Survei Gallup: Warga AS Paling Cemas soal Politik dan Tertekan Ekonomi Dibanding Negara Lain

Survei Gallup: Warga AS Paling Cemas soal Politik dan Tertekan Ekonomi Dibanding Negara Lain

Jajak pendapat internasional terbaru Gallup menunjukkan Amerika Serikat menonjol dibanding banyak negara lain karena tingkat kecemasan publik yang tinggi terhadap politik, demokrasi, serta ketidakamanan ekonomi. Survei yang mencakup 107 negara itu menggambarkan kondisi opini publik di AS yang dinilai semakin suram, dengan kekhawatiran yang kuat terhadap stabilitas politik dan tekanan biaya hidup.

Dalam survei tersebut, warga Amerika paling banyak menyebut politik dan pemerintahan sebagai masalah paling serius yang dihadapi negara mereka. Sekitar sepertiga responden di AS menempatkan isu politik dan pemerintahan sebagai kekhawatiran utama, tingkat yang disebut hanya disamai oleh Taiwan. Gallup mencatat bahwa meski negara-negara lebih kaya cenderung menonjolkan persoalan politik, dominasi kekhawatiran ini di AS tergolong tidak biasa.

Peneliti Gallup, Benedict Vigers, menyatakan AS tampil menonjol karena kombinasi ketakutan mengenai stabilitas demokrasi dan persepsi menurunnya peluang ekonomi. Menurutnya, gabungan kekhawatiran itu membuat situasi di AS “benar-benar unik”.

Survei yang dilakukan pada periode Maret hingga Oktober 2025 itu hadir setelah rentang panjang polarisasi partisan yang kian intens. Dalam konteks yang disebut Gallup, berbagai peristiwa turut membentuk suasana tersebut, termasuk kebangkitan Presiden petahana Donald Trump, serangan 6 Januari 2021 di Gedung Capitol AS, upaya yang gagal untuk meminta pertanggungjawaban Trump pada masa pemerintahan Joe Biden, serta kembalinya Trump ke tampuk kekuasaan. Rangkaian peristiwa itu disebut telah melemahkan kepercayaan terhadap perlindungan politik dan konstitusional di AS.

Di luar persoalan politik, kecemasan ekonomi menjadi bidang lain di mana AS dinilai memiliki perbandingan yang buruk secara internasional, terutama di kalangan warga muda. Responden berusia 35 tahun ke bawah lebih sering menyebut keterjangkauan dan tekanan ekonomi—seperti biaya makanan dan perumahan—sebagai kekhawatiran utama. Sekitar sepertiga kelompok usia muda menyatakan hal tersebut, dibandingkan 13% responden berusia 55 tahun ke atas.

Pola itu disebut serupa dengan tren di sejumlah negara berbahasa Inggris lain yang menghadapi krisis perumahan, termasuk Australia, Kanada, dan Irlandia. Vigers menggambarkannya sebagai contoh nyata ketika kaum muda semakin tersisih dari kemajuan ekonomi.

Sementara itu, responden yang lebih tua cenderung lebih fokus pada isu politik dan pemerintahan. Sekitar empat dari 10 orang berusia 35 tahun ke atas menempatkan politik dan pemerintahan sebagai masalah paling mendesak, dibandingkan sekitar dua dari 10 orang dewasa yang lebih muda.

Pelacakan jangka panjang Gallup juga menunjukkan kekhawatiran mengenai politik meningkat stabil sejak tahun 2000, dan sejak 2016 tetap berada di dekat atau di atas tingkat era Watergate. Frank Newport dari Gallup mengaitkan kecenderungan ini dengan polarisasi yang ekstrem.

Ilmuwan politik Brendan Nyhan memperingatkan bahwa pesimisme ekonomi dapat berdampak lebih luas terhadap ketahanan institusi. “Dunia di mana orang tidak optimis tentang masa depan ekonomi mereka adalah dunia di mana mereka bersedia untuk semakin menggoyahkan institusi,” kata Nyhan. “Rendahnya kepercayaan itu merusak.”