Provinsi Gorontalo dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia dengan potensi perikanan yang besar. Perairannya yang berada di kawasan Teluk Tomini dan Laut Sulawesi menjadi habitat berbagai jenis ikan bernilai ekonomi tinggi, seperti tuna, cakalang, layang (tongkol), dan oci.
Di tengah potensi tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah pemanfaatan sumber daya ikan di Gorontalo sudah dilakukan secara berkelanjutan? Untuk menjawabnya, dilakukan analisis menggunakan konsep Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Maximum Economic Yield (MEY) dalam melihat kondisi perikanan Gorontalo dalam tiga tahun terakhir.
MSY atau Maximum Sustainable Yield merujuk pada jumlah tangkapan ikan maksimum yang masih dapat dilakukan secara terus-menerus tanpa merusak kemampuan ikan untuk berkembang biak dan memulihkan populasinya. Dengan kata lain, MSY digunakan untuk menentukan batas aman penangkapan agar stok ikan tetap lestari untuk generasi mendatang.
Sementara itu, MEY atau Maximum Economic Yield menekankan aspek ekonomi dalam pengelolaan perikanan. Berbeda dengan MSY yang berfokus pada sisi biologis, MEY bertujuan memperoleh keuntungan ekonomi terbesar dengan tetap menjaga keberlanjutan sumber daya ikan.
Dalam praktiknya, tingkat penangkapan pada kondisi MEY biasanya lebih rendah dibandingkan MSY. Hal ini karena MEY turut memperhitungkan biaya operasional nelayan, seperti bahan bakar, tenaga kerja, dan alat tangkap, sehingga penangkapan dioptimalkan tidak hanya untuk jumlah hasil, tetapi juga untuk efisiensi dan keuntungan.
Melalui pendekatan MSY dan MEY, analisis perikanan di Gorontalo diarahkan untuk menilai apakah tingkat penangkapan saat ini berada dalam batas aman secara biologis sekaligus menguntungkan secara ekonomi. Kerangka ini menjadi salah satu rujukan dalam menakar keberlanjutan pemanfaatan sumber daya ikan di wilayah perairan Gorontalo.