartal pertama 2026.
Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai kondisi pasar saat ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kepercayaan investor dan mempercepat reformasi pasar modal. Ia menyebut likuiditas pasar terjaga, partisipasi investor domestik meningkat, dan mayoritas perusahaan tercatat menunjukkan kinerja positif, sehingga sinergi antara regulator, SRO, pelaku industri, dan investor dinilai penting untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat daya saing pasar modal.
Direktur KPEI Antonius Herman Azwar menyoroti peran konektivitas infrastruktur pasar modal dengan lembaga keuangan domestik dan global dalam mendorong pendalaman pasar dan peningkatan aktivitas transaksi. Menurutnya, penguatan konektivitas juga menjadi fondasi ekosistem pasar modal yang lebih terintegrasi, likuid, dan kompetitif. Ia menyatakan KPEI, melalui peran sebagai Central Counterparty (CCP), memastikan pengelolaan risiko sesuai standar internasional dan pengelolaan collateral dilakukan secara terintegrasi untuk meningkatkan keamanan dan kepastian penyelesaian transaksi.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat menekankan resiliensi pasar modal turut ditopang basis investor domestik. Hingga 12 Juni 2026, jumlah investor yang tercatat di KSEI disebut mencapai 28,3 juta, dengan kepemilikan aset didominasi investor lokal. KSEI menyatakan komitmennya memperkuat transparansi dan kualitas data kepemilikan saham agar lebih granular dan andal, sebagai bagian dari dukungan terhadap rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal yang dijalankan bersama OJK dan SRO.
Sementara itu, forum “Capital Market Insight: Pengaturan Buyback dan Market Update” pada sesi siang dibuka oleh Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Kristian Sihar Manullang. Acara ini menghadirkan pemaparan perkembangan pasar modal terkini serta kebijakan buyback dalam kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan, yang disampaikan Asisten Direktur Senior Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasoloan Hutajulu, Asisten Direktur Senior Departemen Pengawasan Emiten dan Perusahaan Publik OJK Sri Sulastri, serta Pjs. Kepala Divisi Riset BEI Heidy Ruswita Sari.
Dalam forum tersebut, BEI menegaskan pentingnya pemanfaatan kebijakan buyback sebagai alternatif strategi korporasi bagi perusahaan tercatat dalam menghadapi dinamika pasar. Kristian Sihar Manullang menyatakan kebijakan buyback dapat memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan struktur permodalan serta menjadi sinyal keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Ia berharap forum ini membantu perusahaan tercatat memahami implementasi kebijakan buyback sekaligus memperoleh gambaran kondisi dan prospek pasar modal Indonesia.
Melalui dua forum itu, BEI bersama OJK dan SRO menegaskan komitmen untuk memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar, meningkatkan transparansi, mempercepat reformasi pasar modal, serta menjaga stabilitas dan resiliensi pasar modal Indonesia sebagai salah satu pilar pembiayaan pembangunan nasional.