Pembahasan Tabel 5.3 Bab 5: Menganalisis Fakta, Asumsi, dan Opini pada Artikel Sejarah Kuliner Nusantara

Pembahasan Tabel 5.3 Bab 5: Menganalisis Fakta, Asumsi, dan Opini pada Artikel Sejarah Kuliner Nusantara

Bab 5 buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk kelas XII Kurikulum Merdeka memuat latihan analisis fakta, asumsi, dan opini. Pada halaman 161, siswa diminta mengisi Tabel 5.3 berdasarkan artikel “Menjajaki Sejarah Kuliner Nusantara” yang terdapat pada halaman 160.

Dalam materi tersebut, fakta dipahami sebagai informasi yang bersumber dari hal atau peristiwa yang benar-benar terjadi. Asumsi adalah dugaan yang diyakini benar dan kerap dijadikan landasan berpikir. Sementara opini merupakan pendapat atau pemikiran pribadi seseorang.

Berikut rangkuman pembahasan contoh fakta, asumsi, dan opini sebagaimana disajikan dalam latihan tersebut.

Fakta

Contoh fakta yang dicantumkan antara lain peristiwa pada World Expo Milan 2015 ketika Malaysia menyuguhkan rendang dan sate di paviliunnya. Fakta lain adalah peluncuran buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia di Kedai Tjikini, Jakarta, pada hari Sabtu. Disebutkan pula bahwa Fadly merupakan sejarawan Universitas Padjadjaran yang berfokus pada studi sejarah kuliner Indonesia.

Selain itu, buku tersebut memuat pembahasan mengenai akar pembentukan makanan di Indonesia sejak masa kuno hingga masa Presiden Sukarno, pengaruh global yang memperkaya khazanah kuliner Nusantara, perkembangan ilmu makanan dan gastronomi, hingga penyusunan buku masakan Indonesia.

Asumsi

Bagian asumsi memuat pernyataan bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia beberapa kali menghangat akibat klaim Malaysia terhadap sejumlah produk budaya Indonesia, termasuk rendang yang sempat disebut sebagai khas Malaysia. Asumsi lain menyebut fenomena “wisata kuliner” dan industri makanan di Indonesia berkembang menggairahkan dalam beberapa tahun terakhir.

Masih pada bagian yang sama, disebutkan bahwa hal tersebut menjadi salah satu misi Fadly menerbitkan buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia. Ada pula asumsi bahwa Andreas mengapresiasi penerbitan buku itu sebagai karya penting untuk menguak sejarah kuliner Indonesia karena bobot isinya.

Opini

Contoh opini dalam pembahasan itu antara lain pernyataan Fadly Rahman yang menilai klaim-klaim kuliner “menggelikan, bukan menggelisahkan”, dengan alasan makanan merupakan produk budaya yang mudah diadopsi, dimodifikasi, dan diduplikasi oleh siapa pun. Ia juga berpendapat sikap reaktif terhadap klaim kuliner menunjukkan minimnya literasi masyarakat terhadap budayanya sendiri, serta menilai studi budaya kuliner—terutama sejarahnya—masih serupa kondisinya.

Opini lainnya datang dari Andreas yang menyatakan dirinya merasa kesepian karena seakan-akan tidak ada yang mau menulis soal kuliner Indonesia. Ia juga menyampaikan pandangannya bahwa kelangkaan bukan berarti tidak ada sumber; menurutnya, sumber sejarah berupa teks serat bersifat implisit tetapi kaya nuansa karena selain peristiwa juga merekam suasana, sesuatu yang ia nilai tidak ditemukan dalam sumber Barat.

Pembahasan tersebut menjadi contoh cara mengelompokkan pernyataan dalam teks ke dalam kategori fakta, asumsi, dan opini sesuai definisi yang dipelajari pada Bab 5.