Jakarta — Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, Indonesia dinilai tetap memiliki daya tarik sebagai tujuan investasi jangka panjang. Fundamental ekonomi yang solid, besarnya pasar domestik, serta reformasi transparansi di pasar modal disebut menjadi faktor yang menopang kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan kondisi pasar saat ini perlu dipandang secara menyeluruh dengan mempertimbangkan fundamental ekonomi nasional, kinerja perusahaan tercatat, serta berbagai reformasi yang tengah dijalankan regulator dan Self-Regulatory Organizations (SRO).
“Berbagai langkah reformasi yang dilakukan regulator dan SRO merupakan bagian dari komitmen untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang semakin kredibel,” kata Jeffrey dalam keterangannya, Jumat, 10 Juli 2026.
Ia menambahkan, dengan fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat, BEI optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang.
Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dinilai memiliki keunggulan struktural yang dapat menjadi motor pertumbuhan jangka panjang. Dengan jumlah penduduk lebih dari 284,4 juta jiwa, bonus demografi, serta kekayaan sumber daya alam strategis seperti nikel, tembaga, emas, gas alam cair (LNG), dan minyak kelapa sawit, Indonesia disebut memiliki peran penting dalam rantai pasok global. Di tingkat internasional, Indonesia juga aktif sebagai anggota G20, BRICS, dan salah satu pendiri ASEAN.
Dari sisi kinerja ekonomi, Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Pada kuartal I-2026, ekonomi tumbuh 5,61 persen, didorong konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, belanja pemerintah yang terjaga, serta peningkatan aktivitas investasi.
Sejumlah indikator makroekonomi juga disebut mencerminkan kondisi yang positif, antara lain aktivitas manufaktur yang masih berada di zona ekspansif, surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan, serta realisasi investasi yang terus meningkat.
Kondisi tersebut turut menopang pasar modal Indonesia. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa kali mengalami koreksi sepanjang 2026, aktivitas perdagangan di BEI dinilai tetap menunjukkan ketahanan. Aktivitas investor pun disebut tetap terjaga di tengah volatilitas pasar global.