Selebriti Vietnam Ramai-ramai Umumkan Tes Narkoba, Pakar Soroti Krisis Kepercayaan di Era Media Sosial

Selebriti Vietnam Ramai-ramai Umumkan Tes Narkoba, Pakar Soroti Krisis Kepercayaan di Era Media Sosial

Gelombang selebriti Vietnam yang secara terbuka mengungkapkan hasil tes narkoba belakangan menjadi perbincangan luas. Fenomena ini muncul dari sejumlah kasus yang awalnya terkesan terisolasi, namun cepat berkembang menjadi topik hangat, mencerminkan tekanan yang kian besar terhadap figur publik di tengah laju media sosial.

Sejumlah nama seperti Ngoc Son, Tuan Hung, hingga Duy Manh secara beruntun membagikan hasil tes narkoba mereka kepada publik. Di sisi lain, aktris Viet Trinh memilih menolak mengikuti permintaan netizen untuk melakukan tes serupa, dengan alasan tidak ingin bertindak hanya karena tekanan media sosial.

Gelombang ini bermula ketika penyanyi Ngoc Son menyiarkan langsung proses tes narkoba yang dijalaninya di sebuah rumah sakit di Kota Ho Chi Minh. Ia mengatakan langkah itu diambil untuk merespons rumor daring yang menudingnya menggunakan zat terlarang. Setelah hasil tesnya dinyatakan negatif, Ngoc Son menegaskan bahwa ia ingin melindungi kehormatan pribadi dan citra yang dibangunnya selama bertahun-tahun. Ia juga menarik perhatian publik ketika menyatakan akan “memberikan seluruh kekayaannya” jika ada pihak yang dapat membuktikan ia menggunakan narkoba atau mengonsumsi alkohol.

Tak lama kemudian, penyanyi Tuan Hung mengunggah video tes narkoba yang ia lakukan di rumah. Dalam rekaman tersebut, ia menggunakan strip tes dan mengumumkan hasil negatif, yang menurutnya ditujukan untuk menghentikan rumor tak berdasar yang beredar di media sosial. Penyanyi Duy Manh juga membagikan gambar hasil tes narkobanya dan menyatakan siap menjalani pemeriksaan lebih mendalam bila diperlukan, demi mencegah informasi keliru memengaruhi kehidupan dan pekerjaannya.

Sementara itu, Viet Trinh merespons berbeda. Setelah sejumlah pengguna internet meminta dirinya menjalani tes narkoba sebagai bagian dari sebuah “tren”, ia menyatakan menolak melakukannya semata-mata karena desakan media sosial.

Pakar psikologi sekolah sekaligus konsultan pendidikan dan pengembangan manusia, Dr. Vu Viet Anh, menilai fenomena ini tidak lagi sekadar urusan pribadi sejumlah seniman. Menurutnya, hal itu mencerminkan perubahan dalam struktur kepercayaan sosial, psikologi massa, serta tekanan citra di era digital.

Dr. Vu Viet Anh menjelaskan, kabar terkait selebriti dan zat terlarang kerap menarik perhatian karena figur publik kini tidak hanya dipandang sebagai pelaku seni, tetapi juga “panutan sosial”. Setiap pernyataan, gambar, dan tindakan mereka dipantau ketat. Ketika seorang artis dicurigai terlibat zat perangsang, perhatian publik tidak hanya tertuju pada aspek hukum, melainkan juga pada rasa bahwa kepercayaan telah terguncang.

Ia menambahkan, publik sering menaruh ekspektasi moral yang lebih tinggi kepada selebriti, terutama mereka yang berpengaruh terhadap kaum muda. Situasi ini membuat isu tes narkoba cepat memicu perdebatan di media sosial.

Menurutnya, komunitas online saat ini juga memiliki mentalitas “suka menguraikan idola”, yang berkaitan dengan fenomena psikologis “efek runtuhnya citra”—ketika publik mengagumi sekaligus ingin mencari sisi tersembunyi di balik kemewahan selebriti. Dengan algoritma platform digital yang kerap memprioritaskan konten kontroversial atau emosional, isu “benar atau salah” mudah menyebar luas.

Dr. Vu Viet Anh menyebut masyarakat modern memasuki fase “krisis kepercayaan digital”. Dalam situasi maraknya berita palsu, konten manipulatif, dan media emosional, publik cenderung lebih skeptis. Akibatnya, ketika rumor muncul, banyak orang diyakini lebih dulu percaya lalu memverifikasi belakangan. Kondisi ini, menurutnya, hampir memaksa seniman untuk segera angkat bicara agar citra mereka tidak terlanjur rusak.

Dari sudut pandang sosio-psikologis, keputusan artis untuk proaktif menjalani tes dan mengumumkan hasilnya dipandang sebagai bentuk manajemen krisis citra. Para ahli menilai seniman kini tidak hanya berperan sebagai seniman, tetapi juga “merek hidup”. Rumor negatif yang belum terverifikasi pun dapat berdampak langsung pada kontrak iklan, pertunjukan, merek, hingga kepercayaan penonton. Dr. Vu Viet Anh menekankan bahwa dalam iklim media sosial yang bergerak cepat, bahkan beberapa jam diam dapat memicu spekulasi ke berbagai arah. Ia menyimpulkan, para seniman hidup di lingkungan di mana terkadang diam pun dianggap salah.

Pakar media Nguyen Ngoc Long menilai gelombang tes narkoba terbuka ini bukan “langkah maju” dunia hiburan, melainkan cerminan tekanan publik yang meningkat dan menurunnya kepercayaan antara publik dan selebriti. Ia menyoroti pergeseran situasi: jika dulu seseorang hanya perlu membuktikan ketidakbersalahan ketika diminta pihak berwenang, kini banyak artis merasa dicurigai sampai mereka menunjukkan bukti. Dalam konteks ini, hasil tes negatif dipandang bukan hanya transparansi, tetapi juga mekanisme perlindungan diri dari gelombang skeptisisme.

Nguyen Ngoc Long mengaku bersimpati pada seniman yang serius menjalani profesinya namun ikut terdampak akibat skandal zat terlarang yang melibatkan sebagian individu. Menurutnya, posisi artis kian pasif: diam memunculkan kecurigaan, sementara penjelasan bisa dianggap penghindaran. Akibatnya, mereka terpaksa menggunakan hasil tes medis sebagai pengganti penegasan karakter dan kepatuhan pada hukum, demi menghindari risiko diboikot, kehilangan kontrak, atau rusaknya citra yang dibangun bertahun-tahun.

Ia juga memperingatkan risiko terbentuknya preseden negatif. Jika satu artis melakukan tes untuk merespons rumor, artis lain bisa dituntut melakukan hal serupa setiap kali muncul kecurigaan di media sosial. Tekanan ini berpotensi mendorong normalisasi tuntutan agar seniman membuka kehidupan pribadi, termasuk data medis, untuk membuktikan ketidakbersalahan.

Selain itu, menurut Nguyen Ngoc Long, pengumuman hasil tes belum tentu mengakhiri kecurigaan. Sebagian netizen masih dapat mempertanyakan keaslian hasil, waktu pelaksanaan tes, atau terus berspekulasi. Ia menilai hal ini dapat memperpanjang siklus krisis media: alih-alih mereda, isu justru terus bergulir sebagai bahan diskusi. Ia menegaskan reputasi jangka panjang seharusnya bertumpu pada gaya hidup, karya seni, dan penghormatan terhadap hukum, bukan semata hasil tes saat krisis.

Menurut Nguyen Ngoc Long, tuntutan publik agar artis menjalani tes narkoba setelah setiap skandal mencerminkan kekecewaan dan hilangnya kepercayaan yang terakumulasi akibat berbagai insiden kontroversial. Ketika publik melihat terlalu banyak tokoh yang dulu dicintai terseret skandal, skeptisisme menguat dan kebutuhan akan bukti konkret meningkat.

Dr. Vu Viet Anh menambahkan, yang mengkhawatirkan bukan hanya satu insiden, melainkan risiko “normalisasi perilaku” akibat paparan berulang terhadap informasi negatif. Dalam psikologi media, paparan yang terus-menerus dapat menurunkan kewaspadaan sosial. Ia memperingatkan bahwa jika kaum muda menerima terlalu banyak informasi negatif tanpa bimbingan, sebagian bisa menganggap hal semacam itu wajar terjadi di industri hiburan. Ia juga menyoroti fenomena “penghakiman melalui media sosial”, ketika opini publik terlalu cepat menyimpulkan berdasarkan rumor, klip yang diedit, atau informasi yang belum terverifikasi, sehingga memicu pelecehan verbal dan kerugian serius bagi pihak terkait.

Menurut para ahli, situasi ini menunjukkan pentingnya membangun kembali budaya mengonsumsi informasi secara bijaksana. Masyarakat didorong untuk memverifikasi sebelum membagikan, seniman diingatkan akan tanggung jawab sosialnya, dan media diharapkan menjaga peran sebagai penuntun, bukan sekadar mengejar tren atau menekan demi angka penonton. Dr. Vu Viet Anh menutup dengan pandangan bahwa masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat tanpa skandal, melainkan masyarakat yang mampu memproses informasi secara rasional, manusiawi, dan bertanggung jawab.