Nama Ida Dayak belakangan menjadi perhatian publik karena praktik pengobatan alternatif yang ia lakukan di berbagai tempat terbuka. Ia dikenal tampil dengan atribut budaya Dayak dan melayani pasien tanpa memungut biaya. Pengobatan dilakukan secara sederhana melalui pijatan menggunakan minyak berwarna merah yang disebut minyak Bintang, disertai doa-doa dan tarian kecil khas Dayak.
Dalam praktiknya, Ida Dayak disebut melayani siapa pun tanpa membedakan agama, suku, maupun kepercayaan. Suasana pengobatan juga digambarkan komunikatif dan terbuka, karena dilakukan di ruang publik seperti pasar, halaman rumah, atau tanah lapang. Masyarakat yang datang diperbolehkan menyaksikan, memotret, hingga merekam video.
Pendekatan yang dinilai humanis itu menjadi salah satu alasan banyak orang berdatangan. Dalam narasi yang beredar, Ida Dayak kerap dikaitkan dengan kemampuan membantu berbagai keluhan kesehatan, terutama kelainan tulang, dengan hasil yang disebut terjadi dalam waktu singkat. Sejumlah keluarga pasien bahkan diceritakan menangis terharu setelah melihat perubahan kondisi anggota keluarganya.
Fenomena ini turut menarik perhatian sejumlah tokoh publik. Beberapa nama yang disebut pernah memuji atau memanfaatkan jasanya antara lain Hendropriyono, Guruh Soekarnoputra, dan Ali Mukhtar Ngabalin. Mantan Menteri Kesehatan Fadhilah Supari juga, menurut pengakuannya dalam salah satu acara televisi, mengaku sempat meneteskan air mata setelah melihat pemberitaan tentang kebahagiaan masyarakat yang merasa terbantu oleh Ida Dayak.
Di sisi lain, kemunculan Ida Dayak juga memunculkan kritik. Sebagian pihak menuduh praktik tersebut sebagai perdukunan, sementara yang lain menyamakannya dengan fenomena Ponari di Jombang, Jawa Timur, beberapa tahun lalu, yang kala itu dipercaya dapat mengobati berbagai penyakit dengan batu yang dianggap ajaib. Perdebatan pun berkembang, termasuk dari kalangan yang menekankan prinsip keilmuan medis modern.
Kontroversi tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih luas: bagaimana Islam memandang sains medis dan kemunculan praktik pengobatan alternatif seperti yang dilakukan Ida Dayak. Dalam uraian yang beredar, Islam disebut memiliki tradisi kuat dalam mendukung pendekatan keilmuan dan logis, termasuk di bidang kedokteran.
Sejarah mencatat sejumlah ilmuwan Muslim yang berkontribusi besar pada dunia medis. Di antaranya Ibnu Sina, yang karya-karyanya seperti Kitab Al-Syifa dan al-Qanun fi al-Thibb disebut pernah menjadi rujukan kedokteran di Barat selama berabad-abad. Selain itu, ada Abu al-Hasan Ali bin Sahl Rabban al-Thabari dengan karya Firdaus al-Hikmah, serta Al-Razi (Abu Bakr Muhammad bin Zakariyya al-Razi) yang dikenal di Barat sebagai Rhazes dan disebut sebagai salah satu dokter Muslim terbesar dan ilmuwan paling produktif pada masanya.
Namun, selain pendekatan ilmiah, tradisi Islam juga mengenal pengobatan melalui pendekatan spiritual. Keduanya dipandang dapat saling melengkapi. Dalam uraian tersebut, penyakit fisik disebut dapat dipengaruhi faktor psikologis dan spiritual. Contohnya, stres disebut dapat memicu keluhan fisik seperti sakit perut, dan stres kronis dapat melemahkan tubuh dari waktu ke waktu. Emosi negatif seperti kemarahan juga disebut dapat memicu masalah kesehatan.
Dalam tradisi sufi, pengobatan dipaparkan sebagai pendekatan holistik yang mencakup aspek pengamatan dan eksperimen, penjelasan, logika, hingga intuisi. Dengan cara pandang ini, penyakit fisik tidak semata dilihat dari sisi medis-empiris, tetapi juga dari dimensi spiritual karena manusia dipahami sebagai makhluk ruhani.
Alquran dalam uraian tersebut juga disebut sebagai asy-Syifa atau penyembuh, baik lahir maupun batin, merujuk pada ayat: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman” (QS Yunus: 57). Selain itu, dikutip pula riwayat dari Aisyah bahwa Nabi Muhammad SAW mengobati sebagian keluarganya dengan mengusap menggunakan tangan kanan seraya berdoa, sebagaimana diriwayatkan dalam HR Bukhari.
Berdasarkan rangkaian pandangan tersebut, fenomena Ida Dayak ditempatkan sebagai bagian dari praktik pengobatan alternatif yang telah lama dikenal di masyarakat. Meski dinilai sebagian pihak dapat “merusak” sistem keilmuan medis, praktik pengobatan alternatif disebut tidak dilarang selama tidak mengandung unsur penipuan dan tidak merugikan masyarakat.
Pada akhirnya, pilihan metode pengobatan kembali kepada masyarakat, selama diyakini membantu dan tidak mengganggu tatanan sosial. Dalam perspektif yang disampaikan, dokter maupun terapis alternatif dipandang sebagai perantara, sementara kesembuhan hakiki disebut berasal dari Allah SWT.