Jakarta, kota metropolitan dengan populasi sekitar 10 juta jiwa, kerap digambarkan berada dalam kondisi “sesak napas” akibat kepadatan lalu lintas yang terus berulang. Kemacetan di ibu kota disebut bukan semata persoalan banyaknya kendaraan di jalan, melainkan terkait masalah perencanaan kota yang dinilai tidak berjalan efektif.
Sebuah kajian dari akun YouTube Behind Asia menyebut rata-rata warga Jakarta berpotensi menghabiskan hingga 10 tahun dari hidupnya dalam kemacetan. Pada jam sibuk, perjalanan sejauh 10 kilometer dapat memakan waktu hingga tiga jam karena setiap hari jutaan orang memadati jalanan.
Dalam deretan kota termacet, Jakarta disebut berada di bawah Daewoo, Bandung, Hanoi, Ho Chi Min, dan Manila. Kondisi lalu lintas juga digambarkan semakin buruk saat cuaca panas.
Kemacetan yang terjadi disebut sebagai akumulasi kebijakan yang keliru selama puluhan tahun. Masalah ini dinilai terbentuk melalui proses panjang yang dipengaruhi pertumbuhan kendaraan dan lonjakan penduduk, bukan terjadi dalam waktu singkat.
Selain dihuni sekitar 10,5 juta penduduk, Jakarta dikelilingi kawasan satelit—Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi—dengan jumlah penduduk hingga 30 juta orang. Mobilitas dari dan menuju wilayah penyangga membuat lalu lintas Jakarta pada hari kerja disebut dilalui sekitar 20 juta orang.
Di sisi lain, penggunaan transportasi publik masih terbatas. Disebutkan hanya 22 persen populasi memanfaatkan bus dan angkutan umum lainnya, sementara 78 persen bergantung pada kendaraan pribadi. Perbandingan kendaraan dengan penduduk disebut mencapai 2:1. “Konsekuensinya sangat tragis, masyarakat terjebak ratusan jam dalam kemacetan setiap tahun,” demikian disebut dalam kajian tersebut.
Saat kepadatan tinggi, kecepatan kendaraan di arteri utama disebut hanya berkisar 10–50 km/jam, sehingga menghabiskan bahan bakar dan waktu. Kerugian ekonomi akibat kemacetan disebut mencapai 5 miliar dolar AS per tahun atau sekitar Rp84,15 triliun, mencakup pemborosan BBM, hilangnya produktivitas, serta gangguan kesehatan.
Lalu lintas juga disebut menjadi sumber utama polusi udara di Jakarta. Sekitar 70 persen emisi karbon berasal dari asap kendaraan, sementara kualitas udara Jakarta disebut berada pada urutan ketujuh terburuk di dunia. Dampaknya dinilai tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga pada hilangnya waktu yang seharusnya bisa digunakan bersama keluarga.
Kajian itu menyimpulkan, kombinasi ketersediaan jalan, keterbatasan transportasi massal, dan ledakan penduduk menciptakan “badai” kemacetan. Survei Castrol melalui Indeks Berhenti-Jalan Magnatec 2014 juga menyebut Jakarta memiliki kemacetan lalu lintas terburuk di dunia. Mengacu pada laporan yang dikutip dari Smart Cities Dive, pengemudi di Jakarta tercatat mengalami 33.240 kali berhenti-mulai setiap tahun, atau menghabiskan 27,22 persen dari total waktu perjalanan dalam kondisi berhenti tanpa mencapai tujuan.
Pengamat Transportasi dan Tata Kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menyatakan pesimistis kemacetan dapat diselesaikan. Menurutnya, faktor utama kemacetan selama ini disebabkan kesalahan struktur tata ruang yang dilakukan pemerintah, baik pusat maupun daerah.

