Keterbatasan Tata Ruang Jadi Tantangan Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Sukabumi

Keterbatasan Tata Ruang Jadi Tantangan Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Sukabumi

SUKABUMI — Keterbatasan tata ruang menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi Kota Sukabumi dalam mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi. Dengan luas wilayah sekitar 48 kilometer persegi, ruang pengembangan dinilai semakin sempit, sementara kebutuhan ekspansi usaha terus meningkat.

Penata Perizinan Ahli Madya DPMPTSP Kota Sukabumi, Saefulloh, menyampaikan bahwa kondisi tersebut turut berpengaruh pada capaian retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Tahun ini, target retribusi PBG naik dari Rp1,46 miliar menjadi Rp2 miliar. Namun, realisasi pada Januari tercatat baru mencapai Rp54 juta. Menurutnya, potensi investasi sebenarnya terbuka, tetapi kerap tersendat oleh ketentuan tata ruang.

Saefulloh menjelaskan, sejumlah rencana usaha terhambat karena lokasi lahan masuk dalam kategori LP2B, LSD, atau zona hijau. Dari keseluruhan wilayah Kota Sukabumi, sekitar 30 persen telah menjadi kawasan permukiman. Sementara itu, sebagian besar area lainnya berada dalam ketentuan perlindungan lahan. Data lahan baku sawah tercatat sekitar 1.300 hektare.

Di tengah kondisi tersebut, hanya sekitar 250 hektare yang dinilai masih berpotensi untuk dikembangkan. Keterbatasan ini membuat upaya mendorong pertumbuhan ekonomi kerap berbenturan dengan kebijakan perlindungan pertanian. Saefulloh menyebut jalur Warudoyong dan Cibeureum sebagai titik pertumbuhan, namun secara umum ruang pengembangan tetap terbatas.

Selain itu, Kota Sukabumi juga belum memiliki zona industri. Meski demikian, peluang investasi masih terbuka, antara lain melalui rencana penanaman modal asing dari Korea serta rencana perluasan perusahaan seperti Gren Aparel. Saefulloh menilai komitmen kepala daerah untuk mendukung investasi sudah terlihat, namun perlu ditopang sinkronisasi tata ruang.

Ia menambahkan, dukungan kebijakan yang selaras diharapkan dapat memperlancar proses perizinan sekaligus memberi dampak ekonomi lebih luas. Menurutnya, ketika tata ruang sudah mendukung, peningkatan PBG berpotensi terjadi dan berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi di sekitarnya. Namun, hal itu membutuhkan dukungan dari berbagai elemen.