Yordania Terjepit di Tengah Perang Iran 2026: Pangkalan AS Jadi Sasaran Berulang, Amman Hadapi Dilema

Yordania Terjepit di Tengah Perang Iran 2026: Pangkalan AS Jadi Sasaran Berulang, Amman Hadapi Dilema

Sirene peringatan serangan udara meraung di Aqaba, satu-satunya kota pelabuhan Yordania di tepi Laut Merah, pada Rabu sore, 22 Juli 2026. Di seberang teluk sempit, warga Eilat di Israel merekam kepulan asap yang terlihat dari sisa rudal yang dilaporkan berhasil dicegat pertahanan udara Yordania. Dalam beberapa jam, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menembakkan rudal balistik ke tiga sasaran: pangkalan udara King Faisal di selatan, Prince Hassan di utara, serta fasilitas di sekitar Aqaba.

Militer Yordania menyebut berhasil mencegat empat rudal dan empat drone, serta tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun peristiwa di Aqaba menegaskan satu kenyataan yang terus berulang sepanjang 2026: Yordania, yang tidak menyatakan diri sebagai pihak dalam Perang Iran 2026, tetap menjadi lokasi serangan rudal dan drone.

Sejak awal Juni 2026, sejumlah pangkalan di Yordania—terutama Muwaffaq Salti (Al-Azraq), King Faisal, dan Prince Hassan—berulang kali menjadi sasaran. Puncaknya terjadi pada pertengahan Juli ketika serangan di Muwaffaq Salti menewaskan tiga tentara Amerika Serikat. Total personel AS yang dilaporkan tewas di kawasan sejak perang dimulai mencapai 18 orang per akhir Juli.

Situasi ini menempatkan Amman dalam posisi sulit. Yordania tidak ikut serta dalam serangan Amerika Serikat dan Israel yang memicu perang pada 28 Februari 2026. Tetapi letak geografisnya—serta keberadaan fasilitas militer AS di wilayahnya—membuat negara itu berada di jalur risiko konflik.

IRGC, dalam pernyataan publiknya, berulang kali menegaskan target serangan adalah “kehadiran militer Amerika”, bukan Kerajaan Hashemite sebagai negara. Meski demikian, dampaknya tetap dirasakan di wilayah Yordania: sirene berbunyi, proyektil jatuh atau dicegat di atas kota, dan warga sipil harus mencari perlindungan.

Rangkaian serangan yang dikaitkan dengan Iran mencakup beberapa momen penting. Sekitar 10–11 Juni, IRGC mengklaim menembakkan dua belas rudal balistik ke Muwaffaq Salti; Yordania melaporkan mencegat sekitar lima rudal tanpa korban jiwa maupun kerusakan berarti. Awal Juli, serangan ke King Faisal dilaporkan melukai lima tentara AS. Pada rentang 17–19 Juli, serangan rudal dan drone di Muwaffaq Salti menewaskan tiga tentara AS—Sersan Angel S. Rampersad, Tyler James Feehan, dan Isabella Gonzales—yang kemudian diumumkan oleh Pentagon.

Namun tidak semua klaim memiliki tingkat kepastian yang sama. Klaim IRGC terkait penghantaman King Faisal pada 22 Juli, misalnya, disebut belum mendapat konfirmasi independen dan Pentagon belum memberikan komentar resmi saat laporan ini disusun. Perbedaan ini menyoroti dinamika perang informasi: sebagian klaim muncul cepat dan dramatis, sementara verifikasi pihak ketiga tidak selalu segera tersedia.

Salah satu titik fokus dalam rentetan serangan adalah pangkalan Muwaffaq Salti. Fasilitas gabungan Angkatan Udara Kerajaan Yordania dan Angkatan Udara AS di Provinsi Zarqa itu menjalani perluasan senilai 143 juta dolar AS yang didanai Washington sejak 2019. Dalam laporan yang beredar pada 2026, pangkalan tersebut disebut menampung jet tempur F-15, F-22, F-35, serta drone MQ-9 Reaper—menjadikannya salah satu konsentrasi kekuatan udara AS yang padat di kawasan Levant.

Dalam kerangka itu, serangan ke Muwaffaq Salti dipandang sebagai upaya memukul infrastruktur tempur AS, bukan sekadar sasaran simbolik. Di saat yang sama, keberadaan aset asing ini merupakan bagian dari pilihan kebijakan Yordania yang selama bertahun-tahun menukar akses fasilitas dengan bantuan ekonomi dan militer AS. Kalkulasi tersebut dinilai menguntungkan ketika kawasan relatif stabil, tetapi berubah menjadi beban ketika perang terbuka pecah.

Di kalangan pengamat pertahanan, muncul pula tesis bahwa serangan ke pangkalan-pangkalan Yordania dapat dibaca sebagai “shaping operation”—upaya melemahkan sistem pertahanan udara di jalur yang akan dilalui rudal Iran jika Teheran melancarkan serangan besar ke Israel. Yordania berada di antara Iran dan Israel, dan sejak serangan Iran ke Israel pada April 2024, lintasan proyektil di wilayah udara Yordania menjadi perhatian. Sejumlah analis bahkan menduga adanya dukungan data penargetan presisi dari Rusia, meski hal ini tidak dinyatakan sebagai fakta yang terkonfirmasi.

Tesis tersebut dinilai masuk akal dari sisi militer, tetapi tetap berada pada ranah analitis. Tidak ada pernyataan resmi Iran yang mengonfirmasi motif itu secara eksplisit. Dalam pernyataan publik, IRGC cenderung membingkai serangan sebagai balasan atas serangan AS ke Iran, bukan sebagai persiapan jalur serangan ke Israel.

Aspek lain yang menonjol adalah cara Iran membingkai serangan secara politik. Setelah serangan pertengahan Juli, IRGC merilis pernyataan yang menyapa rakyat Yordania, menyatakan tidak bermusuhan dengan negara itu, dan mendesak agar warga menuntut penarikan pangkalan militer AS. Retorika ini dipandang memanfaatkan sentimen publik Yordania yang disebut skeptis terhadap kehadiran militer asing dan kebijakan pro-Amerika pemerintah.

Namun pesan “tidak ada permusuhan” tersebut sulit dilepaskan dari fakta bahwa rudal dan drone tetap diarahkan ke target di wilayah berdaulat Yordania, dengan risiko bagi warga sipil di sekitar pangkalan maupun kawasan pelabuhan Aqaba. Perbedaan antara pembingkaian politik dan dampak di lapangan menjadi salah satu sumber ketegangan utama.

Di pihak Yordania, dilema membesar karena ketergantungan pada bantuan ekonomi dan militer AS, sementara pemerintah juga berupaya menghindari eskalasi dengan Teheran dan mengelola sensitivitas opini publik domestik, termasuk populasi besar warga keturunan Palestina. Pengamat menilai Amman memilih kata-kata dengan sangat hati-hati dalam pernyataan resmi, tetapi pendekatan ini juga membawa risiko: ruang komunikasi yang terbatas dapat memberi peluang bagi narasi pihak penyerang untuk lebih mudah memengaruhi persepsi publik.

Untuk data korban, angka 18 personel AS tewas di kawasan sejak perang dimulai—termasuk tiga korban di Muwaffaq Salti—disebut bersandar pada pengumuman resmi Pentagon dan Komando Sentral AS (CENTCOM). Sementara itu, informasi mengenai korban sipil di Yordania akibat serpihan rudal atau proyektil yang tidak sepenuhnya dihancurkan masih minim. Sejauh ini laporan yang tersedia hanya menyebut adanya warga sipil terluka tanpa rincian jumlah dan tanpa verifikasi independen yang jelas.

Perang Iran 2026 sendiri sempat memasuki fase gencatan senjata. Pada 8 April 2026, AS dan Iran menyepakati jeda dua pekan yang dimediasi Pakistan, tetapi gencatan tersebut dilaporkan berulang kali dilanggar sebelum runtuh pada awal Juli. Sepanjang pertengahan Juli, CENTCOM melaporkan serangan malam hari ke Iran secara beruntun hingga mencapai malam ke-13 pada 24 Juli, sebelum 24–25 Juli berlalu tanpa serangan baru yang diumumkan dari kedua sisi. Presiden Donald Trump menyatakan masih membuka opsi negosiasi, namun tidak menutup kemungkinan kampanye militer berlanjut atau meningkat.

Bagi Yordania, jeda singkat semacam itu tidak serta-merta mengubah posisi dasarnya. Selama Washington dan Teheran belum mencapai kesepakatan yang mengikat, dan selama pangkalan-pangkalan AS tetap berada di wilayahnya, Amman berpotensi terus menanggung dampak konflik yang tidak diputuskan olehnya—mulai dari ancaman keamanan hingga tekanan politik di dalam negeri.

Dalam situasi yang serba rapuh ini, satu hal menjadi jelas: Yordania berada di persimpangan dua kepentingan besar—kebutuhan mempertahankan dukungan sekutu utamanya, dan upaya menghindari menjadi medan konfrontasi langsung. Dengan serangan yang berulang dan klaim yang tidak selalu dapat diverifikasi cepat, ketegangan di sekitar kerajaan kecil itu diperkirakan tetap menjadi salah satu indikator penting arah eskalasi maupun peluang de-eskalasi di kawasan.