TANAH DATAR — Banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 di sekitar Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, membawa dampak luas. Namun di tengah situasi tersebut, sebagian pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pengolahan ikan bilih justru mengalami peningkatan pasokan bahan baku dari nelayan.
Pemilik UMKM penggorengan ikan bilih di Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Nasir, mengatakan pasokan ikan dari nelayan meningkat tajam setelah peristiwa yang oleh warga setempat disebut galodo. Dalam beberapa hari terakhir, ia mengaku menerima pasokan hingga 200 kilogram ikan bilih.
Jumlah itu jauh di atas pasokan pada hari-hari normal yang biasanya hanya sekitar 10 hingga 15 kilogram. “Syukurlah, setelah galodo alias banjir bandang, pasokan ikan dari nelayan meningkat pesat,” ujar Nasir, Minggu.
Meski demikian, pada awal-awal bencana Nasir sempat tidak menerima pasokan dari nelayan di sekitar Danau Singkarak karena kualitas ikan dinilai kurang baik. Ia menyebut beberapa kali ikan yang diterima terasa agak pahit setelah digoreng.
Dua bulan setelah bencana berlalu, Nasir menilai kualitas ikan bilih hasil tangkapan nelayan sudah kembali baik dan terasa gurih. Ia menduga perubahan kualitas tersebut bisa saja dipengaruhi aliran sungai yang tercemar akibat banjir bandang.
Nasir mengatakan produksi ikan bilih goreng dari usahanya tidak hanya dipasarkan di sekitar Danau Singkarak, tetapi juga telah menjangkau Kota Payakumbuh, Kota Dumai, hingga Depok, Jawa Barat.
Terkait harga, Nasir menyebut nilai beli dan jual ikan bilih bergantung pada ketersediaan pasokan dari nelayan. Saat pasokan melimpah, ia membeli ikan bilih dengan kisaran Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram. Namun ketika ikan sulit didapat, harga beli dapat mencapai Rp100 ribu per kilogram, yang kemudian berdampak pada harga jual ikan bilih goreng di sejumlah pusat oleh-oleh.
Sementara itu, Evi, salah seorang pekerja di UMKM milik Nasir, mengatakan ia telah menekuni pekerjaan tersebut selama satu tahun terakhir. Ia menerima upah Rp5 ribu untuk setiap satu kilogram ikan bilih yang dibersihkan.
“Jadi, kita di sini digaji sesuai dengan berapa banyak ikan yang bisa kita bersihkan termasuk proses pengorengannya,” kata Evi. Dalam sehari, ia bersama pekerja lain rata-rata memperoleh upah sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, tergantung jumlah ikan yang berhasil dibersihkan sebelum digoreng.
Evi menambahkan, selain bekerja di tempat Nasir, ia juga menerima pekerjaan serupa di lokasi lain, menyesuaikan dengan pesanan pemilik UMKM.

