Psikologi politik mempelajari bagaimana faktor-faktor psikologis memengaruhi keyakinan, sikap, dan perilaku seseorang dalam ranah politik. Salah satu emosi yang kerap muncul dalam situasi politik yang tegang adalah rasa muak terhadap individu atau kelompok tertentu. Emosi ini tidak muncul begitu saja, melainkan dapat dipahami melalui sejumlah mekanisme psikologis yang saling berkaitan.
Salah satu penjelasan datang dari Teori Landasan Moral yang dikembangkan oleh psikolog Jonathan Haidt dan Jesse Graham. Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki landasan moral yang berbeda-beda dalam menilai sesuatu. Salah satunya adalah landasan “kemurnian/kesucian”, yang terkait dengan kecenderungan menghindari hal-hal yang dianggap tidak suci atau menjijikkan. Dalam konteks politik, lawan pandangan dapat dipersepsikan melanggar norma kemurnian tersebut sehingga memicu rasa muak.
Selain itu, Teori Identitas Sosial menjelaskan bahwa individu cenderung mengelompokkan diri dan orang lain berdasarkan kesamaan tertentu, termasuk afiliasi politik. Ketika seseorang sangat melekat pada identitas kelompok politiknya, rasa muak terhadap kelompok lawan bisa menjadi cara untuk menegaskan perbedaan dan memperkuat solidaritas internal.
Faktor lain yang berperan adalah bias konfirmasi. Dalam bias ini, orang cenderung mencari informasi yang menguatkan keyakinan yang sudah dimiliki dan menghindari informasi yang menantangnya. Ketika seseorang dihadapkan pada informasi atau perilaku dari pihak yang berseberangan secara politik, ketidakselarasan itu dapat memunculkan reaksi emosional negatif, termasuk rasa muak.
Di lingkungan politik yang sangat terpolarisasi, dehumanisasi juga dapat terjadi. Proses ini membuat seseorang memandang pihak lain sebagai “kurang manusiawi” atau lebih rendah. Ketika dehumanisasi menguat, emosi negatif yang ekstrem—termasuk rasa muak—lebih mudah muncul dan bertahan.
Rasa muak juga dapat dipicu oleh persepsi ancaman. Dalam politik, pihak yang berbeda pandangan bisa dipandang sebagai ancaman terhadap nilai moral, tatanan sosial, cara hidup, atau kesejahteraan masyarakat. Persepsi ancaman ini dapat memicu respons emosional yang kuat, termasuk penolakan dan rasa muak.
Pengaruh media turut berkontribusi dalam membentuk emosi publik. Cara media membingkai isu, tokoh, atau kelompok tertentu—terutama jika bias atau sensasional—dapat memperkuat persepsi negatif dan mendorong reaksi emosional yang lebih keras.
Meski demikian, mekanisme psikologis di balik rasa muak dalam politik bersifat kompleks dan tidak selalu sama pada setiap orang. Tidak semua individu bereaksi dengan cara serupa ketika menghadapi perbedaan pandangan. Dalam situasi tertentu, upaya seperti meningkatkan empati, memperluas dialog, dan membangun pemahaman dapat membantu meredakan reaksi emosional negatif yang sering menyertai perselisihan politik.