Anggota DPR RI Komisi II dari Dapil Jawa Tengah VI, Azis Subekti, menyoroti kondisi Danau Menjer di kawasan pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, yang dinilai menghadapi tekanan akibat keputusan pembangunan manusia. Danau yang selama puluhan tahun berperan menahan air hujan, menenangkan aliran, dan menopang kehidupan warga sekitar, kini disebut mengalami perubahan yang memicu kekhawatiran.
Perhatian publik meningkat setelah beredar gambar-gambar dari Desa Maron, Kecamatan Garung, yang memperlihatkan tumbuhnya bangunan-bangunan komersial di kawasan tangkapan air. Dalam catatan tersebut, kawasan yang semestinya dilindungi disebut mengalami penggerusan sempadan, berkurangnya kemampuan tanah menyerap air (infiltrasi), serta percepatan sedimentasi.
Dampak perubahan itu, menurut catatan yang sama, mulai terlihat pada kondisi air dan lereng. Air yang sebelumnya jernih disebut lebih mudah keruh setelah hujan, sementara lereng yang dahulu menyerap air kini lebih sering mengalirkan lumpur.
Azis juga mencatat adanya kecurigaan warga terkait pembiaran. Kecurigaan itu, menurutnya, muncul dari pengalaman ketika batas larangan menjadi ruang tawar, dan ketika izin dinilai tidak jelas namun bangunan tetap berdiri. Ia menilai situasi tersebut dapat mengikis kepercayaan publik, sementara tata ruang seharusnya menjadi komitmen antargenerasi agar pembangunan hari ini tidak memicu bencana di masa depan.
Dalam pandangannya, percepatan pariwisata tanpa prasyarat ekologis berisiko memindahkan beban ke masa depan. Danau vulkanik seperti Menjer disebut memiliki daya dukung terbatas, sehingga kerusakan fungsi hidrologis akan membuat pemulihan jauh lebih mahal dibanding pemasukan jangka pendek.
Ia menegaskan, yang terancam bukan hanya ekosistem, tetapi juga keselamatan warga. Risiko yang dikhawatirkan mencakup banjir bandang di hilir, longsor lereng, serta penurunan kualitas air yang pada akhirnya berdampak pada kebutuhan rumah tangga.

