Pemerintah Diminta Evaluasi Tata Ruang dan KLHS, Kajian Sebut Rehabilitasi Hutan Hulu Ciliwung Dapat Turunkan Debit Air

Pemerintah Diminta Evaluasi Tata Ruang dan KLHS, Kajian Sebut Rehabilitasi Hutan Hulu Ciliwung Dapat Turunkan Debit Air

Pemerintah pusat dan daerah diminta kembali mengevaluasi tata ruang wilayah serta Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) menyusul berbagai bencana yang terjadi di Indonesia. Permintaan itu disampaikan Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Nur Adi Wardoyo saat membacakan pidato Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dalam kegiatan penanaman pohon di Cisarua, Kabupaten Bogor, Kamis, 5 Februari 2026.

Salah satu bencana yang disoroti adalah banjir dan longsor di sepanjang aliran Sungai Ciliwung pada Maret dan Juli 2025. Meski tidak menimbulkan korban jiwa sebesar bencana yang terjadi di Cisarua, Bandung Barat, peristiwa tersebut dinilai tetap berdampak signifikan.

“Ini harus jadi pembelajaran bagi kita semua untuk menjaga lingkungan, khususnya daerah aliran sungai Ciliwung, terutama yang di bagian hulu,” kata Adi.

Kementerian Lingkungan Hidup, kata dia, telah melakukan kajian khusus di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung untuk mengidentifikasi faktor penyebab kondisi hidrologis serta menyusun alternatif pengendalian banjir dan pengendalian ekosistem.

Hasil kajian menunjukkan, pada kondisi eksisting terdapat sekitar 10,49 juta meter kubik volume air yang masuk ke Bendung Katulampa, Bogor. Volume tersebut disebut dapat berkurang hingga sekitar 53% apabila seluruh lahan terbuka dan pertanian dikonversi menjadi hutan.

Adi juga menyampaikan, jika seluruh tutupan lahan di hulu DAS Ciliwung dikembalikan menjadi hutan, debit air dari Puncak di Bendung Katulampa dapat turun hingga 65%. Sementara itu, penurunan debit air di Bendung Sukamahi dan Ciawi diperkirakan sekitar 62%.

Meski demikian, upaya tersebut masih memerlukan tambahan tampungan air sekitar 9,44 juta meter kubik. Menurut Adi, tampungan dapat dilakukan melalui pembangunan embung atau bendungan untuk menurunkan debit air dari Puncak di Katulampa hingga 90%.

Selain infrastruktur tampungan, penanaman pohon dan pemulihan tutupan lahan di wilayah hulu DAS Ciliwung disebut sebagai intervensi nyata berbasis ilmiah. Upaya tersebut dinilai mampu menurunkan risiko banjir dan longsor di DAS Ciliwung.

Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Bogor menargetkan rencana penanaman pohon pada tahap awal mencapai sekitar 220 hektare. Program ini menjadi bagian dari upaya pembangunan hutan kota dan penguatan kawasan resapan air di seluruh wilayah Kabupaten Bogor.

Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, dengan target penanaman sekitar 220 hektare pada tahap awal, Pemkab Bogor berharap penghijauan dapat berdampak pada perbaikan ekosistem, penguatan kawasan resapan air, serta pengurangan risiko bencana di masa mendatang.