JAKARTA — Demensia memengaruhi lebih dari 55 juta orang di dunia dan diperkirakan meningkat hingga tiga kali lipat pada 2050. Di tengah beragam faktor risiko, penelitian terbaru menyoroti paparan polusi udara jangka panjang sebagai salah satu hal yang berkaitan dengan meningkatnya risiko demensia.
Studi dari University of Cambridge, Inggris, yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Planetary Health, melaporkan bahwa polusi udara luar ruangan dalam jangka panjang—termasuk yang bersumber dari emisi kendaraan—dapat meningkatkan risiko demensia.
Tinjauan 51 studi dengan lebih dari 29 juta partisipan
Penelitian yang dipimpin tim Unit Epidemiologi Medical Research Council (MRC), University of Cambridge, menggunakan metode tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap literatur ilmiah. Sebanyak 51 studi diikutsertakan, mencakup data lebih dari 29 juta partisipan yang sebagian besar berasal dari negara-negara di Amerika, Eropa, Asia, dan Australia.
Peneliti senior di Unit Epidemiologi MRC sekaligus penulis penelitian, Haneen Khreis, menyatakan bukti epidemiologis penting untuk menilai apakah polusi udara meningkatkan risiko demensia dan seberapa besar pengaruhnya. Menurutnya, setelah faktor risiko teridentifikasi, langkah pencegahan dapat lebih dioptimalkan agar tidak semakin banyak orang terkena demensia.
“Penelitian kami memberikan bukti lebih lanjut bahwa paparan jangka panjang terhadap polusi udara luar ruangan merupakan faktor risiko timbulnya demensia pada orang dewasa yang sebelumnya sehat,” kata Khreis, dikutip dari eurekalert, Sabtu (27/7/2025).
Tiga polutan yang dikaji: PM2,5, NO2, dan jelaga
Para peneliti menemukan hubungan positif dan signifikan secara statistik antara demensia dan tiga jenis polutan udara, yaitu partikel partikulat berdiameter 2,5 mikron atau lebih kecil (PM2,5), nitrogen dioksida (NO2), dan jelaga.
PM2,5: Setiap kenaikan paparan 10 mikrogram per meter kubik PM2,5 dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 17 persen.
NO2: Setiap kenaikan paparan 10 mikrogram per meter kubik NO2 dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 3 persen.
Jelaga: Paparan jelaga dengan konsentrasi serupa dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia hingga 13 persen.
PM2,5 terdiri dari partikel sangat kecil yang dapat terhirup jauh ke dalam paru-paru. Sumbernya antara lain emisi kendaraan, pembangkit listrik, proses industri, tungku pembakaran kayu dan perapian, serta debu konstruksi. Polutan ini juga dapat terbentuk di atmosfer melalui reaksi kimia kompleks yang melibatkan polutan lain.
NO2 merupakan polutan utama dari pembakaran bahan bakar fosil. Polutan ini ditemukan dalam gas buang kendaraan—terutama mesin diesel—serta emisi industri, kompor gas, dan pemanas. Paparan NO2 berkonsentrasi tinggi disebut dapat mengiritasi sistem pernapasan dan mengurangi fungsi paru-paru.
Adapun jelaga berasal dari emisi gas buang kendaraan dan pembakaran kayu. Selain memerangkap panas dan memengaruhi iklim, jelaga yang terhirup dapat menembus jauh ke dalam paru-paru, memperparah penyakit pernapasan, serta meningkatkan risiko masalah jantung.
Seruan penguatan kebijakan pengendalian polusi
Khreis menilai penanganan polusi udara dapat memberi manfaat jangka panjang bagi kesehatan, sosial, iklim, dan ekonomi. Ia menyebut upaya tersebut berpotensi mengurangi beban pada pasien, keluarga, dan pengasuh, sekaligus meringankan tekanan pada sistem layanan kesehatan.
Penulis lainnya, Clare Rogowski, menyatakan pengurangan paparan polutan utama dapat membantu menekan beban demensia di masyarakat. Karena itu, ia menilai batasan yang lebih ketat untuk beberapa polutan kemungkinan diperlukan dengan menargetkan kontributor utama seperti sektor transportasi dan industri.
“Mengingat luasnya polusi udara, terdapat kebutuhan mendesak akan intervensi kebijakan regional, nasional, dan internasional untuk memerangi polusi udara secara adil,” ujar Rogowski.
Rogowski juga menekankan bahwa pencegahan demensia memerlukan pendekatan interdisipliner dan tidak hanya menjadi tanggung jawab layanan kesehatan. Menurutnya, temuan studi ini menguatkan peran perencanaan kota, kebijakan transportasi, dan regulasi lingkungan dalam upaya pencegahan demensia.

