Penutupan Penyeberangan Rafah disebut telah menghalangi ribuan warga Jalur Gaza menunaikan ibadah haji selama tiga musim berturut-turut sejak 2024 hingga 2026. Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mencatat lebih dari 10.000 warga Gaza tidak dapat berangkat pada periode tersebut. Dalam rentang lebih panjang, sejak sistem undian haji modern diberlakukan pada Maret 2013, sebanyak 71 calon jemaah yang telah dinyatakan lolos undian dilaporkan wafat selama masa perang sebelum sempat berangkat—sebagian akibat serangan udara, sebagian karena usia dan penyakit.
Kondisi ini muncul di tengah keterbatasan akses keluar-masuk Jalur Gaza. Wilayah tersebut tidak memiliki bandara internasional yang berfungsi setelah Bandara Yasser Arafat di Rafah dihancurkan pada Desember 2001 dan tidak dibangun kembali. Jalur laut Gaza juga diblokade, sementara perbatasan Erez di utara berada di bawah kendali Israel dan sejak Oktober 2023 praktis tertutup bagi mobilitas sipil. Dengan situasi itu, Rafah menjadi jalur darat utama yang selama bertahun-tahun digunakan warga Gaza untuk menuju Mesir, lalu melanjutkan perjalanan ke Bandara Internasional Kairo sebelum terbang ke Arab Saudi.
Namun pada Mei 2024, militer Israel melancarkan invasi darat ke Kegubernuran Rafah. Sisi Palestina dari Penyeberangan Rafah dikuasai, mengalami kerusakan fisik, dan ditutup. Sejak saat itu, dua juta penduduk Gaza disebut berada dalam kondisi pengepungan yang lebih ketat. Kantor Media Pemerintah Gaza pada awal 2026 melaporkan, ketika Rafah sempat dibuka secara sporadis, kuota harian dibatasi sekitar 150 orang keluar dan 50 orang masuk. Slot terbatas itu disebut terutama diprioritaskan untuk evakuasi medis darurat yang dikoordinasikan WHO dan Bulan Sabit Merah Palestina.
Di tingkat keluarga, dampak penutupan itu terekam dalam sejumlah kesaksian. Hanan al-Hams (65), yang termasuk dalam sekitar 3.000 calon jemaah Gaza yang dijadwalkan berangkat pada 2024, mengatakan perang membuatnya kehilangan putra dan rumah, sekaligus menggugurkan rencana hajinya yang telah ditunggu bertahun-tahun. Kesaksian lain datang dari Amna Abu Mutlaq (75) yang menyebut mereka “dirampas haji” karena penutupan perbatasan serta kehancuran akibat perang. Sementara itu, Kamelia al-Shafea menceritakan tas dan pakaian ihram ayahnya yang telah dipersiapkan untuk keberangkatan, tetapi tak pernah digunakan setelah ayahnya wafat beberapa minggu sebelum jadwal berangkat.
Seorang warga bernama Al Kahlout, yang mengaku telah lebih dari 20 tahun mengikuti undian haji dan terpilih pada 2024 untuk tahun kedua berturut-turut, mengatakan ia khawatir apakah dirinya dan sang istri masih akan cukup sehat, atau bahkan masih hidup, ketika akses kembali terbuka.
Penutupan akses ini juga berdampak pada sektor layanan haji dan umrah di Gaza. Studi peneliti Khaled Abu Amer yang diterbitkan Palestinian Center for Political Studies pada Mei 2026 mendokumentasikan kerugian ekonomi yang ditimbulkan. Menurut studi tersebut, sebelum perang sektor haji dan umrah menyuntikkan setidaknya 12 juta dolar AS per tahun ke ekonomi lokal dan menopang penghidupan lebih dari 1.500 pekerja. Studi itu menyebut 78 perusahaan perjalanan haji dan umrah berlisensi kolaps, lebih dari 4 juta dolar AS modal infrastruktur hilang, serta dana talangan sekitar 2–3 juta dolar AS tertahan di lembaga keuangan Arab Saudi dan Mesir tanpa kepastian.
Di sisi lain, upaya fasilitasi melalui program Arab Saudi juga menghadapi kendala akses. Disebutkan adanya alokasi 1.000 kursi tambahan dalam Program Tamu Haji Raja Salman bagi keluarga syuhada, korban luka, dan kerabat tahanan Palestina, termasuk dukungan transportasi dan akomodasi. Namun pada musim haji 2024, ketika operasi militer masih berlangsung di Rafah, kuota itu dilaporkan tidak dapat diisi oleh warga Gaza yang masih terjebak di dalam wilayah tersebut. Kursi kemudian dialokasikan kepada warga Gaza yang telah berada di luar Gaza, termasuk pengungsi di Mesir dan pasien evakuasi medis.
Di Gaza, kisah keterlambatan dan kegagalan berangkat haji juga tergambar dalam pengalaman pasangan Adnan Abu Foul dan Um Ibrahim. Mereka diceritakan menyaksikan siaran langsung tawaf dari Makkah melalui telepon genggam di tenda darurat di antara reruntuhan rumah mereka, sambil menangis karena merasa seharusnya mereka berada di sana.
Data Kementerian Wakaf Palestina mencatat, selama tiga musim haji terakhir, ribuan warga yang telah menunggu melalui mekanisme undian tetap tidak dapat berangkat karena akses keluar Gaza yang terputus. Sementara itu, angka 71 calon jemaah yang dilaporkan wafat sejak 2013 menjadi salah satu penanda dampak berkepanjangan dari situasi perang dan pembatasan pergerakan terhadap warga sipil yang telah memenuhi syarat keberangkatan.