Indralaya — Puluhan warga RT 05 Kelurahan Timbangan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, mendatangi PT Sumatera Prima Fiberboard (SPF) untuk menyampaikan keluhan terkait polusi udara berupa debu dan bau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas pengolahan pabrik perusahaan tersebut.
Berdasarkan pantauan di lokasi, lebih dari 50 warga yang dikenal sebagai warga Perumahan Bumi Indah Permai (BIP) bersama Organisasi Kepemudaan (OKP) Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) menggelar aksi demonstrasi di halaman PT SPF pada Kamis siang, 22 Januari 2026.
Koordinator aksi sekaligus Ketua DPD PGK Kabupaten Ogan Ilir, Dwi Surya Mandala SE, mengatakan persoalan debu telah dikeluhkan warga sejak 2023, namun menurutnya belum ada perhatian khusus dari perusahaan. Ia juga menyebut warga telah lelah mendengar janji perbaikan yang belum terealisasi.
“Warga sudah jenuh mendengar kata-kata ‘nanti diperbaiki debunya terbang ke mana-mana karena ada yang rusak’. Ini sudah muak kami mendengarnya,” ujar Dwi di lokasi. Ia menambahkan, sekitar sebulan lalu pihaknya telah mengirimkan surat permohonan audiensi, tetapi belum mendapat tanggapan.
Dwi menegaskan, tuntutan utama warga saat ini adalah pengurangan polusi bau dan debu. Ia menyebut persoalan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) merupakan kewajiban perusahaan, namun fokus warga adalah penyelesaian polusi yang dirasakan sehari-hari. Ia juga meminta apabila pertemuan dengan warga ditunda, harus ada surat perjanjian yang memuat kepastian waktu penyelesaian.
Ketua RT 05 Kelurahan Timbangan, Safaat, menyampaikan warga telah lama merasakan dampak udara yang dinilai tidak sehat. Ia mengatakan selama hampir 23 tahun warga menghirup debu dan bau yang diduga berasal dari PT SPF.
“Debu tambah banyak dan sekarang keluarnya semakin halus hampir tidak terlihat debunya. Kalau sebelumnya agak kasar, terutama saat pagi hari akan tambah banyak debu dan sangat tebal,” ujar Safaat, yang juga mantan karyawan PT SPF.
Safaat menyebut tuntutan warga tidak banyak, yakni meminta polusi debu dan bau dihilangkan agar lingkungan menjadi lebih sehat. Ia juga menyampaikan keluhan terkait kondisi kesehatan warga, termasuk anak-anak yang disebut sering mengalami batuk serta keluhan kulit.
“Karena sudah sering terjadi anak-anak sakit batuk dan sakit kulit, jadi kami butuh kepastian solusi karena aspirasi ini nyata bukan direkayasa,” kata Safaat.
Dari pihak perusahaan, Manajer Produksi PT SPF Agung Budiyono, didampingi Agung Laksana selaku Manajer K3 dan LH, menerima perwakilan massa. Agung menyampaikan manajemen pusat akan menemui warga dan membahas persoalan tersebut.
“Apa yang menjadi isu ini kita pecahkan bersama-sama untuk jadwalnya di minggu depan kalau tidak hari Rabu, hari Kamis depan,” ujar Agung Budiyono. Ia menambahkan pihaknya memahami apa yang disampaikan warga dan berharap persoalan dapat diselesaikan pada pertemuan pekan depan.

