Peristiwa di kawasan Cipete, Jakarta, belakangan menyita perhatian publik. Di tengah ramainya perbincangan, termasuk di media sosial, insiden yang kerap dipersepsikan sebagai drama “polisi vs jaksa” itu dinilai menyimpan pelajaran strategis yang lebih besar.
Penilaian tersebut disampaikan Zakir Sabara H Wata, Wakil Rektor II Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, dalam analisisnya mengenai peristiwa Cipete. Ia menekankan bahwa pembacaan atas kejadian ini sebaiknya tidak berhenti pada kegaduhan opini dan spekulasi, melainkan diarahkan pada gambaran yang lebih luas.
Menurutnya, peristiwa Cipete merupakan “alarm keras” sekaligus pengingat bahwa metode dan paradigma penyidikan hukum di Indonesia sedang mengalami pergeseran yang drastis. Ia menyebut perubahan ini sebagai bagian dari lahirnya pendekatan penegakan hukum berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dalam analisanya, Zakir menyampaikan catatan bahwa ia tidak bermaksud membela institusi mana pun dan tidak menempatkan diri untuk menentukan siapa yang benar atau salah di lapangan. Ia menegaskan posisinya sebagai akademisi yang ingin mengajak publik melihat aspek strategis yang kerap luput dari sorotan ketika diskusi didominasi komentar gaduh.
Ia juga mengaitkan momentum perhatian publik terhadap peristiwa Cipete dengan situasi jeda babak delapan besar Piala Dunia 2026, seraya mengajak masyarakat memberi ruang sejenak untuk mencermati makna yang lebih dalam dari kejadian tersebut.