Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres pada menit ke-106 dalam final di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Senin dini hari, 20 Juli 2026. Gelar ini menjadi trofi dunia kedua Spanyol setelah 2010, sekaligus menggagalkan upaya Argentina mempertahankan gelar yang diraih empat tahun sebelumnya. Namun, jalannya turnamen juga menampilkan rangkaian peristiwa di luar lapangan yang membuat Piala Dunia 2026 kerap dibaca sebagai panggung yang memperlihatkan bertemunya olahraga dan kepentingan politik.
Salah satu momen paling menyita perhatian terjadi saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump turun ke lapangan bersama Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menyerahkan trofi. Ketika wajah Trump muncul di layar stadion, sebagian penonton menyambutnya dengan sorakan dan siulan yang, menurut laporan media, terdengar hingga siaran televisi. Trump tetap melanjutkan prosesi, berdiri memberi hormat saat lagu kebangsaan dikumandangkan, dan sempat memegang trofi sebelum diserahkan kepada tim juara. Meski demikian, laporan yang sama menyebut cemoohan itu tidak sebesar yang terjadi pada sejumlah acara olahraga lain yang ia hadiri belakangan.
Piala Dunia memang sejak lama tak sepenuhnya steril dari politik—mulai dari boikot era Perang Dingin hingga sengketa hak siar dan sponsor. Yang membuat edisi 2026 terasa berbeda adalah kombinasi konteksnya: turnamen pertama yang digelar bersama tiga negara (Amerika Serikat, Meksiko, Kanada), berlangsung di tengah sorotan terhadap kebijakan imigrasi AS, serta adanya relasi personal antara pemimpin negara tuan rumah dan pimpinan FIFA. Dalam 39 hari penyelenggaraan dengan 48 peserta di 16 kota, isu administratif seperti visa, penjadwalan latihan, hingga harga tiket, muncul berulang. Di saat yang sama, muncul pula kontroversi yang dianggap menyentuh ranah teknis pertandingan dan memicu pertanyaan tentang batas netralitas penyelenggara.
Di tribun VVIP final, Trump duduk tidak jauh dari Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, pertemuan yang terjadi setelah periode ketegangan diplomatik. Ketegangan itu antara lain terkait desakan Trump agar Spanyol memenuhi target belanja pertahanan NATO sebesar 5 persen dari produk domestik bruto. Menjelang final, Trump sempat melontarkan kritik keras terhadap Spanyol dan, dalam konteks KTT NATO di Ankara pada awal Juli 2026, disebut pernah memerintahkan penasihatnya menghentikan perdagangan dengan Madrid. Ketegangan juga dikaitkan dengan penolakan Sanchez memberi izin penggunaan pangkalan militer dan wilayah udara Spanyol untuk serangan AS ke Iran pada tahun yang sama.
Pemerintah Spanyol membantah tudingan Trump dengan menyampaikan data, termasuk pernyataan bahwa Spanyol mengalami defisit dagang dengan AS serta belanja pertahanan meningkat dari sekitar 0,9 persen menjadi dua persen PDB dalam beberapa tahun terakhir. Dalam perkembangan berikutnya, nada Trump dilaporkan melunak, dan keduanya sempat berbincang santai soal Piala Dunia di sela KTT Ankara.
Isu imigrasi menjadi sorotan lain yang melekat pada penyelenggaraan turnamen di AS. Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, dilaporkan gagal bertugas karena tidak bisa menyelesaikan izin masuk. Sejumlah pendukung Skotlandia mengaku izin ESTA yang sudah disetujui dicabut menjelang keberangkatan setelah tiket dan akomodasi dibeli. Tim nasional Iran memindahkan kamp latihan dari Arizona ke Meksiko, sementara sejumlah pejabat Iran dilaporkan ditolak visanya. Seorang pemain Senegal juga disebut sempat diperiksa petugas keamanan di landasan bandara.
Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk menyerukan perombakan kebijakan imigrasi AS menjelang turnamen, dengan menyoroti potensi profiling rasial dan pengawasan berlebihan. Amnesty International menyatakan AS berada dalam kondisi darurat hak asasi manusia dan mencatat lebih dari 500.000 orang dideportasi sepanjang 2025. Amnesty juga mendesak FIFA memastikan tidak ada penegakan hukum imigrasi di sekitar venue pertandingan. Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS menyatakan kesiapannya menyambut pengunjung dari seluruh dunia, sekaligus menunjukkan besarnya sorotan internasional terhadap kebijakan ini.
Pertanyaan mengenai netralitas FIFA mengemuka dalam dua episode terpisah. Pada babak 32 besar, penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun sempat menerima kartu merah dan sanksi larangan bermain satu laga saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina. Trump menyatakan telah menelepon Infantino untuk meminta peninjauan ulang, dan FIFA kemudian mencabut sanksi tersebut sehingga Balogun dapat bermain di babak 16 besar. Keputusan ini memicu kritik dari UEFA dan sejumlah asosiasi nasional, meski pada akhirnya tidak mengubah hasil karena AS tetap tersingkir setelah kalah 1-4 dari Belgia.
Episode lain terjadi sebelum turnamen, ketika Cristiano Ronaldo menerima kartu merah langsung dalam laga kualifikasi Portugal melawan Irlandia pada November 2025 yang semestinya membuatnya absen di sejumlah laga awal Piala Dunia. Beberapa hari setelah menghadiri jamuan makan malam di Gedung Putih bersama Trump, FIFA memangkas sisa sanksinya dari dua laga menjadi masa percobaan. FIFA tidak mengaitkan keputusan itu dengan kunjungan Ronaldo, dan pemberitaan media olahraga internasional menggambarkannya sebagai kebetulan yang memicu spekulasi publik, bukan fakta yang terbukti. Namun kedekatan personal Infantino dengan Trump, termasuk kontroversi ketika Trump tetap berada di podium perayaan Piala Dunia Antarklub 2025, membuat spekulasi tentang pengaruh politik sulit sepenuhnya dihindari.
Bagi Spanyol, gelar juara hadir di tengah situasi politik yang juga tidak sederhana: pemerintah Sanchez menghadapi negosiasi soal anggaran pertahanan NATO dan tekanan dagang. Kehadiran Raja Felipe VI, Ratu Letizia, serta kedua putri mereka di tribun menjadi penegasan bahwa kemenangan sepak bola kerap dipakai sebagai panggung persatuan nasional. Di saat yang sama, pujian Trump bahwa Spanyol telah “menebus kesalahan” soal anggaran pertahanan sesaat sebelum final menunjukkan bagaimana narasi olahraga dan diplomasi dapat saling menguatkan.
Turnamen ini juga sempat bersinggungan dengan isu Israel–Palestina melalui jejak dua pemain yang bertemu di final. Pada Mei 2026, saat Barcelona merayakan gelar Liga Spanyol ke-29, Lamine Yamal mengibarkan bendera Palestina di atas bus terbuka di depan sekitar 750 ribu orang. Aksi itu menuai kecaman dari Menteri Pertahanan Israel Israel Katz. Pelatih Barcelona saat itu, Hansi Flick, mengaku secara pribadi tidak menyukai langkah tersebut, tetapi membiarkannya sebagai sikap personal Yamal. Sanchez membela Yamal dengan menyebut Spanyol bangga karena pemerintahnya telah mengakui negara Palestina. Dukungan juga datang dari Gaza, ketika seniman Palestina Obay Kareem melukiskan wajah Yamal membawa bendera Palestina di dinding rumah sakit yang rusak di kamp pengungsi Shati, Kota Gaza.
Di sisi lain, Lionel Messi memiliki jejak berbeda. Pada 2013, dalam tur pramusim Barcelona bertajuk misi perdamaian, Messi mengunjungi Tembok Ratapan di Yerusalem, mengenakan kippah, dan bertemu Presiden Israel saat itu, Shimon Peres. Catatan media pada periode tersebut juga menyebut rangkaian agenda yang mencakup kunjungan ke Tepi Barat serta laga eksebisi yang melibatkan pemain Israel dan Palestina. Sepanjang kariernya, Messi dikenal lebih menghindari pernyataan politik terbuka dibanding Diego Maradona.
Kekalahan Argentina menutup babak emosional bagi Messi, yang terlihat menangis usai pertandingan dan disebut sejumlah media mungkin memainkan Piala Dunia terakhirnya. Presiden Argentina Javier Milei tidak hadir di final; menurut pernyataan Trump, alasannya terkait takhayul, bukan sikap politik tertentu. Trump juga menyebut Milei sebagai temannya dan memuji kinerjanya—sebuah pernyataan yang mencerminkan posisi politik Trump sendiri. Di lapangan, Argentina mencatat 24 pelanggaran dengan tujuh kartu kuning; salah satunya membuat Enzo Fernandez terkena akumulasi kartu. Leandro Paredes juga menerima kartu merah setelah laga usai akibat insiden di luar lapangan.
Rangkaian peristiwa sepanjang Piala Dunia 2026 membuat turnamen ini tidak hanya dibicarakan sebagai kompetisi sepak bola, melainkan juga sebagai gambaran tentang bagaimana kebijakan negara tuan rumah, dinamika diplomatik, serta relasi di tingkat elite dapat ikut mewarnai penyelenggaraan ajang global. FIFA berulang kali menegaskan independensinya, tetapi edisi 2026 menunjukkan bagaimana klaim itu diuji oleh sorotan publik, kontroversi, dan keputusan yang memicu perdebatan.
Di tengah euforia gelar kedua Spanyol dan kekecewaan Argentina, Piala Dunia 2026 meninggalkan pertanyaan yang terus relevan: sejauh mana perhelatan olahraga terbesar di dunia dapat menjaga jarak dari tarik-menarik kepentingan politik ketika ia berlangsung di wilayah kedaulatan negara yang memiliki agenda dan kebijakannya sendiri.