Forum Pemerhati Pembangunan Bali Minta Transparansi Proyek PSEL Waste to Energy di Benoa

Forum Pemerhati Pembangunan Bali Minta Transparansi Proyek PSEL Waste to Energy di Benoa

Penasihat Forum Pemerhati Pembangunan Bali (For HATI Bali), Jro Gde Sudibya, meminta transparansi dalam rencana proyek PSEL (pengelolaan sampah menjadi energi listrik) atau waste to energy untuk Bali. Ia mengibaratkan perlunya keterbukaan sejak awal agar publik “tidak membeli kucing dalam karung”.

Pernyataan itu disampaikan Jro Gde Sudibya pada Rabu, 8 Juli 2026. Ia menyebut proyek tersebut sebagai proyek perdana Danantara terkait pengelolaan sampah, dengan pendanaan melalui Patriot Bond.

Menurutnya, dari sisi pembiayaan, ada perbedaan tingkat bunga yang perlu dicermati. Ia menyebut Patriot Bond memiliki bunga 2 persen per tahun, sementara obligasi pemerintah berada di kisaran 6,5 persen per tahun dan obligasi Danantara di pasar reguler 8,5 persen.

Jro Gde Sudibya juga menyinggung pengalaman pengelolaan proyek pada era Orde Baru, di mana pemilik dana kerap mengelola proyek secara turn key, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Dalam skema seperti itu, ia menilai bunga obligasi yang kecil dapat dikompensasikan melalui peningkatan nilai proyek.

Ia mempertanyakan siapa yang akan menjadi pengelola proyek, apakah Danantara sendiri, kombinasi Danantara dengan pihak swasta lain, atau bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Bali. Ia menekankan perlunya kejelasan struktur kepemilikan saham dan pembagian tanggung jawab, terutama jika melibatkan dana APBD Bali yang disebutnya sebagai uang rakyat Bali.

Dari sisi lingkungan, Jro Gde Sudibya mengingatkan potensi polusi dari proyek tersebut. Ia menyatakan suhu permukaan Bali telah naik 1,9 derajat Celsius dalam 70 tahun terakhir, lebih tinggi dari target Kesepakatan Paris 2016 sebesar 1,5 derajat Celsius. Menurutnya, emisi CO2 berisiko memperburuk kenaikan suhu permukaan di Bali.

Ia juga menyoroti rencana lokasi proyek di kawasan Benoa, yang berada di area padat serta dekat kawasan eksklusif destinasi wisata Nusa Dua. Ia meminta agar risiko kemacetan lalu lintas, polusi udara, dan kenyamanan wisatawan dipertimbangkan secara matang.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa proyek PSEL bukan solusi tunggal untuk krisis sampah. Ia menilai tetap diperlukan disiplin warga dalam memilah sampah dari sumbernya, serta sistem transportasi sampah perkotaan yang efisien dengan perspektif pelayanan.