Presiden Prabowo Subianto menargetkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dapat menyetor dana hingga US$50 miliar atau setara Rp800 triliun ke kas negara. Target itu disampaikan Prabowo dalam peringatan HUT ke-1 Danantara pada Rabu (11/3).
Dalam pidatonya, Prabowo menyatakan Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) diharapkan mampu mencatatkan return on assets (ROA) minimal 5%. Angka tersebut lebih rendah dibanding target sebelumnya yang pernah disampaikan, yakni 7%.
Prabowo menyebut total aset seluruh BUMN yang berada di bawah Danantara berada di kisaran US$1.000 miliar. Dengan asumsi ROA 5%, ia menilai Danantara perlu mengembalikan sekitar US$50 miliar kepada negara. “Kalau hanya 5% return on assets, berarti Danantara harus mengembalikan ke negara US$50 miliar atau Rp800 triliun. Jadi pimpinan Danantara, sasaranmu masih jauh,” kata Prabowo, seperti dikutip Jumat (13/3).
Prabowo juga menyinggung standar perusahaan global yang rata-rata dapat menghasilkan ROA 10% atau lebih. Namun, ia menilai target tersebut cukup tinggi sehingga pemerintah menetapkan sasaran 5%. Salah satu cara yang disebut untuk mengejar ROA 5% adalah meningkatkan penerimaan melalui dividen BUMN.
Selain dividen, peningkatan ROA diharapkan didorong lewat pengembangan investasi, antara lain pada surat berharga negara (SBN), pasar modal, serta investasi pada proyek-proyek strategis.
Namun bila merujuk pada capaian setoran dividen BUMN, target Rp800 triliun masih jauh dari realisasi. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyatakan Danantara mengantongi dividen sekitar Rp150 triliun yang diterima pada 2025 dari tahun buku 2024. Ia menyebut angka tersebut hampir dua kali lipat dibanding setoran dividen pada tahun sebelumnya, ketika Kementerian BUMN mengantongi Rp85,5 triliun dari seluruh BUMN.
“Tentu saja dividen itu setoran dari seluruh BUMN dan kemudian kami akan jadikan investasi,” kata Dony dalam acara IKA Fikom Unpad Executive Breakfast Meeting pada pertengahan Juni tahun lalu.
Dony menjelaskan, kenaikan dividen tidak lepas dari meningkatnya laba BUMN. Danantara mencatat total laba BUMN tahun buku 2024 mencapai sekitar Rp307 triliun. Sebagian laba dialokasikan untuk program penataan BUMN, sementara sisanya dibagikan sebagai dividen.
Ia juga menyampaikan Danantara kini mengelola dua superholding, yakni Danantara Asset Management untuk BUMN dan Danantara Investment Management untuk investasi. Menurutnya, pemisahan itu dirancang untuk memisahkan risiko dan mengoptimalkan penggunaan dana. Konsolidasi tersebut, kata Dony, memungkinkan dividen BUMN yang melebihi target APBN 2025 sebesar Rp98 triliun dikelola untuk penguatan BUMN dan investasi tanpa perlu melalui skema penyertaan modal negara (PMN).
Berdasarkan catatan dari delapan BUMN, Danantara setidaknya mengantongi Rp71,38 triliun. Kontributor terbesar berasal dari sektor perbankan, khususnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dengan total sekitar Rp50 triliun.
Di luar perbankan, dividen terbesar berasal dari PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan total dividen yang diterima Rp10,96 triliun. Nilai itu berasal dari kepemilikan 51,6 miliar lembar saham atau setara sekitar 52,09%.
Berikut rincian perolehan dividen Danantara dari delapan BUMN berdasarkan hasil RUPST:
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): dividen per saham Rp343,4; total dividen diterima Rp27,68 triliun; kepemilikan 80.610.976.875 saham (53,19%).
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): dividen per saham Rp466; total dividen diterima Rp22,62 triliun; kepemilikan 48.533.333.333 saham (52%).
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): dividen per saham Rp374,05; total dividen diterima Rp8,37 triliun; kepemilikan 22.378.387.749 saham (60%).
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN): dividen per saham Rp53,37; total dividen diterima Rp451,09 miliar; kepemilikan 8.420.666.647 saham (60%).
PT Jasa Marga Tbk (JSMR): dividen per saham Rp156,23; total dividen diterima Rp773,4 miliar; kepemilikan 5.080.509.839 saham (70%).
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR): dividen per saham Rp96,21; total dividen diterima Rp332,6 miliar; kepemilikan 3.457.023.004 saham (51,02%).
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): dividen per saham Rp212,46; total dividen diterima Rp10,96 triliun; kepemilikan 51.602.353.559 saham (52,09%).
PT Vale Indonesia (INCO): dividen per saham Rp54; total dividen diterima Rp193,5 miliar; kepemilikan 3.583.533.690 saham (34%).

