Warga Terdampak Tol Bocimi Seksi IV Keluhkan Ketidakpastian Pembebasan Lahan

Warga Terdampak Tol Bocimi Seksi IV Keluhkan Ketidakpastian Pembebasan Lahan

SUKABUMI — Pembangunan Jalan Tol Bogor–Ciawi–Sukabumi (Bocimi) masih berlanjut di sejumlah ruas. Progres pekerjaan disebut masih berjalan pada Seksi III Cibadak–Sukabumi Barat, sementara perbaikan Seksi II Cigombong–Cibadak di ruas exit tol Parungkuda yang terdampak longsor dikabarkan akan selesai pada akhir tahun ini.

Secara keseluruhan, Tol Bocimi memiliki panjang 54 kilometer yang terbagi dalam empat seksi. Seksi I Ciawi–Cigombong sepanjang 15,35 km telah beroperasi sejak Desember 2018. Seksi II Cigombong–Cibadak sempat beroperasi pada Agustus 2023 sebelum terjadi longsor. Adapun Seksi III Cibadak–Sukabumi Barat memiliki panjang 13,70 km, dan Seksi IV Sukabumi Barat–Sukabumi Timur sepanjang 13,05 km.

Namun, pembebasan lahan untuk Seksi IV dinilai belum menunjukkan perkembangan yang jelas. Keluhan ini disampaikan dalam Grup Gerakan Cepat Tol Bocimi, yang beranggotakan warga terdampak pembangunan Tol Bocimi Seksi IV.

Salah seorang warga terdampak, M Abdul Khan, menyebut proses pembebasan lahan dan pembayaran ganti rugi belum memiliki kepastian. Menurutnya, ratusan warga mempertanyakan kapan pembayaran ganti rugi akan dilakukan.

“Sampai saat ini belum ada kemajuan, terutama di Seksi 4 Desa Margaluyu yang mana dari tahun 2018 tidak ada sama sekali progres yang dilakukan, sementara di tempat kami banyak yang mengeluh dan membutuhkan, seperti contoh ada yang pemiliknya yang sudah meninggal ada juga pemilik rumah yang hampir mau roboh tapi tidak direnovasi dikarenakan patok sudah ada,” ujarnya.

Ia menuturkan, kondisi tersebut membuat warga berada dalam situasi serba sulit. Di satu sisi, rumah yang rusak tetap ditempati dan berpotensi membahayakan. Di sisi lain, warga ragu melakukan perbaikan karena khawatir terdampak penggusuran mengingat patok proyek sudah terpasang.

“Hampir warga yang akan terdampak takut untuk merenovasi rumah, alasannya takut dibayar tidak sesuai dengan apa yang sudah mereka renovasi namun di sisi lain rumah mereka hampir mau rubuh,” katanya.

Selain persoalan hunian, ia juga menyampaikan dampak pada pemanfaatan lahan. Menurutnya, ada lahan yang beberapa kali gagal disewakan karena calon penyewa melihat adanya patok Tol Bocimi. Warga juga disebut enggan merawat lahan atau menanam karena khawatir memengaruhi kesesuaian nilai ganti rugi.