Studi BRIN Ungkap Empat Pola Preferensi Pemilih Muslim terhadap Penampilan dan Gender Caleg

Studi BRIN Ungkap Empat Pola Preferensi Pemilih Muslim terhadap Penampilan dan Gender Caleg

Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam membuat faktor agama kerap menjadi pertimbangan penting dalam strategi partai politik menjelang pemilihan umum. Dalam konteks ini, pemahaman terhadap karakter dan preferensi pemilih Muslim dinilai relevan untuk membantu partai menyusun komunikasi politik, termasuk dalam pemilihan kandidat legislatif.

Salah satu rujukan yang membahas isu tersebut adalah buku Preferensi Politik Pemilih Muslim Indonesia Kontemporer (Penerbit Kompas, 2024) karya peneliti Pusat Riset Politik BRIN Wasisto Raharjo Jati. Buku ini diangkat dari tesis magister ilmu politik di Australian National University (ANU) pada 2020 dan menelaah bagaimana interaksi agama dan gender membentuk pilihan pemilih Muslim di Indonesia.

Penelitian itu menyoroti pengaruh penampilan kandidat—antara tampak sekuler dan tampak religius—terhadap evaluasi pemilih. Temuan tersebut dipandang dapat menjadi masukan bagi kandidat dalam menentukan cara menampilkan diri, baik saat berinteraksi langsung maupun melalui foto pada surat suara. Dua fokus yang disorot adalah dimensi psikologi politik pemilih dan komunikasi politik kandidat.

Dalam hasilnya, penelitian tersebut merumuskan empat temuan utama. Pertama, pemilih yang memiliki pandangan bias gender (tidak egaliter atau patriarkis) tetapi terbuka terhadap perbedaan pandangan di ruang publik cenderung memilih calon legislatif laki-laki yang berpenampilan sekuler.

Kedua, pemilih yang lebih egaliter dalam persepsi gender dan bersikap moderat terhadap berbagai persoalan publik cenderung memilih calon legislatif perempuan yang berpenampilan sekuler atau non-agamis.

Ketiga, pemilih yang memiliki pandangan bias gender dan lebih mengutamakan pendekatan agama dalam berbagai hal—terutama di wilayah pedesaan—cenderung mendukung calon legislatif laki-laki yang berpenampilan religius.

Keempat, pemilih dengan persepsi gender yang lebih egaliter serta sikap beragama yang pluralis atau moderat, terutama di kalangan pemilih pedesaan, cenderung memilih calon legislatif perempuan yang religius.

Dalam konteks Islam, indikator penampilan religius pada foto calon legislatif perempuan diidentifikasi melalui penggunaan jilbab. Sementara itu, calon legislatif laki-laki dianggap lebih religius apabila mengenakan peci dan berjanggut.

Penelitian juga mencatat temuan tambahan terkait jilbab. Disebutkan bahwa jilbab atau hijab dapat menarik pemilih dari berbagai latar belakang sosial dan turut menandakan status kelas sosial. Perempuan berpendidikan tinggi disebut memiliki kemungkinan lebih besar mengenakan jilbab, yang juga dipandang sebagai pakaian yang diterima untuk fungsi sosial. Selain itu, jilbab juga dipersepsikan sebagai penanda bahwa pemakainya adalah perempuan yang alim dan dewasa.

Di sisi lain, penelitian tersebut menemukan bahwa laki-laki berpenampilan religius memperoleh suara lebih sedikit dibanding laki-laki berpenampilan sekuler. Alasannya, sikap konservatif dinilai kalah dominan dibanding nilai-nilai pluralis yang lebih umum di Indonesia.

Penulis artikel menilai temuan penelitian ini memiliki relevansi bagi partai politik yang akan mengikuti pemilu legislatif 2029. Salah satu poin yang ditekankan adalah perlunya partai mengidentifikasi segmen pemilih Muslim di tiap wilayah serta menyesuaikan strategi komunikasi politik berdasarkan psikologi pemilih di daerah masing-masing.