Menjelang dimulainya musim sepak bola baru, UEFA menegaskan kembali tujuan penggunaan Video Assistant Referee (VAR): hanya dipakai ketika benar-benar diperlukan, yakni untuk mengoreksi kesalahan yang jelas. UEFA juga ingin menghindari penggunaan VAR yang bergantung pada kehendak bebas wasit, yang dinilai dapat memicu intervensi berlebihan dan menjadi salah satu penyebab alat ini kurang disukai sebagian penggemar delapan tahun setelah diperkenalkan.
Untuk membantu wasit—serta memberi pemahaman yang lebih sama bagi penggemar, pemain, dan pelatih—UEFA meluncurkan “Clear Line”, panduan pengambilan keputusan wasit di sepak bola Eropa. Program ini berbentuk perpustakaan video yang memuat lebih dari 150 klip dari pertandingan nyata, yang menampilkan contoh penggunaan VAR yang dinilai tepat.
Dalam konsepnya, UEFA menyatakan bahwa situasi yang tidak tercakup dalam perpustakaan tersebut tidak dianggap layak untuk intervensi VAR. Dengan begitu, Clear Line diharapkan menjadi rujukan yang lebih tegas mengenai kapan VAR seharusnya digunakan.
Kepala wasit UEFA, Roberto Rosetti, menjelaskan kepada media bahwa dokumen ini dirancang untuk memberi pedoman yang jelas bagi semua pihak. “Ini bukan hanya untuk wasit; ini untuk sepak bola. Ini untuk pemain, pelatih, penggemar, dan jurnalis,” kata Rosetti.
Perpustakaan Clear Line dibagi ke dalam lima kategori utama, yakni penalti, kartu merah, pelanggaran menyerang, keputusan faktual, dan kesalahan identitas. Kategori kesalahan identitas disebut sebagai salah satu topik yang masih membingungkan sejak aturan tersebut diperkenalkan untuk Piala Dunia terakhir, serta dikenal kerap disalahgunakan, termasuk dalam pertandingan antara Swiss dan Argentina.
UEFA mendefinisikan kesalahan identitas sebagai situasi ketika wasit memberikan kartu kuning atau merah atas sebuah pelanggaran, tetapi secara jelas menghukum pemain yang salah dari salah satu tim, bukan pelaku pelanggaran sebenarnya. UEFA juga menekankan bahwa pelanggaran itu sendiri tidak dapat ditinjau dalam konteks ini. Contoh yang disorot adalah kasus Breel Embolo, ketika wasit memberikan kartu kuning kedua setelah “meninjau ulang” pelanggaran, sesuatu yang disebut tidak seharusnya dilakukan.