Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menilai fenomena “Tembok Ratapan Solo” bukan sekadar satire biasa yang disampaikan masyarakat kepada mantan pemimpinnya. Menurut dia, kemunculan simbol kritik tersebut menunjukkan adanya ekspresi publik yang berseberangan dengan narasi kesuksesan dan warisan kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
“Ratapan Solo menjadi ekspresi kontradiktif dengan narasi kesuksesan Jokowi maupun legacy yang diberikan Jokowi untuk negeri ini,” kata Efriza kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Kamis, 19 Februari 2026.
Efriza mengatakan, melalui satire itu publik mengekspresikan kegeraman terhadap sejumlah isu yang dikaitkan dengan Jokowi, termasuk perilaku dan komunikasi politiknya. Ia menyebut persepsi publik dinilai masih tinggi dan negatif terkait tudingan “cawe-cawe” Jokowi dalam Pilpres.
Selain itu, Efriza menilai publik juga merasa jenuh dengan proses kasus dugaan ijazah palsu yang membelit Jokowi, serta kasus korupsi sejumlah mantan menteri yang menurutnya turut menyeret nama Jokowi.
Ia juga menyinggung komunikasi politik Jokowi yang dinilai sebagian pihak menunjukkan hasrat mempertahankan pengaruh kekuasaan, termasuk sikapnya yang ingin turun langsung membantu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurut Efriza, berbagai isu dan sikap tersebut kemudian diekspresikan melalui simbol “Tembok Ratapan Solo”.
Magister Ilmu Politik dari Universitas Nasional (UNAS) itu menilai kekecewaan publik terhadap Jokowi pada tahun ini telah memuncak hingga diwujudkan dalam simbol-simbol kritik. Ia menjelaskan, kata “ratapan” dapat dimaknai sebagai ekspresi kekecewaan, kemarahan, penyesalan yang mendalam, serta kesedihan, yang diarahkan kepada kediaman Jokowi sebagai mantan presiden.

