Pembajakan Landshut 1977: Upaya Membebaskan Tahanan RAF dan Puncak “Musim Gugur Jerman”

Pembajakan Landshut 1977: Upaya Membebaskan Tahanan RAF dan Puncak “Musim Gugur Jerman”

Pada 1970-an, sejumlah negara menghadapi gelombang perlawanan anti-imperialis bergaya urban. Di Timur Tengah ada Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), di Irlandia muncul Tentara Republik Irlandia (IRA), di Spanyol ada Euskadi ta Askatasuna (ETA), di Italia dikenal Brigade Merah, sementara di Jepang muncul Tentara Merah Jepang (JRA). Kelompok-kelompok ini memiliki kesamaan: berideologi kiri atau radikal, bergerak secara bawah tanah, dan menggunakan kekerasan serta teror untuk mendorong tujuan politik mereka.

Di Jerman Barat, pola serupa tampak pada Faksi Pasukan Merah (Red Army Faction/RAF). Kelompok ini, yang pendirinya antara lain Andreas Baader, Gudrun Ensslin, dan Ulrike Meinhof serta didukung Jan-Carl Raspe dan Irmgard Möller, lahir dari gelombang protes mahasiswa 1968 dengan latar Marxisme dan anti-imperialisme. RAF memandang kemakmuran Jerman Barat pascaperang sebagai kedok dari sistem yang, menurut mereka, belum benar-benar lepas dari warisan otoritarianisme. Pemerintah Jerman Barat di bawah Kanselir Helmut Schmidt memilih pendekatan keras dan menolak bernegosiasi, membuat eskalasi konflik kian tajam.

Dalam situasi itu, RAF mencari dukungan jaringan internasional dan menjalin hubungan dengan PFLP. Tokoh yang menjadi penghubung penting adalah Wadie Haddad, pemimpin operasi eksternal PFLP yang dikenal menguasai strategi pembajakan pesawat dan serangan berskala besar. Pada 1970, para pendiri RAF dilaporkan melarikan diri dari penjara dan menuju Yordania untuk mengikuti pelatihan gerilya di kamp PFLP, termasuk keterampilan penggunaan senjata, taktik gerilya, dan pembajakan.

Tahun 1977 menjadi puncak kekerasan RAF. Pada 7 April 1977, Jaksa Agung Federal Siegfried Buback ditembak mati di Karlsruhe bersama sopir dan pengawalnya saat berhenti di lampu merah. Beberapa bulan kemudian, 30 Juli 1977, bankir Jürgen Ponto—kepala Dresdner Bank—dibunuh di rumahnya. Pada 5 September 1977, generasi kedua RAF menculik Hanns Martin Schleyer, mantan perwira SS Nazi yang kemudian menjadi presiden asosiasi pengusaha Jerman. Penculikan itu disertai serangan bersenjata yang menewaskan empat orang.

Kolaborasi RAF dan PFLP mencapai titik paling dramatis pada Oktober 1977 melalui pembajakan pesawat sipil. Peristiwa ini menjadi salah satu babak paling kelam dari Deutsche Herbst atau “Musim Gugur Jerman”.

Pada Kamis, 13 Oktober 1977, Boeing 737 bernama Landshut lepas landas dari Palma de Mallorca menuju Frankfurt dengan membawa 86 penumpang dan lima awak kabin. Sekitar 30 menit setelah penerbangan dimulai, empat militan PFLP—yang menyamar sebagai penumpang—mengambil alih pesawat dengan pistol dan bahan peledak. Mereka menyebut diri “Komando Martir Halimah”, dipimpin Zohair Youssif Akache asal Palestina yang menggunakan nama samaran Kapten Martir Mahmud. Tiga pembajak lainnya adalah Suhaila Sayeh (Palestina), Wabil Harb (Lebanon), dan Hind Alameh (Lebanon).

Mahmud menyerbu kokpit, mengusir kopilot, dan memaksa kapten mengubah arah. Kopilot Jürgen Vietor kemudian mengenang situasi awal pembajakan itu sebagai teror yang berlangsung lima hari. Pesawat dipaksa menempuh rute berputar melintasi Eropa dan Timur Tengah, beberapa kali mendarat dengan alasan keamanan.

Perhentian pertama adalah Roma untuk mengisi bahan bakar. Di sana, pembajak menyampaikan tuntutan: pembebasan 11 anggota RAF yang dipenjara di Jerman Barat, dua militan Palestina di Turki, serta uang tebusan 15 juta dolar. Otoritas Italia memilih mengisi bahan bakar dan membiarkan pesawat kembali terbang.

Dari Roma, Landshut menuju Larnaca, Siprus. Seorang utusan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mencoba bernegosiasi melalui radio, tetapi Mahmud menolak dan menegaskan kelompoknya berada di luar kendali struktur Palestina yang lebih moderat. Setelah ditolak mendarat di Beirut, Damaskus, dan Baghdad, pesawat akhirnya diterima di Bahrain pada dinihari 14 Oktober. Mahmud mengancam akan menembak kopilot jika pasukan setempat tidak mundur dari pengepungan, dan ancaman itu membuat pesawat dapat kembali lepas landas menuju Dubai.

Di Dubai, pesawat tertahan selama dua hari di bawah terik gurun. Kondisi di kabin memburuk: panas, pengap, dan kekurangan makanan serta air. Di tengah situasi itu, Kapten Jürgen Schumann berupaya mengirim petunjuk kepada pihak luar dengan menjatuhkan bungkus rokok berisi informasi ke landasan. Pada saat yang sama, pembajak disebut ceroboh dalam hal dokumentasi; pintu pesawat sempat dibuka karena cuaca panas sehingga fotografer dapat mengambil gambar dari kejauhan.

Tragedi memuncak di Aden, Yaman Selatan, ketika landasan diblokir dan pesawat melakukan pendaratan darurat di pasir. Schumann diizinkan keluar untuk memeriksa pesawat, tetapi keterlambatannya memicu kecurigaan Mahmud. Setibanya kembali, Schumann dieksekusi di hadapan penumpang lain. Setelah itu, tanggung jawab menerbangkan pesawat beralih kepada kopilot Jürgen Vietor, yang tetap bertahan bersama para sandera meski sempat ditawari kebebasan.

Landshut kemudian diarahkan ke Mogadishu, Somalia. Menurut laporan The New York Times edisi 18 Oktober 1977, Pemerintah Somalia awalnya menolak izin pendaratan, namun akhirnya mengalah ketika pesawat memasuki wilayah udara Somalia, karena khawatir penolakan akan membahayakan nyawa penumpang.

Di Mogadishu, pembajak mengeluarkan ultimatum: jika tuntutan tidak dipenuhi, pesawat akan diledakkan. Mereka juga menyiram sandera dengan alkohol dan menyebutnya akan membuat para sandera “terbakar lebih baik”. Salah satu awak kabin sempat mengirim pesan ke menara kontrol: “Kami tahu ini adalah akhir.”

Pemerintah Jerman Barat tetap menolak tunduk pada tuntutan pembajak. Operasi penyelamatan berisiko tinggi diluncurkan dengan sandi Feuerzauber. Misi ini ditangani GSG 9, unit kontra-terorisme elite yang baru dibentuk setelah kegagalan penanganan krisis Olimpiade Munich 1972. Dipimpin Ulrich Wegener, pembajakan Landshut menjadi ujian besar pertama mereka. Dua operator Special Air Service (SAS) Inggris turut mendampingi dan memperkenalkan granat kejut, sementara unit ranger Somalia membantu sebagai pengalih perhatian.

Pada malam 17 Oktober, negosiator di menara kontrol mengulur waktu dengan laporan palsu soal pembebasan tahanan RAF. Tepat pukul 00:05 pada 18 Oktober, operasi dimulai. Api besar dinyalakan di depan pesawat untuk memancing perhatian Mahmud ke kokpit sebagai sinyal penyerbuan. Mengacu pada harian Kompas edisi 19 Oktober 1977, pasukan anti-teror mendobrak pintu pesawat dalam tiga detik menggunakan dinamit, lalu melemparkan granat yang menyilaukan mata selama beberapa detik sehingga pembajak tidak berdaya.

Dalam hitungan menit, tiga pembajak tewas termasuk Mahmud, sementara pembajak keempat terluka parah. Seluruh 86 sandera selamat. Seorang anggota GSG 9 dan seorang pramugari dilaporkan mengalami luka ringan. Kode keberhasilan disampaikan lewat radio: “Frühlingszeit!” (Waktu Musim Semi!).

Namun, keberhasilan di Mogadishu segera dibayangi perkembangan lain. Pagi 18 Oktober 1977, beberapa jam setelah kabar pembebasan sandera, tiga tokoh utama RAF ditemukan tewas di sel Penjara Stammheim: Andreas Baader dengan luka tembak di kepala, Gudrun Ensslin dalam kondisi tergantung, serta Jan-Carl Raspe yang juga meninggal akibat luka tembak. Irmgard Möller selamat meski terluka parah. Pemerintah menyatakan kematian itu sebagai bunuh diri terkoordinasi, tetapi versi tersebut memicu kontroversi dan pertanyaan, termasuk soal bagaimana senjata bisa masuk ke penjara berkeamanan tinggi. Möller menyatakan ia tidak mencoba bunuh diri dan menyebut kematian rekan-rekannya sebagai pembunuhan oleh negara.

Bagi RAF yang masih bebas, kabar dari Stammheim menutup harapan pertukaran sandera. Hanns Martin Schleyer kemudian dieksekusi. Majalah Tempo edisi 5 November 1977 melaporkan jenazah Schleyer ditemukan di bagasi mobil Audi hijau di Mulhouse, Prancis. Dengan rangkaian peristiwa itu, fase paling intens dari konfrontasi Jerman Barat melawan terorisme domestik pada 1977 mencapai titik akhir.

Landshut kemudian menjadi simbol ingatan kolektif. Pesawat itu diperbaiki dan kembali beroperasi selama bertahun-tahun hingga pensiun pada 2008, lalu terbengkalai di Bandara Fortaleza, Brasil. Pada 2017—40 tahun setelah pembajakan—pemerintah Jerman membeli kembali bangkai pesawat dan membawanya pulang. Menteri Luar Negeri Sigmar Gabriel, seperti dikutip DW, menyebut penyelamatan Landshut sebagai simbol masyarakat bebas yang tidak dapat dikalahkan oleh ketakutan dan teror.