Pengamat: Kepindahan Rusdi Masse dari NasDem ke PSI Wajar dalam Dinamika Politik Pasca Pemilu

Pengamat: Kepindahan Rusdi Masse dari NasDem ke PSI Wajar dalam Dinamika Politik Pasca Pemilu

MAKASSAR — Kepindahan Rusdi Masse (RMS) dari Partai NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai sebagai dinamika politik yang wajar dalam fase transisi pasca pemilu dan pilkada.

Pengamat politik Muhammad Asratillah menilai RMS merupakan figur sentral yang telah lama berkontribusi besar dalam membesarkan NasDem di Sulawesi Selatan. Menurutnya, perpindahan tersebut perlu dilihat secara jernih sebagai bagian dari pergerakan politik yang lazim terjadi setelah kontestasi elektoral.

Asratillah menjelaskan, keputusan seorang aktor politik dengan jaringan, pengalaman, dan pengaruh seperti RMS umumnya bukan diambil secara emosional, melainkan melalui kalkulasi panjang. Pertimbangan itu, kata dia, berkaitan dengan ruang gerak manuver politik, peran strategis ke depan, serta arah kekuasaan nasional.

Ia menilai, di PSI RMS berpotensi memperoleh posisi yang lebih strategis dan ruang aktualisasi yang lebih luas dibandingkan jika bertahan di partai besar dengan struktur yang sudah mapan.

Dari sisi PSI, masuknya RMS disebut menjadi keuntungan besar, khususnya di Sulawesi Selatan. Asratillah menyebut PSI mendapatkan figur lokal yang memahami medan sosial-politik Sulsel, memiliki relasi dengan banyak kepala daerah, serta terbiasa bekerja dengan mesin politik yang nyata.

Kehadiran RMS dinilai dapat mempercepat pembesaran PSI di Sulsel menjelang pemilihan legislatif dan pilkada mendatang. Namun, ia mengingatkan adanya tantangan yang perlu dikelola, terutama agar RMS tidak hanya ditempatkan sebagai magnet suara, melainkan juga berperan sebagai penggerak organisasi. Jika tidak, PSI dinilai berisiko terjebak pada politik figur tanpa penguatan struktur jangka panjang.

Sementara bagi NasDem, kepergian RMS dipandang meninggalkan kekosongan, terutama di Sulawesi Selatan. Asratillah menyebut RMS selama ini berperan sebagai figur pemersatu dan penggerak mesin politik, sehingga dampaknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi dapat muncul secara bertahap dalam bentuk melemahnya konsolidasi dan menurunnya daya mobilisasi di sejumlah wilayah basis.

Meski demikian, ia menegaskan NasDem tetap memiliki peluang besar untuk bertahan kuat karena merupakan partai besar dengan sumber daya dan kader yang tidak sedikit. Menurutnya, masa depan NasDem di Sulsel sangat bergantung pada kecepatan menata ulang kepemimpinan daerah serta menghadirkan figur pengganti yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga memiliki legitimasi sosial.

Asratillah menilai dinamika ini berpotensi membuat peta politik Sulawesi Selatan semakin kompetitif. Ia menekankan tidak ada partai yang benar-benar aman, dan tidak ada partai yang otomatis besar tanpa kerja organisasi yang serius. Kepindahan RMS ke PSI disebut bisa menjadi awal pergeseran peta kekuatan, namun hasil akhirnya akan ditentukan oleh kerja masing-masing partai.