Yoel Yosaphat Menapaki Politik dengan Tekanan pada Integritas dan Kerja Berorientasi Hasil

Yoel Yosaphat Menapaki Politik dengan Tekanan pada Integritas dan Kerja Berorientasi Hasil

Yoel Yosaphat menilai politik dapat menjadi sarana pelayanan publik ketika dijalankan dengan kerja nyata, berorientasi pada hasil, dan berani mengambil keputusan demi kepentingan masyarakat. Keyakinan itu, menurutnya, menguat saat ia menyaksikan kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama ketika memimpin Jakarta.

Berangkat dari pandangan tersebut, Yoel kemudian memutuskan masuk ke dunia politik secara formal. Ia mendaftarkan diri ke partai politik dan mengikuti proses internal yang berlaku. Ia mengakui langkah itu tidak mudah karena politik menuntut kesiapan mental, komitmen waktu, serta kesiapan menghadapi berbagai konsekuensi sosial.

Perjalanan politiknya memasuki fase penting saat mengikuti Pemilihan Umum. Pada tahap awal, ia menjalani rangkaian sosialisasi, berupaya membangun kepercayaan publik, sekaligus menghadapi pandangan skeptis terhadap politisi baru. Pengalaman tersebut menjadi ujian sekaligus pembuktian atas pilihannya menempuh jalur politik.

Pada Pemilu 2019, Yoel Yosaphat memperoleh kepercayaan masyarakat dan terpilih sebagai anggota legislatif. Pada periode pertama, ia ditugaskan di Komisi IV selama lima tahun. Masa ini ia sebut sebagai fase pembelajaran intensif, baik untuk memahami mekanisme kerja lembaga legislatif maupun dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Dalam perannya di Komisi IV, Yoel berhadapan dengan sejumlah isu strategis yang menuntut ketelitian, komitmen, dan kemampuan bernegosiasi. Ia menekankan bahwa tugas wakil rakyat tidak sebatas menghadiri rapat, tetapi juga menyuarakan kepentingan masyarakat dalam setiap kebijakan dan keputusan.

Pada 2024, Yoel kembali mencalonkan diri dan terpilih untuk periode kedua. Pada masa jabatan ini, ia mendapat penugasan di Komisi III. Penugasan tersebut memperluas tanggung jawabnya, terutama terkait isu hukum dan keadilan. Ia memandangnya sebagai kesempatan untuk terus memperjuangkan nilai keadilan dan kepastian hukum.

Di luar dinamika tugas kelembagaan, Yoel menempatkan integritas sebagai prinsip utama dalam menjalankan peran sebagai pejabat publik. Menurutnya, tanpa integritas, kekuasaan dan jabatan berisiko menjadi beban, bukan alat perjuangan. Ia juga memaknai integritas sebagai keberanian untuk tetap berada di jalur yang benar meski menghadapi tekanan, kritik, bahkan fitnah.

Dalam pandangannya, menjaga integritas di tengah dunia politik yang sarat kepentingan bukan perkara mudah. Namun ia meyakini kepercayaan masyarakat hanya dapat diraih dan dipertahankan melalui kejujuran serta konsistensi sikap.