Sarajevo Masuk 10 Kota Paling Tercemar di Dunia, AQI Sempat Tembus 400

Sarajevo Masuk 10 Kota Paling Tercemar di Dunia, AQI Sempat Tembus 400

Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, mengalami episode polusi udara parah pada Kamis (22/1/2026) malam. Pada pukul 21.30, Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) dilaporkan melampaui angka 400, level yang dikategorikan sangat berbahaya.

Pada kondisi tersebut, konsentrasi partikel halus PM2.5 disebut berkali-kali lipat lebih tinggi dibanding pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kabut asap tebal dilaporkan menyelimuti kota dan membuat jarak pandang berkurang drastis.

Dalam pemantauan pada waktu yang sama, Sarajevo tercatat sebagai kota besar dengan tingkat polusi tertinggi dan termasuk dalam jajaran 10 kota paling tercemar di dunia.

Meski situasi pada malam itu memburuk, data rata-rata tahunan menunjukkan gambaran yang berbeda. Rata-rata konsentrasi PM2.5 Sarajevo pada 2024 tercatat 30,8 µg/m³, setara AQI 90 atau kategori sedang. Namun angka tersebut tetap sekitar 6,16 kali lebih tinggi daripada pedoman tahunan WHO sebesar 5 µg/m³.

Kondisi kualitas udara di Sarajevo dapat berubah cepat sepanjang hari. Karena itu, pemantauan real-time diperlukan untuk mengetahui tingkat polusi terkini.

Perkiraan membaik pada 23 Januari

Kualitas udara di Sarajevo diperkirakan membaik signifikan pada Jumat (23/1/2026) sekitar pukul 07.00 PT. AQI diproyeksikan turun ke kisaran sedang seiring curah hujan yang membantu membersihkan polutan di udara.

Perbaikan juga diperkirakan berlanjut dalam beberapa hari berikutnya karena hujan yang terus terjadi dan ventilasi udara yang lebih baik dapat menekan penumpukan polusi. Meski demikian, episode polusi udara berat disebut sebagai masalah berulang pada musim dingin di Sarajevo.

Faktor penyebab polusi

Sejumlah faktor disebut berkontribusi terhadap buruknya kualitas udara di Sarajevo. Pertama, pemanasan rumah. Diperkirakan 30.000–40.000 rumah tangga masih bergantung pada kayu lembap, biomassa, serta kompor yang tidak efisien, yang dapat menghasilkan emisi PM2.5 dalam jumlah besar.

Kedua, faktor geografis. Sarajevo berada di lembah yang dikelilingi pegunungan, sehingga polutan lebih mudah terperangkap dan aliran udara melemah, terutama pada musim gugur dan musim dingin.

Ketiga, emisi industri dan kendaraan. Kendaraan, pabrik, serta pembangkit listrik tenaga batu bara yang sudah tua disebut menjadi sumber utama emisi nitrogen oksida (NOx) dan sulfur dioksida (SO₂) di kawasan tersebut.

Keempat, kondisi cuaca. Inversi suhu dan udara dingin pada musim gugur dan musim dingin memperburuk akumulasi polutan di dekat permukaan.

Langkah perlindungan saat polusi tinggi

Dalam kondisi kualitas udara yang buruk, sejumlah langkah pencegahan yang disarankan antara lain menutup pintu dan jendela serta mengatur sistem ventilasi rumah ke mode resirkulasi. Warga juga disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan; jika harus keluar, penggunaan masker KN95/FFP2 dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Selain itu, penggunaan pembersih udara berkinerja tinggi dapat membantu menyaring partikel dan polutan di dalam ruangan.