Lebaran Tak Selalu Menyenangkan: Warganet Soroti Tekanan Sosial hingga Pilihan Bekerja saat Hari Raya

Lebaran Tak Selalu Menyenangkan: Warganet Soroti Tekanan Sosial hingga Pilihan Bekerja saat Hari Raya

Sebuah unggahan TikTok dari akun @arisvaraa (Arisvara Real Account) yang dipublikasikan pada 10 Maret 2026 memantik diskusi tentang pertanyaan yang dekat dengan pengalaman sebagian anak muda: “Benarkah tidak semua orang menyukai Lebaran?” Dalam video tersebut, Lebaran digambarkan tidak selalu hadir sebagai momen bahagia dan penuh kebersamaan, melainkan bisa menjadi periode yang memicu tekanan mental bagi sebagian orang.

Konten itu menampilkan fenomena sejumlah perawat yang disebut berebut jadwal kerja saat hari raya. Alasannya tidak semata terkait insentif yang lebih besar atau suasana rumah sakit yang cenderung lebih tenang, tetapi juga untuk menghindari situasi keluarga yang dirasa tidak nyaman. Dalam narasi video, Lebaran kerap dibayangi pertanyaan personal seperti “kapan nikah?” atau “kerja di mana?” yang bagi sebagian orang memicu kelelahan emosional. Dari pengalaman tersebut muncul ungkapan, “aku suka bulan suci Ramadan, tapi aku nggak suka Lebaran,” sebagai representasi kekecewaan terhadap momen yang seharusnya hangat namun terasa menguras emosi.

Untuk melihat bagaimana opini publik terbentuk, dilakukan analisis sederhana terhadap 40 komentar pada unggahan TikTok tersebut. Analisis ini berfokus pada dua hal: tanggapan publik terhadap perubahan makna Lebaran yang bagi sebagian orang menjadi sumber tekanan sosial, serta faktor yang mendorong sebagian orang memilih bekerja saat Lebaran dibanding berkumpul bersama keluarga.

Hasil pembacaan komentar menunjukkan dominasi respons yang sejalan dengan isi video. Dari 40 komentar yang dianalisis, 35 di antaranya bernada pro atau mendukung gagasan bahwa Lebaran tidak selalu menjadi momen yang menenangkan. Sejumlah warganet menilai suasana kumpul keluarga dapat berubah menjadi ajang mengukur pencapaian hidup, melalui pertanyaan tentang pekerjaan, pernikahan, anak, hingga target hidup yang terus diulang. Dalam konteks itu, sebagian komentar menyebut bekerja, menyendiri, atau menjaga jarak dari keramaian keluarga besar sebagai cara melindungi diri dari tekanan serupa.

Meski demikian, komentar kontra dan netral juga muncul, meski jumlahnya lebih sedikit. Beberapa warganet menekankan Lebaran sebagai momen suci yang seharusnya dirawat sebagai ruang silaturahmi dan tidak semestinya dihindari. Ada pula yang menyebut pengalaman Lebaran bergantung pada cara individu memahami anjuran agama, sementara lainnya memilih memanfaatkan cuti Lebaran untuk “healing” atau merespons komentar keluarga dengan sikap cuek. Di sisi lain, sejumlah komentar netral menyatakan tidak pernah mengalami tekanan seperti yang digambarkan dalam video.

Kehadiran respons yang berbeda ini menunjukkan pengalaman Lebaran tidak seragam dan dipengaruhi oleh relasi keluarga, situasi hidup, serta cara masing-masing orang memaknai tradisi. Namun, dominasi komentar yang mendukung memperlihatkan bahwa bagi sebagian warganet—terutama generasi muda—Lebaran dapat menjadi ruang yang menghadirkan kecemasan, kelelahan emosional, dan dorongan untuk menghindari situasi yang dianggap menekan.

Secara umum, pembacaan komentar dalam unggahan tersebut menggambarkan pergeseran cara sebagian orang memandang Lebaran: bukan hanya sebagai perayaan kebahagiaan dan silaturahmi, tetapi juga momen yang bisa memunculkan tekanan sosial. Pilihan bekerja saat Lebaran, menurut respons warganet, tidak hanya didorong faktor insentif atau kondisi kerja, melainkan juga upaya menghindari pertanyaan pribadi, perbandingan hidup, dan dinamika keluarga yang dirasa kurang empatik.