Analisis Percakapan Warganet Usai Debat Pilgub DK Jakarta: Pramono Dominan, Sentimen RK Paling Terbelah

Analisis Percakapan Warganet Usai Debat Pilgub DK Jakarta: Pramono Dominan, Sentimen RK Paling Terbelah

Percakapan warganet dan pemberitaan media online terkait debat Pilgub DK Jakarta pada 6 Oktober 2024 ramai diperbincangkan di berbagai platform. Analisis percakapan digital pada periode 6 Oktober 2024 pukul 19.00 WIB hingga 11 Oktober 2024 pukul 23.59 WIB menunjukkan perbedaan tingkat keterbincangan, sentimen, hingga narasi yang paling banyak dibagikan untuk tiga kandidat: Pramono Anung, Ridwan Kamil, dan Dharma Pongrekun.

Data analisis dihimpun dari media online serta sejumlah platform media sosial, meliputi Twitter, Instagram, Facebook, YouTube, dan TikTok. Dalam rentang waktu tersebut, tercatat total 51.490 penyebutan (mentions) yang menjadi dasar pengukuran pangsa percakapan (share of voice), tren, serta sentimen publik.

Dari sisi share of voice, Pramono Anung menjadi kandidat yang paling banyak dibicarakan dengan porsi 47%. Ridwan Kamil menyusul dengan 43%, sementara Dharma Pongrekun berada di angka 10%. Jika dilihat dari jumlah penyebutan, Ridwan Kamil dan Pramono sama-sama disebut lebih dari 20 ribu kali, sedangkan Dharma sekitar 5 ribu kali.

Analisis juga memetakan posisi popularitas dan tingkat kesukaan. Pramono tercatat sebagai kandidat paling populer sekaligus paling disukai. Sebaliknya, Ridwan Kamil disebut sebagai kandidat paling tidak disukai, sementara Dharma menjadi kandidat paling tidak populer.

Dalam perbandingan tren percakapan, pembicaraan tentang Pramono bersifat fluktuatif sepanjang periode pengamatan. Sementara itu, percakapan mengenai Ridwan Kamil dan Dharma cenderung menurun.

Pengukuran sentimen menunjukkan Pramono memiliki sentimen positif tertinggi, yakni 94%, dengan sentimen negatif 5%. Ridwan Kamil memiliki sentimen positif 51% dan negatif 35%. Adapun Dharma mencatat sentimen positif 43% dan negatif 10%.

Rincian opini publik terhadap Ridwan Kamil memperlihatkan sisi positif yang menonjol berupa penilaian berkomitmen, berpengalaman, dinilai berhasil menyampaikan gagasan, dan inovatif. Namun, opini negatif yang muncul antara lain menyebut gagal memimpin Jawa Barat, gagasan dianggap tidak realistis, dinilai tidak inklusif, disebut tidak mampu menangani persoalan DK Jakarta, serta dianggap lebih fokus pada pencitraan di media sosial.

Untuk Dharma, opini positif yang muncul antara lain ide yang diapresiasi, pandangan kritis yang menarik dukungan, dinilai berkomitmen, dan berani. Di sisi lain, opini negatif yang berkembang mencakup penilaian public speaking kurang, teori konspirasi yang dinilai tidak berdasar, dianggap tidak inovatif, memunculkan sikap skeptis, serta dinilai tidak serius sebagai calon gubernur.

Sementara terhadap Pramono, opini positif yang muncul meliputi dukungan yang kuat, gagasan yang dinilai realistis dan berbasis data, kepedulian pada rakyat, serta pemikiran jangka panjang. Adapun opini negatif yang tercatat mencakup anggapan ide tidak orisinal, visi kurang jelas, terlalu optimistis, dinilai belum cukup responsif, serta munculnya kekhawatiran mengenai tantangan stabilitas politik jika terpilih.

Kata kunci yang dominan dalam percakapan juga berbeda untuk masing-masing kandidat. Untuk Ridwan Kamil, kata kunci yang menonjol antara lain “@ridwankamil”, “Jakarta”, “Jabar”, “Barat”, dan “@pak_suswono”. Untuk Dharma, kata kunci yang sering muncul meliputi “AI”, “alias”, “intelijen”, “artificial”, dan “mata-mata”. Sedangkan untuk Pramono, kata kunci yang dominan antara lain “Jakarta”, “Anung”, “Doel”, “Bang”, dan “Karno”.

Dalam pemetaan persepsi, sejumlah kata yang dilekatkan pada Ridwan Kamil antara lain “unggul”, “solutif”, “menang”, “layak”, “disgusting”, “bobotoh”, “gagal”, dan “persija”. Untuk Dharma, kata-kata yang muncul antara lain “berani”, “menang”, “brilian”, “didoakan”, “realistis”, “kalah”, “konspiratif”, “keok”, “catut KTP”, dan “skizo”. Sementara untuk Pramono, persepsi yang muncul mencakup “unggul”, “optimis”, “menang”, “didukung”, “pemimpin”, serta “korupsi e-KTP”.

Peta percakapan media sosial memperlihatkan dominasi beberapa klaster utama, yakni kelompok pro Ridwan Kamil–Suswono, pro Pramono–Rano, kontra Ridwan Kamil–Suswono, serta kontra Pramono–Rano. Dalam analisis jejaring (SNA), kelompok pro Ridwan Kamil–Suswono cenderung menekankan harapan agar debat bermanfaat dan menjadi ajang promosi pasangan calon. Kelompok pro Pramono–Rano mendorong warga memilih Pramono, meyakini kemenangan satu putaran, serta menyindir calon lain. Sementara itu, kelompok kontra Ridwan Kamil–Suswono banyak mengkritik pemahaman dan kampanye AI. Kelompok kontra Pramono–Rano menyoroti isu korupsi yang dikaitkan dengan Pramono serta menyindir pola pikirnya.

Untuk dimensi emosi, percakapan terkait ketiga kandidat—Ridwan Kamil, Dharma, dan Pramono—didominasi emosi Joy dan Trust.

Dari sisi topik yang dibahas, ketiga kandidat sama-sama cenderung lebih fokus pada tema penguatan sumber daya manusia (SDM) dalam konteks debat. Pada Ridwan Kamil, topik penguatan SDM mencakup pendidikan, tenaga kerja, kesehatan, dana bantuan, produktivitas, dan pengalaman kerja. Untuk tema transformasi Jakarta, pembahasannya meliputi transportasi, bisnis, kemacetan, kualitas hidup dan kesehatan, pariwisata, lingkungan hidup, serta penanganan banjir.

Pada Dharma, topik penguatan SDM meliputi pendidikan, tenaga kerja, kesehatan, pajak, UMKM, serta program integrasi kebutuhan warga. Sementara tema transformasi Jakarta mencakup ekonomi, transportasi, budaya, penanganan banjir, keadilan sosial, serta akses teknologi.

Pada Pramono, topik penguatan SDM mencakup kesejahteraan guru, tenaga kerja, keterampilan masyarakat, keamanan, dan ekonomi kreatif. Untuk transformasi Jakarta, topik yang muncul antara lain kota global, transportasi, kualitas hidup, bantuan sosial, serta transportasi laut.

Di Twitter, narasi yang paling banyak dibagikan tentang Ridwan Kamil mencakup sindiran dan ketidakpuasan, penyebutan bahwa ia gagal memimpin Jawa Barat, serta promosi visi-misi. Narasi berikutnya berisi sindiran terkait kampanye, sindiran terhadap istri Ridwan Kamil, serta isu utang Jawa Barat saat ia menjabat gubernur. Narasi lain yang banyak dibagikan mencakup promosi visi-misi, pembahasan transportasi, serta sindiran terhadap paslon RIDO.

Untuk Dharma di Twitter, narasi teratas yang banyak dibagikan memuat teori konspirasi, survei setelah debat, penyebutan Dharma sebagai pasangan calon “paling waras”, serta kebingungan soal ibu kota Indonesia. Narasi berikutnya mencakup sindiran isu “fufufafa”, penilaian ide Dharma yang dianggap brilian, isu tata kota, serta survei pascadebat. Narasi lain memuat kasus catut KTP, survei setelah debat, dan jawaban ketiga pasangan calon soal transum.

Sementara untuk Pramono di Twitter, narasi teratas yang banyak dibagikan menyinggung kasus korupsi e-KTP, ajakan memilih “Pramdoel”, doa agar menang satu putaran, serta sindiran terhadap Pramono. Narasi berikutnya berisi dukungan kepada Pramono, sindiran pendukung Pramono terhadap Ridwan Kamil, serta doa kemenangan. Narasi lain yang banyak dibagikan mencakup kampanye digital Pramono, kehadiran Pramono pada acara Maulid Nabi, dan kunjungan menyapa warga.

Di Instagram, konten paling banyak dibagikan tentang Ridwan Kamil berupa kilas balik debat, rangkuman janji ketiga pasangan calon, serta solusi yang ditawarkan. Untuk Dharma, unggahan yang banyak dibagikan berisi janji Dharma, ulasan performa ketiga pasangan calon saat debat, dan kilas balik debat. Sementara untuk Pramono, unggahan yang dominan berupa dukungan kepada Pramono, kilas balik debat, serta kunjungan Pramono ke loyalis Anies.

Di Facebook, unggahan yang paling sering dibagikan tentang Ridwan Kamil mencakup dukungan untuknya, pertanyaan kepada Dharma, serta survei elektabilitas setelah debat. Untuk Dharma, unggahan yang menonjol memuat konspirasi soal pandemi Covid-19 dan AI, serta doa untuk Pram. Sementara untuk Pramono, unggahan dominan berisi dukungan, survei elektabilitas, dan kampanye janji.

Di YouTube, video yang paling banyak dibagikan untuk ketiga kandidat sama-sama bertema adu gagasan ketiga calon. Di TikTok, video paling banyak dibagikan tentang Ridwan Kamil dan Pramono berupa kilas balik pelaksanaan debat, sedangkan untuk Dharma berupa cuplikan tanggapan terhadap pertanyaan tentang konspirasi saat debat.

Untuk pemberitaan media online, peta topik yang paling banyak dibahas terkait Ridwan Kamil—di luar pembahasan tentang sosok dan lawan politiknya—mencakup partai buruh, PHK, kemacetan, dan WFH. Pada Dharma, topik yang menonjol meliputi pandemi, Betawi, CCTV, AI, Gibran, dan Gen Z. Sementara pada Pramono, topik yang ramai mencakup Gen Z, CCTV, transformasi Jakarta, Benyamin Sueb, PHK, dan TNI.

Secara umum, analisis ini menggambarkan bahwa percakapan pascadebat tidak hanya dipengaruhi oleh paparan gagasan dalam debat, tetapi juga oleh narasi yang beredar di tiap platform, klaster pendukung maupun penentang, serta isu-isu spesifik yang melekat pada masing-masing kandidat.