CEO Bitget Soroti Risiko Struktural Usai Token Mantra Anjlok, Bahas Copy Trading dan Standar Transparansi

CEO Bitget Soroti Risiko Struktural Usai Token Mantra Anjlok, Bahas Copy Trading dan Standar Transparansi

CEO Bitget Gracy Chen menilai keruntuhan token Mantra (OM) menjadi pengingat keras atas risiko struktural di industri kripto, mulai dari likuiditas yang buruk hingga mekanisme likuidasi yang agresif. Dalam wawancara eksklusif dengan FXStreet, Chen membahas dampak penurunan tajam OM pada 13 April 2025, ketika token tersebut dilaporkan merosot sekitar 90% dan menghapus miliaran nilai pasar dalam hitungan jam.

Pada periode likuiditas yang tipis, OM disebut jatuh dari level tertinggi di atas US$6,00 menjadi sekitar US$0,35. Salah satu pendiri sekaligus CEO Mantra, John Patrick Mullin, menyatakan keruntuhan itu sebagian besar dipicu oleh “penutupan paksa sembrono” yang dilakukan bursa terpusat (CEX) terhadap pemegang akun OM.

Menanggapi klaim tersebut, Chen mengatakan insiden Mantra menyoroti celah yang melintasi seluruh industri. Ia menyebut sejumlah faktor yang dapat memperburuk tekanan pasar, termasuk “likuiditas yang buruk, perilaku pembuat pasar yang tidak transparan, dan mekanisme likuidasi agresif” yang dampaknya paling terasa pada jam-jam dengan likuiditas rendah.

Chen menambahkan, Bitget menggunakan kejadian serupa untuk memperketat aturan internal. Ia menyebut perusahaan baru-baru ini meluncurkan Kerangka Kerja Integritas Pasar dan Akuntabilitas Token yang ditingkatkan, yang mencakup standar lebih ketat bagi proyek dan pembuat pasar, analisis risiko spot yang lebih mendalam, jalur eskalasi yang lebih cepat, serta proses yang lebih jelas untuk menandai atau melaporkan situasi berisiko tinggi.

Selain membahas dinamika pasar, Chen juga menyoroti risiko pada fitur sosial seperti copy trading yang kian populer di berbagai bursa. Menurutnya, data on-chain dapat membantu memantau pergerakan dompet, tekanan likuiditas, dan aliran yang tidak biasa, tetapi tidak otomatis mencegah slippage atau keterlambatan keluar posisi ketika banyak pengikut mengeksekusi transaksi yang sama dalam waktu bersamaan.

Ia menyebut tantangan utama copy trading sebagai “risiko kerumunan”, yaitu saat banyak pengguna bereaksi terhadap sinyal yang sama sehingga membebani eksekusi dan memperlebar spread. Chen mengatakan Bitget memperlakukan copy trading sebagai produk dengan manajemen risiko. Dalam skema yang dijelaskan, pengikut menggunakan sub-akun khusus atau akun CFD yang terhubung dengan MT5, serta dapat mengatur batas ukuran posisi, batas pembagian keuntungan, dan level stop-loss agar tidak meniru eksposur pedagang utama secara membabi buta.

Seiring pasar kripto berkembang melampaui spot dan derivatif, Bitget juga memperluas produk, termasuk copy trading, dompet terdesentralisasi, saham tokenisasi, dan launchpad. Dalam konteks platform yang menawarkan banyak layanan, Chen menyoroti pentingnya tata kelola data untuk mencegah keunggulan informasi struktural.

Menurutnya, Bitget menerapkan pemisahan internal yang ketat dan kontrol akses bertingkat atas data. Ia mengatakan perilaku perdagangan, analitik aliran order, dan sinyal tingkat pengguna disegmentasi sehingga tidak ada lini produk yang bisa langsung mengambil keuntungan dari pandangan istimewa produk lain. Chen menambahkan, tata kelola penggunaan data bersifat terpusat dan analitik lintas produk harus melewati aturan yang telah ditentukan serta dapat diaudit.

Chen juga menyinggung perubahan komposisi pengguna Bitget yang disebut bergeser dari mayoritas ritel menjadi sekitar 50/50 antara ritel dan institusional dalam setahun terakhir. Ia menyatakan pergeseran tersebut memperdalam buku order, memperketat spread, dan meningkatkan stabilitas harga dalam kondisi normal, yang pada gilirannya menurunkan slippage rata-rata bagi pedagang ritel.

Meski demikian, ia menegaskan platform tetap dioptimalkan untuk kesederhanaan dan batas risiko yang jelas. Chen mengatakan Bitget menjaga antarmuka tetap sederhana, menempatkan pengungkapan risiko pada titik yang mudah terlihat pengguna, serta memastikan alat canggih—seperti copy trading, kontrak berjangka, dan pengaturan berbasis AI—tidak “diam-diam” mendorong pengguna ritel ke eksposur yang tidak sepenuhnya dipahami.

Di sisi transparansi, Chen menilai bukti cadangan (proof of reserves/PoR) masih menjadi pilar penting bagi bursa terpusat untuk menunjukkan dukungan aset terhadap simpanan pengguna, umumnya dengan target dukungan 1:1 atau lebih tinggi. Namun, ia mengakui PoR kerap memunculkan masalah ketika hanya menampilkan aset tanpa kewajiban, sehingga tidak memberikan gambaran neraca secara penuh.

Menanggapi data PoR Bitget Februari 2026 yang menunjukkan rasio cadangan BTC 352% dan rasio cadangan total 169%, Chen menyatakan PoR saja memang tidak mencakup kewajiban. Ia menilai celah itu menjadi alasan industri perlu bergerak menuju standar proof-of-solvency yang lebih kuat.

Chen mengatakan pihaknya mendorong peningkatan pelaporan dan transparansi di industri, termasuk pengungkapan yang lebih jelas mengenai struktur pendanaan, cara kewajiban dikelola, serta bagaimana berbagai produk didukung di seluruh neraca. Ia menyebut kerangka PoR Bitget saat ini digunakan sebagai fondasi dan akan terus ditingkatkan sejalan dengan ekspektasi yang lebih luas.

Menurut Chen, keruntuhan Mantra—meski menjadi kerugian bagi banyak pihak—dapat menjadi titik balik yang mendorong evaluasi lebih dalam di industri kripto. Ia menekankan pentingnya memprioritaskan transparansi, meningkatkan keamanan platform, dan memperkuat perlindungan bagi seluruh pengguna, baik institusi maupun ritel.