Sejumlah akademisi, organisasi hak asasi manusia (HAM), dan pakar hukum internasional kian sering menyimpulkan bahwa tindakan Israel di Gaza memenuhi unsur-unsur genosida. Seiring menguatnya kesimpulan tersebut, muncul kembali perdebatan yang selama bertahun-tahun dianggap tabu: apakah Zionisme dapat dibandingkan dengan Nazisme.
Dalam sebuah artikel opini, penulis menyampaikan bahwa pertanyaan itu memiliki dimensi personal baginya. Ia menceritakan latar keluarganya—ayahnya melarikan diri dari Jerman Nazi saat berusia 15 tahun melalui program Kindertransport—serta pengalamannya tumbuh di lingkungan Zionis, aktif dalam gerakan pemuda Yahudi, mengikuti pendidikan di Yerusalem, tinggal di kibbutz, dan terlibat dalam kegiatan pendidikan Holocaust. Karena latar tersebut, ia menyebut menulis pandangan itu terasa bertentangan dengan keyakinan yang ia pegang sejak kecil.
Namun, ia menegaskan satu prinsip: slogan “Never Again” seharusnya berlaku bagi semua manusia, bukan hanya bagi orang Yahudi.
Konsensus yang disebut terus menguat
Penulis berpendapat semakin banyak pakar genosida yang menilai tindakan Israel terhadap warga Palestina memenuhi definisi genosida. Ia menyebut sejumlah nama akademisi yang kerap dikaitkan dengan kesimpulan tersebut, antara lain Dirk Moses, Melanie O’Brien, William Schabas, Martin Shaw, Iva Vukušić, Omer Bartov, Daniel Blatman, Amos Goldberg, dan Raz Segal.
Selain itu, ia menyebut organisasi HAM internasional seperti Amnesty International dan Human Rights Watch, serta berbagai institusi hukum dan akademik, sebagai pihak yang telah menerbitkan laporan yang mengarah pada kesimpulan serupa. Ia juga menyinggung mekanisme dan pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang, menurutnya, telah menyampaikan keprihatinan serius terkait tindakan Israel di Gaza.
Menurut penulis, daftar tersebut hanya sebagian kecil dari kelompok akademisi, aktivis HAM, dokter, pengacara, seniman, dan organisasi masyarakat sipil yang menilai bahwa kejahatan serius sedang berlangsung di Gaza.
Kritik terhadap Israel dan isu antisemitisme
Penulis menekankan bahwa banyak tokoh Yahudi berada di garis depan gerakan solidaritas Palestina. Karena itu, ia menyatakan kritik terhadap kebijakan Israel tidak dapat otomatis disamakan dengan antisemitisme. Ia menilai banyak orang Yahudi terlibat dalam kampanye menentang perang dan mendukung hak-hak warga Palestina berdasarkan pertimbangan moral, etika, dan kemanusiaan.
Ia juga mengkritik penggunaan tuduhan antisemitisme untuk membungkam kritik terhadap Israel. Dalam konteks itu, ia menyinggung definisi antisemitisme yang digunakan International Holocaust Remembrance Alliance (IHRA) yang, menurut sebagian kalangan, dapat dipakai untuk menganggap perbandingan Zionisme dan Nazisme sebagai bentuk antisemitisme. Penulis berpendapat bahwa penggunaan tuduhan antisemitisme untuk melindungi kebijakan negara dari kritik merupakan penyalahgunaan konsep tersebut.
Alasan perbandingan Zionisme dan Nazisme kembali muncul
Penulis menyebut perbandingan antara Zionisme dan Nazisme muncul karena sejumlah kesamaan yang ia lihat dalam praktik politik dan militer Israel. Ia merinci beberapa faktor yang menurutnya kerap menjadi dasar perbandingan tersebut, termasuk tuduhan genosida terhadap warga Palestina, adanya sistem yang dianggap memberi hak istimewa berdasarkan identitas etnis atau agama, penggunaan retorika dehumanisasi terhadap warga Palestina, dukungan publik yang signifikan terhadap operasi militer di Gaza, kecenderungan ekspansionisme wilayah, serta penggunaan propaganda politik yang dinilai menyerupai praktik negara-negara otoriter.
Ia menyatakan faktor-faktor itu membuat sebagian pengamat menganggap perbandingan dengan Nazisme layak didiskusikan, meski isu tersebut sangat sensitif dan memicu penolakan dari banyak pihak.
Klaim bahwa situasi saat ini dinilai “lebih buruk” pada aspek tertentu
Dalam bagian paling kontroversial, penulis bahkan berargumen bahwa dalam aspek tertentu, tindakan Israel saat ini dapat dianggap lebih buruk daripada pengalaman Jerman Nazi. Ia mendasarkan pandangan itu pada beberapa hal, seperti ketersediaan dokumentasi digital dan media sosial yang memungkinkan kekerasan disaksikan secara langsung, tingginya jumlah korban sipil termasuk perempuan dan anak-anak, dugaan penggunaan kelaparan sebagai instrumen perang, serta dukungan politik dan militer yang tetap diberikan negara-negara Barat kepada Israel.
Penulis mengakui pandangan itu menjadi subjek perdebatan luas dan ditolak oleh banyak pihak, namun ia menilainya sebagai konsekuensi dari fakta-fakta yang ia amati.
Pilihan politik, menurut penulis, bukan takdir sejarah
Penulis juga menyatakan perkembangan situasi saat ini bukan sesuatu yang tak terhindarkan. Ia berpendapat setelah serangan 7 Oktober 2023, Israel memiliki pilihan untuk membuka kembali jalan menuju penyelesaian politik, termasuk solusi dua negara. Namun, menurutnya, yang terjadi adalah pilihan untuk memperluas operasi militer yang kemudian memunculkan tuduhan genosida dan mengundang perbandingan dengan pengalaman sejarah lain, termasuk Nazisme.
Pengalaman di demonstrasi London
Penulis menceritakan pengalamannya menghadiri demonstrasi solidaritas Palestina di London pada Oktober 2023. Ia mengaku sempat khawatir akan menemukan sentimen antisemit dalam aksi tersebut. Namun, berdasarkan pengalamannya, ia justru menemukan banyak peserta Yahudi, termasuk penyintas Holocaust dan keturunan penyintas Holocaust.
Di salah satu demonstrasi, ia melihat poster bertuliskan “Zionism = Nazism”. Ia mengaku awalnya tidak nyaman dengan slogan itu, tetapi kemudian mulai mempertimbangkan bahwa Nazisme bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan ideologi dan proses politik yang bisa dibandingkan dengan fenomena lain jika terdapat kesamaan karakteristik.
Di akhir tulisannya, penulis merefleksikan pendidikan yang ia terima sejak kecil sebagai seorang Yahudi—pentingnya membaca, berdiskusi, berpikir kritis, serta membela kelompok yang tertindas. Menurutnya, tradisi intelektual tersebut semestinya membuka ruang bagi perdebatan, termasuk perdebatan yang sulit dan kontroversial mengenai Zionisme dan Nazisme. Ia menilai pelarangan atau pembungkaman diskusi semacam itu justru bertentangan dengan nilai-nilai intelektual yang selama ini diklaim sebagai bagian penting dari tradisi Yahudi.