Prospek Harga Emas Juli 2026: Tertekan Ekspektasi Suku Bunga, Dolar Menguat, dan Arus Keluar ETF

Prospek Harga Emas Juli 2026: Tertekan Ekspektasi Suku Bunga, Dolar Menguat, dan Arus Keluar ETF

Harga emas diperdagangkan di sekitar US$4.140 pada hari Selasa, turun sekitar 26% dari rekor tertinggi Januari di US$5.598 per ons. Pergerakan ini terjadi di tengah kombinasi faktor fundamental dan sinyal teknikal yang dinilai masih membuka ruang pelemahan lebih lanjut memasuki Juli 2026.

Sejumlah faktor disebut terus menekan harga, mulai dari perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat hingga arus keluar dari exchange-traded fund (ETF) emas. Di saat yang sama, pembelian bank sentral memberi dukungan, meski belum cukup untuk membalikkan tren penurunan.

Lima faktor yang menekan harga emas

Tekanan terhadap emas menguat setelah lonjakan inflasi AS yang dipicu kenaikan harga energi. Situasi ini bermula dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari, yang mendorong harga energi global naik. Dampaknya, inflasi AS tercatat mencapai 4,2% pada Juni, tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Kenaikan inflasi tersebut mengubah ekspektasi pasar terhadap Federal Reserve (The Fed). Pasar tidak lagi berfokus pada peluang pemangkasan suku bunga, melainkan mulai memperhitungkan potensi pengetatan. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September diperkirakan 47,1%, sedangkan peluang kenaikan 50 basis poin 11,1%. Total peluang pengetatan berada di sekitar 58%.

Ekspektasi kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga diperkirakan naik, biaya peluang memegang emas meningkat.

Selain itu, konflik Iran disebut mendorong penguatan dolar AS, sementara harga emas kerap bergerak berlawanan arah dengan dolar. Pada saat yang sama, kemajuan proses perdamaian AS-Iran dinilai mengurangi premi safe haven yang sebelumnya turut mengangkat harga hingga rekor pada Januari.

Tekanan berikutnya datang dari investor ETF. Data World Gold Council menunjukkan ETF emas kehilangan 16 ton pada Mei, dan arus keluar berlanjut pada Juni. Disebutkan pula sekitar 298 ton emas ETF berada dalam posisi rugi mendekati US$4.000, yang berpotensi menahan ruang reli. Dalam ukuran arus dana, rolling 90 hari sempat berada di sekitar US$30 miliar pada akhir Februari, namun kemudian turun ke kisaran minus US$5 miliar hingga minus US$10 miliar.

Faktor lain yang memperlemah minat pada emas adalah rotasi ke aset berisiko, terutama saham teknologi, yang mendorong aliran modal keluar dari aset defensif.

Faktor penahan: pembelian bank sentral dan pandangan sebagian pelaku pasar

Di tengah tekanan tersebut, pembelian emas oleh bank sentral menjadi salah satu penopang. Bank sentral dunia tercatat membeli emas 244 ton bersih pada kuartal pertama 2026, lebih tinggi dari rata-rata lima tahun terakhir.

Ketua The Fed Kevin Warsh juga menyatakan The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga setelah data tenaga kerja Juni dinilai lemah. Sementara itu, JPMorgan masih memperkirakan harga emas dapat mencapai US$4.500 pada kuartal keempat, dan Goldman Sachs menargetkan US$4.900 pada akhir tahun.

Sinyal teknikal: risiko breakdown pada grafik mingguan

Dari sisi teknikal, emas disebut terus membentuk lower high dan lower low sejak puncak Januari. Pada grafik mingguan, penurunan ini digambarkan membentuk pola head and shoulders. Bahu kiri berada di sekitar US$4.500 pada Oktober 2025, kepala pada rekor US$5.598, dan bahu kanan di kisaran US$4.850 pada April.

Garis neckline pola ini naik dari titik terendah November 2025 menuju area US$4.200, dan harga disebut berada dekat area tersebut. Jika penutupan candle mingguan terjadi dengan jelas di bawah neckline, target pergerakan harga terukur disebut berada pada rentang US$2.575–US$2.750, sekitar 35% di bawah harga saat ini.

Di bawahnya, area US$3.300 hingga US$3.400 juga disebut sebagai zona support yang pernah kuat. Emas sempat berkonsolidasi di area tersebut selama empat bulan pada 2025 sebelum mengalami reli parabola.

Momentum penurunan juga ditandai dengan pergerakan harga yang untuk pertama kalinya sejak 2024 berada di bawah rata-rata pergerakan 20 minggu. Rata-rata tersebut sebelumnya disebut kerap menopang tren naik, namun pada Mei justru menolak pantulan pemulihan dan kini bergerak menurun.

Grafik harian: channel menurun dan resistance di US$4.300–US$4.400

Pada grafik harian, emas digambarkan bergerak dalam channel paralel menurun sejak mencetak rekor. Garis tengah channel kini menjadi support sementara di sekitar US$4.141, namun level ini disebut telah gagal dua kali pada Februari dan Maret. Jika terjadi breakdown untuk ketiga kalinya, pola penurunan serupa dinilai bisa terulang hingga menyentuh batas bawah channel.

Menjelang akhir musim panas, batas bawah channel diperkirakan melintasi zona US$3.300 hingga US$3.400, atau sekitar 20% di bawah harga saat ini. Di sisi atas, zona US$4.300 hingga US$4.400 disebut kini menjadi resistance setelah sebelumnya berfungsi sebagai support dari Januari hingga awal Juni, lalu menolak upaya pemulihan pada pertengahan Juni.

Indikator supertrend juga disebut masih berada pada sinyal merah sejak rekor harga tertinggi.

Katalis Juli: risalah The Fed dan perkembangan AS-Iran

Arah harga emas pada Juli dinilai dapat dipengaruhi dua katalis utama. Pertama, rilis risalah rapat The Fed bulan Juni, serta perubahan peluang kenaikan suku bunga September yang sensitif terhadap data ekonomi. Kedua, potensi kesepakatan antara AS dan Iran yang dapat menurunkan harga energi dan membuka kembali ruang optimisme terhadap pemangkasan suku bunga.

Dalam skenario teknikal, level kunci yang disebut menjadi perhatian adalah penutupan harian di atas US$4.400. Jika itu terjadi, channel menurun berpotensi ditembus dan pola bearish dinilai bisa kehilangan kekuatannya.