Kualitas Udara Jakarta Memburuk pada 19 Agustus 2025, Masuk 10 Kota Paling Tercemar di Dunia

Kualitas Udara Jakarta Memburuk pada 19 Agustus 2025, Masuk 10 Kota Paling Tercemar di Dunia

Jakarta mencatat kualitas udara yang buruk pada 19 Agustus 2025. Indeks Kualitas Udara (AQI) berada di angka 146, yang masuk kategori “tidak sehat bagi kelompok sensitif”. Dalam kondisi ini, anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit atau kondisi kesehatan tertentu disebut berisiko lebih tinggi terdampak polusi udara.

Pada pukul 03.30 PT di hari yang sama, Jakarta dilaporkan menjadi kota besar paling tercemar ke-3. Situasi tersebut turut menempatkan Jakarta dalam daftar 10 kota paling tercemar di dunia.

Sejumlah pakar kesehatan menyarankan warga membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker pelindung, serta menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi paparan polusi. Kondisi ini kembali menyoroti perlunya pengendalian polusi udara yang lebih ketat dan peningkatan kesadaran publik terkait risiko kesehatan.

Buruknya kualitas udara di Jakarta dikaitkan dengan beberapa faktor. Salah satunya adalah tingginya emisi tidak sehat dari kendaraan dan aktivitas industri, yang kerap lebih terasa pada musim kemarau. Selain itu, curah hujan yang terbatas selama musim kemarau di Indonesia—yang berlangsung dari Juni hingga Desember—dapat memperparah polusi karena partikel lebih mudah terakumulasi di atmosfer.

Faktor lain yang disebut berkontribusi adalah praktik pembakaran terbuka di wilayah sekitar serta episode kabut asap regional yang dapat meningkatkan konsentrasi partikulat. Gabungan sumber polusi tersebut, terutama ketika kondisi cuaca membatasi penyebaran polutan, berulang kali menempatkan Jakarta di antara kota-kota dengan tingkat pencemaran tertinggi.

Untuk mengurangi paparan saat kualitas udara memburuk, warga disarankan memantau peringatan dan prakiraan kualitas udara secara berkala, menutup pintu dan jendela, serta mengatur sistem ventilasi atau pendingin ruangan ke mode sirkulasi ulang. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker seperti KN95/FFP2 dapat membantu mengurangi paparan partikel. Warga juga dapat mempertimbangkan penggunaan pembersih udara berkinerja tinggi di dalam ruangan untuk menyaring partikel dan polutan.