Empat bulan setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, Iran justru menggelar pemakaman kenegaraan berskala besar yang dihadiri delegasi dari lebih seratus negara. Prosesi yang disiarkan televisi pemerintah pada Jumat pagi, 3 Juli 2026, menampilkan iring-iringan kendaraan diplomatik memasuki Kompleks Mosalla Imam Khomeini di Teheran, sementara jutaan pelayat memadati lokasi.
Khamenei gugur bersama sejumlah anggota keluarganya, termasuk seorang cucu perempuan yang masih bayi, dalam serangan yang disebut menghantam ratusan target militer dan menewaskan ribuan personel Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kehadiran utusan dari berbagai kawasan—mulai dari Rusia, Tiongkok, Pakistan, negara-negara Asia Tengah dan Afrika, hingga tokoh-tokoh dari Palestina dan Hizbullah—membentuk kontras dengan absennya kepala negara atau pemerintahan dari Amerika Serikat dan Eropa Barat.
Skala pemakaman dan komposisi kehadiran internasional itu memunculkan pertanyaan yang mengemuka sejak perang 2026: bagaimana Iran yang diperkirakan akan goyah akibat kehilangan pemimpin tertingginya serta tekanan internal, justru menampilkan tanda-tanda konsolidasi legitimasi di dalam negeri dan pelebaran jejaring dukungan di luar negeri?
Generasi muda dan efek “rally around the flag”
Perang 2026 menjadi pengalaman pertama bagi banyak anak muda Iran—generasi yang lahir setelah perang Iran-Irak berakhir pada 1988—menyaksikan serangan langsung di kota mereka. Sejumlah kisah warga Teheran menggambarkan dampak serangan, mulai dari pengungsian sementara setelah depo minyak Shahran dibom hingga upaya bertahan hidup di tengah pemadaman internet. Lembaga pemantau NetBlocks dilaporkan mencatat konektivitas internet sempat tersisa sekitar satu persen dari kondisi normal.
Di saat yang sama, sejumlah media Barat mendokumentasikan unjuk rasa pro-pemerintah di berbagai kota, dengan warga mengibarkan bendera Republik Islam dan membawa potret Khamenei sebagai respons atas serangan. Sejumlah akademisi mengaitkan gejala ini dengan “rally around the flag effect”, yakni kecenderungan publik merapatkan barisan di belakang pemerintah ketika menghadapi ancaman eksternal.
Namun, solidaritas yang menguat di masa perang tidak serta-merta menghapus persoalan domestik. Inflasi tinggi, pengangguran, dan depresiasi mata uang tetap disebut membebani kehidupan warga. Meski demikian, dalam situasi ancaman eksternal yang mendadak, sebagian generasi muda dinilai mengutamakan stabilitas jangka pendek dan solidaritas nasional, sementara tuntutan perubahan politik tertunda.
Dari narasi isolasi ke kehadiran delegasi internasional
Pemakaman Khamenei juga menonjol karena jumlah negara yang mengirim perwakilan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut delegasi dari lebih seratus sepuluh negara dijadwalkan hadir dalam rangkaian enam hari, dimulai 3 Juli dan berpuncak di Kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, pada 9 Juli 2026.
Sejumlah nama yang disebut hadir antara lain Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev sebagai utusan khusus Presiden Vladimir Putin, delegasi tinggi Tiongkok yang dipimpin He Wei, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, serta sejumlah pemimpin dari Asia Tengah dan kawasan lain. Dari dunia Arab, Qatar dan Arab Saudi mengirim perwakilan setingkat wakil menteri. Tokoh-tokoh dari Palestina, termasuk Ziyad al-Nakhalah dari Jihad Islam Palestina, juga disebut berada di antara barisan pelayat.
Di sisi lain, tidak ada kepala negara atau kepala pemerintahan dari Amerika Serikat dan Eropa Barat yang hadir, dan sejumlah negara Barat disebut tidak mengirim delegasi tingkat tinggi. Konstelasi ini menegaskan adanya jarak politik dengan Barat, sekaligus memperlihatkan bahwa Iran tetap memiliki jaringan hubungan yang luas di luar poros tersebut.
Perang berlarut dan kemampuan balasan Iran
Serangan awal yang dilabeli sebagai Operasi Epic Fury digambarkan berlangsung intens. Dalam 12 jam pertama, militer Amerika Serikat disebut melancarkan hampir 900 serangan, sementara Angkatan Udara Israel mengklaim menghantam 500 target dalam sortie terbesar dalam sejarahnya, menjatuhkan lebih dari 1.200 bom dalam 24 jam. Selain personel militer, korban sipil juga dilaporkan jatuh, termasuk sekitar 170 orang yang tewas ketika sebuah sekolah perempuan di dekat pangkalan laut Minab, Bandar Abbas, turut menjadi sasaran.
Meski demikian, perang tidak berakhir cepat. Iran membalas dengan gelombang rudal dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, serta negara-negara Teluk yang dianggap bersekutu dengan Washington, sembari mengancam menutup Selat Hormuz. Konflik disebut berlangsung dengan gencatan senjata yang berulang kali retak, sebelum ditutup melalui nota kesepahaman yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada pertengahan Juni, hampir empat bulan setelah serangan pertama. Biaya perang bagi pembayar pajak Amerika Serikat ditaksir mencapai 113 miliar dolar AS per pertengahan Juni.
Kronologi: Iran disebut menunggu diserang lebih dulu
Dari sisi kronologi, disebutkan bahwa sejak April 2025 Iran menjalani perundingan nuklir dengan Washington. Ketika Trump menuduh Iran kembali membangun program nuklir dan rudal jarak jauh dalam Pidato Kenegaraan Februari 2026, langkah yang diambil adalah otorisasi serangan kejutan pada 27 Februari malam waktu Washington, saat negosiasi masih berlangsung dan bertepatan dengan bulan Ramadan. Dalam urutan peristiwa ini, Iran digambarkan berada pada posisi menunggu diserang lebih dulu.
Duka kolektif sebagai perekat
Otoritas Iran memperkirakan upacara pemakaman di Teheran dihadiri lebih dari 10 juta orang, sementara proyeksi lain menyebut angka hingga 20 juta jika dihitung sepanjang enam hari prosesi yang melintasi Teheran, Qom, kota-kota suci di Irak, hingga berakhir di Mashhad. Peti jenazah Khamenei dibalut bendera Iran dan ditempatkan berdampingan dengan peti anggota keluarganya yang turut menjadi korban serangan Februari.
Bagi warga yang selama berbulan-bulan hidup dengan pemadaman internet, sirene serangan udara, serta dampak pemboman, prosesi ini menjadi ruang kolektif untuk berduka secara terbuka sejak perang meletus.
Dampak ke Gaza: penutupan penyeberangan dan bantuan terhenti
Di tengah penguatan simbolik Iran, dampak perang 2026 juga disebut merembet ke Gaza. Kehadiran tokoh-tokoh dari faksi Palestina dalam pemakaman Khamenei dipandang sebagai penegasan bahwa poros perlawanan—Iran, Hizbullah, dan faksi-faksi Palestina—tetap merapatkan barisan, meski kepemimpinan di Teheran disebut beralih ke Mojtaba Khamenei.
Namun, terdapat konsekuensi langsung di lapangan. Pada 8 Juni 2026, di tengah rentetan serangan rudal Iran ke wilayah Israel, otoritas Israel menutup seluruh titik penyeberangan ke Gaza dan menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan dengan alasan keamanan akibat perang Iran. Penutupan ini terjadi ketika pasokan bantuan sebelumnya pun dinilai jauh dari kebutuhan: sekitar 150 hingga 250 truk per hari, dibanding kebutuhan minimal 600 truk per hari.
Data korban dan kondisi kemanusiaan yang disebutkan menunjukkan krisis yang berlanjut. Anadolu mencatat total korban tewas sejak Oktober 2023 mencapai 73.032 jiwa per 22 Juni 2026. UNICEF melaporkan sedikitnya 265 anak Palestina tewas sejak gencatan senjata diumumkan, dengan rata-rata satu anak per hari selama lebih dari delapan bulan. Disebut pula sekitar 660.000 anak usia sekolah tidak dapat mengenyam pendidikan untuk tahun ketiga berturut-turut. Komisi Penyelidikan Independen Internasional PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina menyimpulkan kekerasan terhadap anak-anak di Gaza terus berlangsung secara sistematis bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025.
Di saat yang sama, dana yang dijanjikan melalui Board of Peace disebut belum juga dicairkan dari total komitmen 17 miliar dolar AS. Situasi ini memperkuat kekhawatiran bahwa ketika perhatian global bergeser ke dinamika geopolitik di Teheran, krisis berkepanjangan di Gaza kehilangan momentum sorotan internasional, sementara pembatasan akses bantuan kian mempersempit ruang hidup warga.
Kesimpulan
Perang 2026 dan pemakaman kenegaraan Khamenei memperlihatkan perubahan penting: solidaritas domestik Iran menguat di tengah ancaman eksternal, jejaring dukungan internasional tampak luas meski Barat absen, dan konflik berlarut menunjukkan kemampuan Iran bertahan serta membalas setelah serangan awal yang besar. Namun pada saat yang sama, perang itu juga disebut menjadi salah satu alasan pengetatan akses bantuan ke Gaza, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama.
Di tengah jutaan pelayat yang berkumpul di Teheran, pertanyaan yang menggantung tetap sama: sejauh mana dinamika geopolitik baru ini akan berujung pada perubahan nyata bagi warga Gaza yang masih hidup di bawah blokade dan reruntuhan.