Penulis Kemal Öztürk membuka tulisannya dengan sebuah ungkapan lama di Turki: “Semoga Tuhan tidak menguji siapa pun dengan kelaparan.” Ungkapan itu, menurutnya, lahir dari kesadaran bahwa kelaparan adalah ujian yang kejam—bukan hanya karena rasa lapar, melainkan karena ia dapat meruntuhkan nilai, prinsip, dan martabat manusia hingga tersisa naluri paling dasar untuk bertahan hidup.
Ungkapan tersebut kembali terlintas ketika ia melihat foto dari Gaza: seorang anak yang tampak tinggal tulang dan kulit memeluk ibunya, sementara tulang di wajah sang ibu pun terlihat menonjol. Ia menuliskan doa yang sama, namun menyatakan pikirannya tidak hanya tertuju pada anak dan ibunya, atau pada Israel. Ia justru mengarahkan sorotannya kepada dunia yang menyaksikan penderitaan itu, tetapi dinilai tetap bungkam.
Dalam tulisannya, Öztürk menilai dunia sedang menghadapi “ujian kelaparan” dan, sejauh ini, gagal. Ia menggambarkan kondisi Gaza sebagai wilayah yang kebutuhan paling dasar—makanan dan air—diputus dari penduduk yang terkepung. Ia menyebut pengepungan itu dilakukan secara sengaja oleh Israel, dan menilai diamnya komunitas global memperparah situasi.
Öztürk juga menyoroti pernyataan-pernyataan diplomatis yang menurutnya terdengar baik, seperti seruan agar bantuan segera dikirim ke Gaza. Namun ia mempertanyakan maknanya jika perbatasan tetap tertutup, bantuan tidak dapat masuk dengan aman, gencatan senjata tidak terjadi, dan kekerasan terus berlangsung. Dalam pandangannya, kalimat-kalimat tersebut berisiko menjadi sekadar retorika.
Ia menggambarkan orang-orang yang tewas karena kelaparan, serta mereka yang berusaha meraih bantuan seperti tepung namun disebutnya ditembaki. Gambaran tubuh anak-anak yang kurus hingga tulang-belulang tampak jelas digunakan untuk menegaskan bahwa krisis ini, dalam tulisannya, adalah ujian kemanusiaan paling mendasar.
Öztürk kemudian menempatkan persoalan ini dalam bingkai pertanggungjawaban moral. Ia menyatakan bahwa sejarah kelak akan mencatat bukan hanya penderitaan para korban, tetapi juga sikap dunia di luar Gaza. Ia menyebut negara-negara yang menutup pintu bantuan, tidak menjatuhkan sanksi, mengirim senjata, mendanai perang, memberi dukungan politik, atau memilih menutup mata, sebagai pihak yang menurutnya ikut memikul beban moral dan akan dicatat sebagai pendukung kejahatan.
Menurutnya, penilaian itu tidak bergantung pada agama, ras, mazhab, atau pilihan politik. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang gagal dalam “ujian kelaparan” ini akan dihakimi oleh generasi mendatang. Dalam analoginya, ia menyebut bagaimana Adolf Hitler dan para pendukungnya terus dikenang sebagai simbol kekejaman, lalu menyatakan nama Benjamin Netanyahu dan para pendukungnya akan menjadi catatan hitam sejarah manusia.
Di bagian akhir, Öztürk menulis bahwa foto-foto anak-anak Palestina yang kelaparan akan terus beredar dan menjadi pengingat tentang apa yang terjadi, termasuk siapa saja yang memilih diam. Ia menutup dengan pernyataan bahwa bukan hanya para pemimpin negara, tetapi juga warga biasa, akan memikul bagian dari rasa malu tersebut. Baginya, inilah wajah kegagalan dunia dalam ujian kelaparan—dan sejarah, ia menegaskan, tidak akan melupakannya.