Pakar Psikologi Politik Menilai Ada Indikasi Delusi dalam Pernyataan Prabowo soal Kemenangan

Pakar Psikologi Politik Menilai Ada Indikasi Delusi dalam Pernyataan Prabowo soal Kemenangan

Seorang pakar psikologi politik menilai terdapat indikasi gejala delusi dalam sejumlah pernyataan Prabowo terkait klaim kemenangan berdasarkan hasil penghitungan internal. Penilaian itu muncul karena Prabowo disebut berulang kali menyatakan menang lewat “real count” internal, namun tidak mengakui hasil dari 12 lembaga survei independen, sementara data internal yang menjadi dasar klaim tersebut tidak dipaparkan secara terbuka.

Menurut pakar tersebut, sikap menolak hasil yang berbeda dari keyakinannya dan tetap berpegang pada klaim internal dapat dibaca sebagai bentuk penyangkalan terhadap realitas. Penyangkalan realitas disebut sebagai salah satu gejala delusi.

Dalam penjelasannya, delusi digambarkan sebagai salah satu jenis gangguan mental serius yang dikenal dengan istilah psikosis. Orang yang mengalami delusi diyakini memiliki keyakinan atau pengalaman yang jauh dari kenyataan, serta meyakini sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Pakar itu juga menjelaskan bahwa delusi merupakan gangguan pemikiran: seseorang meyakini sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Keyakinan tersebut, menurutnya, bersifat sangat kuat dan sulit dibantah, dipatahkan, atau dikoreksi, bahkan ketika dihadapkan pada data yang dianggap objektif.

Penilaian indikasi itu, menurut pakar, terlihat dari beberapa ungkapan Prabowo. Ia disebut telah mengungkapkan keyakinan pada survei internal sejak masa kampanye meski prediksi survei yang beredar disebut menunjukkan sebaliknya. Prabowo juga berulang kali menyatakan bahwa jika angka penghitungan di KPU berbeda dengan keyakinannya, maka hal itu tidak akan diakui. Dalam kampanye, ia dikutip pernah mengatakan, “Hanya kecurangan lah yang bisa mengalahkan saya.”

Pakar tersebut menilai, apabila gejala seperti ini hanya terjadi pada satu orang, dampaknya mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, jika terjadi pada seorang pemimpin, ia menilai hal itu berbahaya karena dalam psikologi massa, seorang pemimpin dapat menularkan sikap tersebut kepada pengikut fanatiknya, terlebih jika diperkuat oleh sikap “asal bapak senang” dari pendukung.

Dalam pandangan pakar itu, indikasi tersebut mungkin belum menjadi gejala yang menetap, tetapi setidaknya muncul dengan interval lima tahunan. Ia merujuk pada peristiwa 2014 ketika Prabowo disebut melakukan sujud syukur untuk merayakan kemenangan meski sebagian besar hasil quick count tidak menunjukkan hal itu. Hal serupa disebut kembali terjadi pada 2019.

Di akhir penilaiannya, pakar tersebut berharap diagnosisnya keliru. Ia menyatakan, bila tidak, situasi tersebut dinilai berbahaya dan mengkhawatirkan.