Media sosial seperti Twitter yang kini dikenal sebagai X menjadi ruang bagi pengguna untuk mengekspresikan beragam emosi, termasuk panik dan khawatir. Sebuah studi terbaru yang dilakukan Razailin Abdul Rashid, Siti Hafizah Ab Hamid, dan Faisal Fahmi meneliti bagaimana emosi tersebut muncul dalam teks campur bahasa, khususnya gabungan bahasa Inggris dengan bahasa Melayu dan Indonesia.
Penelitian ini memanfaatkan analisis sentimen berbasis korpus untuk mendeteksi ekspresi panik dan khawatir dalam cuitan yang menggunakan lebih dari satu bahasa. Fenomena campur bahasa dinilai menjadi tantangan tersendiri dalam analisis sentimen karena pengguna kerap mencampurkan dua bahasa dalam satu konteks percakapan.
Dalam studi tersebut, peneliti mengembangkan CORPUS4PANWO, korpus multibahasa yang dirancang untuk mengidentifikasi sentimen terkait panik dan khawatir di media sosial. Peneliti menyoroti bahwa riset mengenai campur bahasa selama ini lebih banyak berfokus pada kombinasi bahasa Inggris dengan bahasa Spanyol atau Hindi, sementara kajian yang melibatkan campuran bahasa Inggris dengan bahasa Melayu atau Indonesia masih terbatas.
Melalui korpus yang memuat kata dan frasa terkait panik dan khawatir dalam tiga bahasa—Inggris, Melayu, dan Indonesia—peneliti kemudian menerapkan alat analisis sentimen VADER (Valence Aware Dictionary and sEntiment Reasoner). Analisis dilakukan pada cuitan yang berkaitan dengan berbagai peristiwa global, seperti krisis Covid-19, protes Iran, dan isu perubahan iklim.
Hasilnya, studi melaporkan tingkat akurasi antara 76,6% hingga 88,0% dalam mendeteksi sentimen negatif yang berhubungan dengan panik dan khawatir. Temuan ini menunjukkan potensi penggunaan korpus multibahasa untuk memperkuat kemampuan deteksi emosi pada teks media sosial yang tidak selalu menggunakan satu bahasa secara konsisten.
Penelitian juga menekankan bahwa ekspresi panik dan khawatir sering kali tidak disampaikan secara langsung. Variasi bahasa, istilah gaul, serta cara bertutur yang berbeda dapat memunculkan makna emosional yang lebih halus. Karena itu, peneliti menggabungkan analisis manual oleh ahli bahasa lokal untuk membantu menangkap ekspresi yang tidak selalu muncul dalam kata-kata yang secara harfiah berarti panik atau khawatir.
Studi ini dinilai relevan bagi konteks Asia Tenggara, wilayah yang dalam percakapan sehari-hari kerap mempraktikkan campur kode. Temuan tersebut sekaligus menggarisbawahi pentingnya pembangunan korpus multibahasa untuk analisis sentimen, terutama ketika emosi diekspresikan melalui bentuk bahasa yang beragam.
Melalui CORPUS4PANWO, peneliti menyebut tersedia fondasi bagi kajian lanjutan untuk mengeksplorasi ekspresi emosional dalam konteks bahasa dan budaya yang berbeda. Mereka juga berharap penelitian berikutnya dapat terus meningkatkan akurasi dalam mengidentifikasi ragam ekspresi emosi di media sosial, seiring dinamika penggunaan bahasa yang terus berubah.