Bandung tercatat sebagai kota termacet di Indonesia berdasarkan TomTom Traffic Index 2025. Dalam daftar global yang dirilis lembaga tersebut, Bandung bahkan berada di atas Jakarta dalam tingkat kemacetan.
Pengamat tata kota dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Frans Ari Prasetyo, menilai kemacetan yang kian akut di Bandung dipicu sejumlah persoalan yang saling bertumpuk. Menurutnya, masalah itu mencakup perencanaan tata ruang yang tidak sinkron, rencana detail tata ruang yang dinilai tidak tegas, hingga kemauan politik (political will) pimpinan daerah untuk menyelesaikan persoalan kemacetan.
“Ini kesalahan yang bertumpuk ya sebenarnya, dari perencanaan tata ruang yang tidak sinkron dengan kondisi eksisting yang tersedia,” kata Frans saat dihubungi wartawan, Jumat (23/1/2026).
Frans menyoroti konsistensi Pemerintah Kota Bandung dalam menjalankan rencana tata ruang. Ia menyebut rencana tata ruang Bandung mengalami perubahan dari periode 2011–2031 menjadi 2024–2044. Namun, ia menilai perubahan tersebut tidak menghadirkan inovasi yang signifikan dalam tata kelola transportasi.
“Nah, rencana itu kemudian kalau dilihat ditilik-tilik lebih lanjut, tidak begitu signifikan mengubah adanya inovasi tentang bagaimana tata kelola transportasi di Kota Bandung. Ada memang sedikit, tapi tidak menjadi sebuah evolusi yang besar tentang bagaimana membuat Bandung menjadi lebih baik dalam tata kelola transformasi transformasinya,” ujarnya.
Dari sisi rencana detail tata ruang, Frans menyatakan Pemkot Bandung belum tegas menetapkan sub wilayah kota (SWK) yang tersedia. Ia mencontohkan kawasan Cibeunying yang dikenal sebagai kawasan wisata, namun dinilai belum diatur secara memadai sehingga berdampak pada kemacetan.
Frans juga menilai belum terlihat indikator kemajuan yang jelas dalam penanganan kemacetan. Ia menyebut, seharusnya ada ukuran capaian yang dapat dipantau dari waktu ke waktu, misalnya penurunan persentase kemacetan setiap tahun.
“Kita pasti berharap bahwa ini akan selesai cepat ya, tapi progresnya pun belum kelihatan gitu loh. Kalau progresnya kelihatan kan enak. Misalnya ini dalam pemerintahan Farhan kemacetan di Kota Bandung dia berkurang sekian persen. Tahun kedua dia berkurang lagi sekian persen, tahun ketiga dia berkurang lagi sekian persen. Nah itu enggak ada, ini kan sudah setahun lebih ya, tapi saya tidak melihat itu terjadi,” tegasnya.
Ia menambahkan, selama ini belum ada solusi nyata yang dirasakan warga. Menurutnya, pernyataan umum bahwa kemacetan akan diatasi tidak cukup tanpa langkah konkret dan capaian yang terukur.
“Kalau hanya bicara dalam konteks dia, ‘Oh, iya Bandung macet, kita akan atasi’. Ya, semua orang juga bisa. Tapi kan warga ini butuh langkah konkretnya dong. Nah, yang progress-nya itu enggak kelihatan. Coba Mas lihat dalam satu tahun terakhir apa yang belum berubah? Enggak ada,” kata Frans.
Dalam laporan TomTom Traffic Index 2025, tingkat kemacetan rata-rata di Bandung tercatat mencapai 64,1%. Kondisi ini membuat waktu perjalanan melambat dibandingkan situasi ideal tanpa hambatan. Untuk menempuh jarak 10 kilometer, pengendara di Bandung membutuhkan waktu rata-rata 32 menit 26 detik, nyaris tidak berubah dari tahun sebelumnya. Kecepatan kendaraan pada jam sibuk berada di kisaran 16,3 kilometer per jam.
Sementara itu, Jakarta disebut mengalami tren kemacetan yang masih memburuk pada 2025. Waktu tempuh perjalanan 10 kilometer di ibu kota rata-rata mencapai 26 menit 19 detik, meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat 25 menit 31 detik.
Secara global, Bandung menempati peringkat ke-16 kota termacet di dunia, sedangkan Jakarta berada di posisi ke-24. Lima besar kota termacet di dunia dalam indeks tersebut ditempati oleh Meksiko City (75,9%), Bengaluru (74,4%), Dublin (72,9%), Lodz (72,8%), dan Pune (71,1%).

