Suriah memasuki babak baru setelah lebih dari setengah abad berada di bawah kekuasaan keluarga Assad. Dalam serangan kilat selama 12 hari, kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dan faksi-faksi sekutunya mempercepat jatuhnya Presiden Bashar al-Assad. Pemimpin HTS Abu Muhammed al-Jolani menyebut tumbangnya Assad sebagai “kemenangan bagi semua warga Suriah”.
Namun, arah Suriah pasca-Assad tidak hanya ditentukan oleh HTS. Di dalam negeri, terdapat beragam komunitas minoritas, faksi, dan kelompok agama. Di luar Suriah, sejumlah negara dan kelompok berkepentingan yang langkah-langkahnya dapat berdampak pada keamanan kawasan hingga politik global.
Ali Bilgic, profesor hubungan internasional dan politik Timur Tengah di Universitas Loughborough, Inggris, menilai Suriah menjadi penting bukan hanya bagi Timur Tengah, melainkan juga bagi dunia karena dalam satu dekade terakhir negara itu menjadi arena persaingan berbagai kekuatan geopolitik. Ia mengatakan runtuhnya rezim Assad memutus hubungan penting antara Iran dan Hizbullah di Lebanon selatan serta proyek yang kerap disebut sebagai “Bulan Sabit Syiah”, yakni jalur wilayah berpenduduk mayoritas Syiah dari Iran, melalui Irak selatan, hingga Suriah—yang kini disebutnya terpecah.
Bilgic juga menilai salah satu konsekuensi utama dari perubahan ini adalah Rusia dan Iran telah mencapai batas pengaruh mereka di kawasan, yang berpotensi berdampak pada politik global. Meski Moskow dan Teheran digambarkan sebagai pihak yang paling dirugikan, sejumlah aktor lain juga diperkirakan ikut terdampak oleh tatanan baru di Suriah.
Turki: mengawasi transisi dan menahan pengaruh Kurdi
Turki, yang telah melancarkan beberapa operasi militer di Suriah, kini secara efektif menguasai wilayah di sepanjang perbatasan utara Suriah. Ankara juga mendukung faksi-faksi yang memerangi Assad, termasuk Tentara Nasional Suriah dan Tentara Pembebasan Suriah.
Namun, menurut laporan dalam berita ini, musuh utama Turki bukanlah Assad, melainkan pasukan Kurdi yang dituduh mendukung kelompok separatis bersenjata di Turki. Sejumlah analis menyebut Turki kemungkinan memberi persetujuan diam-diam atas serangan HTS, seiring Presiden Recep Tayyib Erdogan yang menyuarakan dukungan terhadap gerakan pemberontak.
Bilgic menilai Turki merupakan “pemenang utama” dari jatuhnya Assad. Meski Ankara juga menganggap HTS sebagai organisasi teroris—seperti halnya Amerika Serikat dan Inggris—Bilgic mengatakan Turki, berdasarkan apa yang diketahui, telah membantu HTS melepaskan citra Islamisnya dan menjadi organisasi yang lebih politis serta moderat.
Ke depan, kepentingan Turki disebut berfokus pada siapa yang akan mengambil alih kekuasaan di Damaskus dan pada upaya mencegah meluasnya pengaruh kelompok Kurdi. Bilgic menyatakan Ankara tidak menginginkan federasi atau konfederasi yang membuka jalan bagi wilayah otonomi Kurdi di Suriah, dan lebih menginginkan pemerintahan terpusat.
Qatar dan Arab Saudi: pengaruh dalam pemerintahan transisi
Dalam beberapa hari terakhir, muncul laporan bahwa Qatar—yang disebut telah lama mendukung HTS—tampak memimpin upaya negara-negara Arab untuk membentuk pemerintahan transisi di Suriah. Pada Minggu (08/12), Qatar menekankan perlunya menjaga lembaga-lembaga nasional dan perusahaan negara agar Suriah tidak jatuh ke dalam kekacauan.
Bilgic menilai Turki dan Qatar telah lama bekerja sama karena kepentingan politik mereka di Suriah dinilai serupa. Ia menyebut kepentingan utama Qatar adalah mencegah terbentuknya rezim “satelit” yang didukung Arab Saudi, yang disebut sebagai pesaing utamanya di kawasan. Qatar juga dinilai telah meningkatkan profil internasionalnya melalui peran mediasi dalam perang Israel di Gaza, sehingga dipandang berpotensi menjadi pemain berpengaruh dalam pembentukan politik Suriah yang baru.
Qatar juga mendesak penerapan resolusi Dewan Keamanan PBB yang selama bertahun-tahun menyerukan pembentukan pemerintahan baru Suriah yang mencakup rezim Assad dan oposisi.
Pasukan Kurdi: mempertahankan wilayah dan posisi tawar
Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang sebagian besar terdiri dari suku Kurdi dan faksi-faksi yang didukung Amerika Serikat dan Uni Eropa, juga berkepentingan dalam pembentukan pemerintahan baru. Mereka memperkuat kendali di beberapa kota di timur laut Suriah dan membentuk daerah otonom.
Namun, perjuangan utama mereka disebut berkaitan dengan Turki. Pemerintah Turki memandang suku Kurdi di Suriah sebagai ancaman keamanan nasional karena dituding memiliki keterkaitan dengan PKK.
Bilgic menekankan pengaruh kelompok-kelompok ini besar, tidak hanya dalam perang saudara melawan pasukan Assad, tetapi juga dalam mengalahkan ISIS. Ia memperingatkan potensi ketidakstabilan di Suriah utara jika Turki memutuskan melancarkan serangan dalam beberapa hari atau pekan mendatang. Untuk saat ini, suku Kurdi diperkirakan akan bertekad mempertahankan wilayah dan berharap terlibat dalam pemerintahan Suriah yang baru.
Amerika Serikat dan Rusia: arah keterlibatan dan taruhan pangkalan militer
Bilgic menilai langkah para aktor utama di Suriah akan sangat bergantung pada Amerika Serikat. Bagi Washington, jatuhnya rezim Assad dipandang sebagai tanda positif karena AS sejak 2011 berupaya mengganti pemerintahan Suriah secara langsung atau tidak langsung.
Presiden AS Joe Biden pada Minggu (08/12) menyebut situasi di Suriah sebagai “masa penuh risiko dan ketidakpastian” bagi kawasan. Namun, masa jabatannya disebut tinggal beberapa pekan lagi. Sementara itu, Presiden terpilih Donald Trump pada Sabtu (07/12) menyatakan rangkaian peristiwa di Suriah sebagai “bukan perjuangan kita”.
Bilgic mengatakan, jika AS benar-benar memutuskan tidak terlibat, kekosongan dapat diisi oleh aktor lain, termasuk Rusia. Dalam skenario itu, Rusia diperkirakan berupaya mempertahankan pangkalannya di Suriah—terutama pangkalan angkatan laut yang menjadi pusat operasi Rusia untuk kawasan Afrika sub-Sahara.
Meski peran AS dalam perang saudara Suriah kerap berubah, Bilgic menilai sulit membayangkan presiden AS mana pun benar-benar tidak tertarik pada Suriah. Ia menyebut ada banyak hal yang dipertaruhkan bagi AS, termasuk kebutuhan dukungan bagi kelompok Kurdi yang mengendalikan dan memelihara sejumlah kamp penahanan mantan anggota ISIS beserta keluarga mereka.
Washington menempatkan sekitar 900 tentara di wilayah pengeboran minyak mentah di timur laut Suriah yang dikuasai suku Kurdi, serta memiliki pangkalan militer di sebelah tenggara. Bilgic menilai isu lain yang akan mengemuka dalam transisi adalah siapa yang akan mengendalikan sumber daya alam Suriah, terutama minyak dan gas. Ia menyebut siapa pun pemegang kekuasaan di Damaskus kemungkinan tidak akan membiarkan Kurdi menguasai sepenuhnya minyak dan gas Suriah utara—dan dalam konteks itu, pasukan AS diperkirakan tetap berada di wilayah tersebut untuk melindungi kepentingan mereka.
Iran dan Hizbullah: jalur pasokan terputus dan pengaruh tertekan
Iran, pendukung utama rezim Assad, menyatakan berharap tetap menjalin hubungan “persahabatan” dengan Suriah. Sebelumnya, Teheran memberikan dukungan militer signifikan kepada pasukan Assad serta melatih salah satu pasukan paramiliter yang memerangi kelompok oposisi bersenjata selama perang saudara.
Namun, koresponden BBC Timur Tengah Hugo Bachega menyebut pengaruh Iran kini tertekan. Di bawah Assad, Suriah disebut menjadi kunci hubungan Iran dengan Hizbullah, terutama sebagai jalur transfer senjata dan amunisi. Hizbullah sendiri disebut melemah di Lebanon setelah perang dengan Israel. Bachega juga menyinggung bahwa sejumlah faksi yang disebut Teheran sebagai Poros Perlawanan—termasuk Houthi di Yaman, milisi di Irak, dan Hamas di Gaza—dilaporkan sedang terpukul.
Sejumlah analis menilai jatuhnya pemerintahan Assad menjadi pukulan telak bagi Hizbullah. Jurnalis BBC Arab Carine Torbey mengatakan Suriah yang selama ini menjadi tulang punggung dan jalur pasokan utama Hizbullah kini terputus.
Israel: kekhawatiran senjata kimia dan langkah di Dataran Tinggi Golan
Perkembangan di Suriah juga memunculkan kekhawatiran di Israel. Setelah lebih dari setahun berperang di Gaza dan Lebanon, tentara Israel disebut berada dalam tekanan, tetapi Israel tetap melancarkan serangan terhadap target militer di Suriah.
Warga Israel dilaporkan khawatir soal siapa yang dapat menguasai persenjataan kimia milik Bashar al-Assad. Sejak Assad jatuh pekan lalu, pesawat tempur Israel disebut telah melancarkan puluhan serangan di berbagai wilayah Suriah. Media lokal melaporkan salah satu lokasi yang diserang adalah pusat penelitian yang diduga terkait produksi senjata kimia.
Pada Minggu (08/12), pemerintah Israel mengumumkan tentaranya mengambil alih sementara zona demiliterisasi di Dataran Tinggi Golan. Israel juga menyatakan perjanjian penarikan pasukan dengan Suriah tahun 1974 telah “runtuh” karena pasukan Suriah meninggalkan pos mereka.
Israel merebut Dataran Tinggi Golan pada akhir Perang Enam Hari 1967 dan mencaplok wilayah itu pada Desember 1981. Diperkirakan terdapat sekitar 30 pemukiman Yahudi dengan sekitar 20.000 penduduk, yang tinggal bersama sekitar 20.000 warga Suriah lainnya—sebagian besar warga Arab Druze. Pemukiman tersebut disebut ilegal menurut hukum internasional, meski Israel membantahnya. Suriah selama ini menegaskan tidak akan menerima perjanjian damai dengan Israel tanpa penarikan dari seluruh Dataran Tinggi Golan.
Dalam konteks pemberontakan Suriah pada 2011, Israel disebut memperhitungkan bahwa Assad lebih baik dibanding jika rezimnya tumbang. Kini, dengan tumbangnya Assad, berbagai kepentingan yang saling bertabrakan—dari perebutan pengaruh politik, keamanan perbatasan, hingga kontrol sumber daya—diperkirakan akan ikut menentukan bentuk Suriah selanjutnya.

