Studi: Investasi Asing dan Ketergantungan Energi Fosil Dorong Emisi di ASEAN

Studi: Investasi Asing dan Ketergantungan Energi Fosil Dorong Emisi di ASEAN

Di tengah laju pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara, sebuah studi terbaru menyoroti risiko yang mengiringinya: memburuknya kualitas lingkungan akibat polusi. Kawasan ASEAN dinilai berada pada titik penting untuk menyeimbangkan target kemakmuran, arus investasi, dan pilihan sumber energi yang digunakan.

Studi tersebut mengkaji keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi, arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI), serta konsumsi energi terhadap kualitas lingkungan di negara-negara ASEAN. Penelitian ini sekaligus menguji dua konsep yang kerap menjadi rujukan dalam perdebatan ekonomi-lingkungan, yakni Pollution Haven Hypothesis (PHH) dan Environmental Kuznets Curve (EKC) dengan pola “N” terbalik.

FDI dan dugaan “surga polusi”

PHH menjelaskan kemungkinan perusahaan multinasional memindahkan aktivitas produksi ke negara dengan regulasi lingkungan yang lebih longgar untuk menekan biaya. Dalam konteks ASEAN, studi ini menemukan FDI berkorelasi dengan peningkatan emisi karbon (CO₂).

Temuan itu mengindikasikan bahwa masuknya investasi asing di kawasan ini belum sepenuhnya identik dengan transfer teknologi bersih. Sebaliknya, sebagian aktivitas yang didorong investasi masih berasosiasi dengan peningkatan polusi, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa sejumlah negara dapat menjadi lokasi yang menarik bagi industri beremisi tinggi.

Pola EKC “N” terbalik: emisi turun lalu naik kembali

Konsep EKC umumnya menggambarkan bahwa polusi meningkat pada tahap awal pertumbuhan pendapatan, lalu menurun setelah pendapatan mencapai tingkat tertentu. Namun, studi ini menemukan pola berbeda, yakni “N” terbalik: emisi naik seiring kenaikan pendapatan, sempat turun, kemudian meningkat kembali.

Menurut studi tersebut, kenaikan emisi pada fase lanjutan dapat terjadi ketika pembangunan berlanjut tanpa reformasi energi dan kebijakan lingkungan yang memadai. Pola ini dinilai mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak negara ASEAN yang terus mendorong industrialisasi.

Energi terbarukan menekan emisi, energi fosil memperburuk polusi

Penelitian ini juga menegaskan peran jenis energi sebagai faktor kunci bagi kualitas lingkungan. Penggunaan energi terbarukan—seperti surya dan angin—dikaitkan dengan penurunan emisi. Sebaliknya, ketergantungan pada energi fosil seperti batu bara dan minyak berkorelasi dengan peningkatan pencemaran.

Meski demikian, studi tersebut mencatat sebagian besar negara ASEAN masih bergantung pada energi fosil. Transisi menuju energi bersih dinilai terhambat oleh infrastruktur lama, biaya awal yang tinggi, serta terbatasnya insentif.

Pesan utama: pertumbuhan tidak otomatis berarti kemajuan ekologis

Studi ini menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan sosial dan ekologis. Jika FDI terus masuk tanpa penyaringan yang ketat dan energi bersih tidak diprioritaskan, pembangunan berisiko menghasilkan manfaat ekonomi yang tidak berkelanjutan, sementara kualitas udara dan daya dukung lingkungan menurun.

Namun, penelitian ini tidak menempatkan FDI sebagai sesuatu yang harus ditolak. FDI dinilai dapat menjadi pendorong perubahan apabila diarahkan melalui kebijakan yang tepat, termasuk penguatan regulasi lingkungan dan kewajiban penerapan teknologi hijau pada industri.

Agenda kebijakan yang disorot studi

  • Memperketat penyaringan jenis investasi yang masuk agar tidak mendorong aktivitas beremisi tinggi.
  • Memperkuat regulasi lingkungan dan memastikan kepatuhan industri.
  • Mempercepat transisi energi dengan memperluas penggunaan energi terbarukan.
  • Menyediakan insentif yang mendorong teknologi dan praktik produksi yang lebih bersih.

Dengan temuan tersebut, studi ini menempatkan ASEAN pada momen krusial: indikator keberhasilan pembangunan tidak lagi semata pertumbuhan ekonomi, melainkan juga kualitas udara, keberlanjutan energi, dan tanggung jawab lingkungan.

Penulis studi: Dr. Miguel Angel Esquivias Padilla, M.SE. DOI: https://doi.org/10.1016/j.indic.2025.100698.