Tiga bulan setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang diberi kode Operation Epic Fury mengguncang Iran, kalkulasi geopolitik yang semula diyakini Washington dan Tel Aviv belum menghasilkan dampak yang diharapkan terhadap Gaza. Dalam rentang waktu yang sama, Hamas disebut masih bertahan, sementara pendanaan rekonstruksi Gaza yang dijanjikan melalui skema “Board of Peace” dilaporkan belum terisi.
Operation Epic Fury dimulai pada dini hari 28 Februari 2026. Dalam 12 jam pertama, serangan udara presisi dilaporkan mencapai sekitar 900 sasaran, termasuk fasilitas nuklir di Natanz, Fordow, dan Isfahan; pangkalan rudal balistik di Khorramabad dan Bandar Abbas; serta pos komando militer di Tehran dan Qom. Serangan juga menyasar lokasi yang menurut intelijen Israel merupakan target kepemimpinan.
Pada hari yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas bersama lebih dari 20 pejabat senior. Di Minab, dekat Bandar Abbas, sebuah rudal yang disebut semula menarget pangkalan angkatan laut menghantam sekolah perempuan yang bersebelahan dengan fasilitas militer, menewaskan 170 siswi dan guru. Pentagon menyebutnya sebagai kerusakan kolateral, sementara Iran menyebutnya pembantaian.
Pasca-serangan, Iran membentuk Interim Leadership Council pada 1 Maret 2026. Sepekan kemudian, pada 8 Maret, Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Penunjukan ini disebut oleh penulis Forbes Güney Yıldız sebagai tanda konsolidasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di belakang figur yang lebih mudah dikendalikan.
Serangan Februari 2026 itu diposisikan sebagai pukulan keempat terhadap jaringan yang oleh Iran disebut Axis of Resistance. Tiga pukulan sebelumnya, menurut artikel ini, adalah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah pada Desember 2024, penghancuran sistematis Hizbullah sepanjang 2024 termasuk terbunuhnya Hassan Nasrallah, serta “Perang Dua Belas Hari” pada Juni 2025 ketika Israel melancarkan serangan awal terhadap fasilitas nuklir Iran.
Chatham House dalam analisis 16 Maret 2026 menilai strategi “forward defence” Iran—mempertahankan diri melalui jaringan proksi di luar wilayahnya—berbalik menjadi bumerang strategis. Argumennya, menempatkan kapasitas militer pada kelompok-kelompok proksi membuatnya menjadi target yang dapat dihancurkan satu per satu tanpa risiko pembalasan langsung ke Iran. Dalam kerangka itu, ketika Hamas terisolasi, Iran dianggap berada dalam posisi rentan, dan Operation Epic Fury diluncurkan.
Namun respons Hamas justru menjadi salah satu poin yang disorot. Meski Hizbullah meluncurkan rentetan rudal ke wilayah utara Israel pada 2 Maret 2026 dan Houthi Yaman menyerang kapal-kapal Amerika di Laut Merah, Hamas dilaporkan tidak melancarkan operasi militer besar selama tiga minggu pertama setelah perang Iran pecah. Pada 1 Maret 2026, Hamas tetap mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam serangan serta menyebut AS dan Israel bertanggung jawab.
Artikel ini mengaitkan sikap Hamas tersebut dengan dinamika internal. Pada Februari 2026, Hamas disebut menggelar pemilihan internal yang memunculkan keretakan antara kubu pro-Iran yang dipimpin Khalil al-Hayya dan kubu pragmatis yang lebih terbuka pada normalisasi dengan negara-negara Teluk. Pengumuman hasil pemilihan yang semula dijadwalkan pada Ramadan Maret 2026 tertunda akibat perang Iran, dan “diam militer” disebut mencerminkan paralisis strategis di tengah perebutan kepemimpinan.
Khalil al-Hayya, tokoh senior Hamas yang beroperasi dari Doha, disebut menjadi figur kunci setelah kematian Yahya Sinwar pada Oktober 2024 dan Ismail Haniyeh pada Juli 2024. Pada 5 Juni 2026, Hayya melakukan percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Dalam laporan Tasnim, Hayya menyampaikan belasungkawa atas kematian Khamenei dan menyebut Iran telah “memenangkan Perang Ramadan” karena berhasil menggagalkan tujuan agresor.
Formulasi itu dipahami sebagai penekanan bahwa tujuan perubahan rezim di Iran—yang dikaitkan dengan pernyataan Trump dan Netanyahu di awal operasi—tidak tercapai. Rezim tetap berdiri, Mojtaba Khamenei memegang jabatan pemimpin tertinggi, dan IRGC disebut masih mengendalikan struktur militer.
Di sisi lain, kalkulasi Washington yang mengaitkan melemahnya Iran dengan percepatan demiliterisasi Gaza dinilai tidak berjalan. Times of Israel pada 14 Mei 2026 dikutip menyatakan AS mengira perang Iran akan mempercepat demiliterisasi Gaza, namun yang terjadi justru sebaliknya dan Hamas disebut makin mengeras. Dalam artikel ini, rencana yang digambarkan adalah: Iran dilemahkan agar Hamas kehilangan dukungan, lalu Hamas menerima syarat pelucutan senjata, dan Gaza masuk fase rekonstruksi yang dibiayai dana donor internasional sebesar 17 miliar dolar melalui Board of Peace.
Namun hingga akhir Mei 2026, brankas Board of Peace disebut masih kosong. Hamas juga dilaporkan belum menyerahkan senjata meski Trump pada 6 Maret 2026 menyatakan “akan ada hell to pay” jika Hamas tidak melucuti persenjataan. Artikel ini juga menyebut panglima militer Hamas yang baru—penerus Izz al-Din al-Haddad yang tewas pada 15 Mei—kembali gugur pada 28 Mei 2026, dua pekan setelah dilantik, tetapi struktur komando lapangan disebut tetap berjalan dan pengganti segera diisi.
Sementara itu, Iran memainkan kartu strategis berupa penutupan Selat Hormuz. Pada awal Maret 2026, Iran disebut menutup selat bagi lalu lintas komersial dengan menempatkan ranjau magnetik bawah air dan mengerahkan drone pengintai. Hingga 30 Mei 2026, penutupan itu disebut masih efektif. Dampaknya, harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak dan inflasi global meningkat, sehingga prioritas politik sejumlah negara bergeser dari pembiayaan rekonstruksi Gaza ke stabilisasi pasokan energi.
Di tengah situasi tersebut, artikel ini menekankan bahwa kematian pemimpin Iran dan guncangan regional tidak otomatis mengakhiri ketahanan warga Gaza. Narasi ditutup dengan gambaran kehidupan sipil di tenda pengungsian Khan Younis, ketika seorang anak membantu mendistribusikan air dan tetap melanjutkan rutinitasnya berbulan-bulan setelah Operation Epic Fury dimulai.
Tiga bulan setelah operasi militer besar itu, rangkaian fakta yang diangkat artikel ini menggambarkan posisi yang masih buntu: Iran mengalami pukulan berat namun tidak berganti rezim, Hamas disebut tetap bertahan dan belum melucuti senjata, Selat Hormuz diklaim masih tertutup, dan skema pendanaan rekonstruksi Gaza belum berjalan.