Ahli Tata Kota ITB: Pohon dan Ruang Hijau Penting untuk Ketahanan Cekungan Bandung

Ahli Tata Kota ITB: Pohon dan Ruang Hijau Penting untuk Ketahanan Cekungan Bandung

Di tengah kawasan Bandung yang kian padat, keberadaan pohon di tepi jalan, taman, halaman rumah, hingga bantaran sungai dinilai memiliki fungsi yang melampaui aspek estetika. Bagi wilayah yang berada dalam bentang Cekungan Bandung, pohon dan ruang hijau disebut sebagai bagian dari “infrastruktur alami” yang membantu kawasan perkotaan menghadapi suhu yang meningkat, limpasan air hujan, serta penurunan kualitas lingkungan.

Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D., mengatakan pembangunan perkotaan perlu memandang vegetasi sebagai elemen penting dalam sistem kehidupan kota. Menurutnya, ketika kawasan yang sebelumnya tertutup vegetasi berubah menjadi bangunan, jalan, dan permukaan beton, kemampuan lingkungan untuk menyerap air dan menahan panas ikut menurun.

“Dalam kondisi tersebut, kawasan perkotaan menjadi lebih rentan mengalami urban heat island atau pulau panas perkotaan,” kata Ridwan. Ia menegaskan, menanam dan mempertahankan pohon bukan sekadar urusan estetika karena berkaitan langsung dengan kenyamanan dan ketahanan kawasan perkotaan di Bandung.

Ridwan menjelaskan, persoalan lingkungan di Bandung tidak dapat dilepaskan dari karakter wilayahnya sebagai bagian dari Cekungan Bandung. Topografi berbentuk cekungan membuat aliran air dari kawasan yang lebih tinggi, termasuk Bandung bagian utara dan wilayah sekitarnya, bergerak menuju wilayah yang lebih rendah. Ketika lahan semakin banyak tertutup beton dan daya serap berkurang, limpasan permukaan meningkat dan berpotensi memperbesar risiko genangan.

Dalam konteks itu, pohon, taman kota, tanah terbuka, dan kawasan bervegetasi berperan memberi kesempatan air hujan meresap kembali ke dalam tanah. Ridwan menekankan, manfaat mempertahankan pohon atau menjaga kawasan hijau tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi, tetapi juga ikut menjaga fungsi ekologis Cekungan Bandung dalam skala lebih luas.

Karena saling terhubung, ia menilai penyelesaian persoalan lingkungan tidak bisa hanya dibatasi oleh wilayah administratif Kota Bandung. Diperlukan cara pandang regional yang mempertimbangkan hubungan kawasan hulu, perkotaan, hingga wilayah hilir.

Selain membantu pengelolaan air, pohon disebut memberi perlindungan langsung bagi warga melalui keteduhan. Ridwan mengatakan kanopi pohon dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pejalan kaki dan masyarakat yang beraktivitas di ruang publik. Vegetasi yang terhubung di taman, tepi jalan, permukiman, dan bantaran sungai juga membantu membentuk koridor hijau di tengah kepadatan kota.

Konsep ini dinilai semakin relevan ketika masyarakat didorong lebih banyak berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik. Menurut Ridwan, kota yang ingin ramah pejalan kaki tidak cukup menyediakan trotoar, tetapi juga perlu memastikan jalur tersebut nyaman, teduh, aman, dan terhubung dengan ruang publik. Ia menyebut pohon sebagai bagian dari fasilitas perkotaan yang sama pentingnya dengan elemen fisik kota lainnya.

Ridwan juga menyoroti fungsi sosial ruang hijau. Taman dan ruang publik hijau, katanya, menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, bermain, atau beristirahat dari kepadatan aktivitas sehari-hari, sekaligus menjalankan fungsi ekologis.

Namun, ia mengingatkan penghijauan kota tidak cukup dilakukan dengan menanam pohon di lokasi yang terpisah-pisah. Dalam pendekatan ekologi lanskap, ruang hijau akan memberikan manfaat lebih besar bila membentuk jaringan yang saling terhubung. Taman, jalur hijau jalan, bantaran sungai, halaman permukiman, serta ruang terbuka lainnya dapat menjadi satu sistem ekologis kota dan menjadi ruang hidup bagi keanekaragaman hayati di tengah dominasi kawasan terbangun.

Vegetasi perkotaan, lanjutnya, juga berperan membantu menyaring polutan serta mengurangi dampak langsung aktivitas kendaraan bermotor terhadap lingkungan sekitar. Karena itu, perhatian pembangunan ke depan perlu mencakup bukan hanya jumlah ruang hijau, tetapi juga lokasi, kualitas, serta keterhubungannya.

Ridwan menilai upaya menjaga Cekungan Bandung tidak selalu harus melalui proyek besar. Ia menyebut pendekatan lowest hanging fruit, yakni tindakan yang murah, cepat dilakukan, dan memberi manfaat langsung. Contohnya, warga dapat mengembangkan kebun komunitas di fasilitas umum RT/RW, mempertahankan dan menambah pohon di pekarangan, membuat lubang biopori, serta memanfaatkan lahan kosong menjadi pocket park atau taman saku.

Lorong permukiman juga dapat dibuat lebih teduh dengan tanaman merambat pada pagar atau pergola. Selain itu, sistem penampungan air hujan dapat dimanfaatkan pada bangunan publik atau lingkungan permukiman untuk membantu pengelolaan air. Ridwan menambahkan, gerakan sederhana ini berpeluang mempertemukan berbagai generasi, misalnya melalui kolaborasi pengetahuan warga senior tentang tanaman lokal dengan kemampuan generasi muda dalam teknologi dan pengelolaan informasi.

Ia juga menekankan peran generasi muda melalui pendekatan berbasis teknologi, salah satunya pemetaan partisipatif untuk mengenali titik lingkungan yang lebih panas, kawasan dengan dominasi tutupan beton, serta kondisi pohon dan vegetasi kota. Menurutnya, sensor suhu dan kelembapan sederhana dapat digunakan untuk membangun data kondisi mikroklimat di tingkat lingkungan.

Dengan dukungan data, penghijauan tidak berhenti pada kegiatan menanam pohon. Masyarakat dapat mengetahui area yang paling membutuhkan penghijauan, memantau perkembangan vegetasi, serta mengevaluasi perubahan kondisi lingkungan dari waktu ke waktu. Dalam skema ini, warga tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga terlibat dalam pengumpulan data dan perawatan lingkungan kota.

Pada akhirnya, Ridwan menilai tantangan panas perkotaan, genangan, berkurangnya daerah resapan, dan kualitas ruang publik merupakan persoalan yang saling berkaitan. Karena itu, ruang hijau tidak seharusnya dipandang sebagai ruang sisa setelah pembangunan, melainkan ditempatkan sejak awal sebagai komponen utama dalam perencanaan kota.

Mulai dari pohon di halaman rumah, pohon peneduh di trotoar, taman lingkungan, hingga kawasan hijau dalam skala regional, semuanya disebut sebagai bagian dari sistem yang membantu Cekungan Bandung tetap layak huni. “Di tengah pembangunan kawasan perkotaan yang terus berlangsung, menjaga pohon bukan berarti menghentikan perkembangan kota. Sebaliknya, pohon membantu memastikan pembangunan tetap memberikan ruang bagi air untuk meresap, udara untuk menjadi lebih nyaman, masyarakat untuk beraktivitas, dan lingkungan untuk tetap bertahan bagi generasi berikutnya,” tutupnya.