MSCI Turunkan Skor Transparansi Saham, Indonesia Tetap Kuat di Emerging Market Asia

MSCI Turunkan Skor Transparansi Saham, Indonesia Tetap Kuat di Emerging Market Asia

MSCI menurunkan penilaian transparansi pasar modal Indonesia dalam 2026 Global Market Accessibility Review. Meski demikian, MSCI tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori emerging markets.

Dalam riset yang disusun Stockbit, Indonesia dinilai masih termasuk pasar dengan kriteria yang kuat di kawasan emerging market Asia, meski aspek transparansi tetap menjadi sorotan. Stockbit menyebut hanya China dan Malaysia yang secara umum dinilai lebih “lengkap” dibandingkan Indonesia. Stockbit juga menilai jarak antara pasar Indonesia dan Vietnam yang masih berstatus frontier market tetap lebar.

Penurunan penilaian oleh MSCI disebut mencerminkan memburuknya transparansi struktur kepemilikan saham serta adanya indikasi perdagangan yang terkoordinasi di pasar domestik. MSCI menilai kondisi tersebut dapat menghambat proses pembentukan harga yang wajar. Namun, MSCI tidak merinci lebih spesifik aspek transparansi saham yang dinilai masih terbatas di Indonesia.

Selain isu transparansi, MSCI juga menyoroti sejumlah hambatan struktural yang dinilai membuat akses pasar Indonesia kurang kompetitif dibanding negara emerging markets lain. Beberapa di antaranya terkait hak yang setara bagi investor asing, tingkat liberalisasi pasar valuta asing, kliring dan penyelesaian transaksi, transfer aset, peminjaman saham, hingga praktik short selling.

Di sisi lain, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin menilai hasil tinjauan aksesibilitas pasar MSCI kali ini tidak membawa kejutan negatif yang berarti. Ia menyebut dari 18 indikator yang dievaluasi, hanya satu aspek yang berubah, yakni information flow, dan isu tersebut sudah menjadi perhatian sejak awal tahun.

“Isu ini sebenarnya sudah menjadi perhatian sejak Januari dan masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Tidak adanya penurunan yang lebih luas justru menjadi sinyal yang lebih penting,” tulis Wilbert dalam risetnya.

Wilbert juga menilai kekhawatiran pasar bahwa Indonesia berpotensi terdegradasi menjadi frontier market masih berlebihan. Menurutnya, Indonesia tetap memiliki keunggulan dari sisi akses investor asing. Ia merujuk penilaian MSCI yang menempatkan Indonesia memperoleh skor tertinggi untuk akses kepemilikan asing, melampaui China dan India.

Ia menambahkan, reformasi transparansi pasar dinilai sudah mulai berjalan dan tercermin dalam proses penyesuaian indeks pada Mei lalu.

Pelaku pasar kini menantikan Annual Market Classification Review yang dijadwalkan diumumkan pada 23 Juni 2026. Pengumuman tersebut akan menjadi penentu status serta bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.