Ankara—Abdullah Ocalan, pemimpin Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dipenjara, menyerukan kelompoknya untuk meletakkan senjata dan membubarkan diri. Seruan itu disampaikan melalui surat yang dibacakan oleh anggota parlemen dari partai pro-Kurdi, Partai Dem (Demokrat), dalam langkah yang dinilai dapat memengaruhi dinamika konflik panjang di Turki tenggara.
Surat tersebut dibacakan dalam bahasa Kurdi dan Turki oleh Ahmet Turk dan Pervin Buldan di sebuah hotel di Istanbul, setelah kunjungan ketiga mereka dalam beberapa bulan terakhir ke penjara Pulau Imrali, tempat Ocalan menjalani hukuman isolasi sejak 1999.
Dalam suratnya, Ocalan menegaskan bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalur politik. “Tidak ada alternatif selain demokrasi dalam mewujudkan sistem politik,” tulis Ocalan. Ia juga menekankan bahwa “konsensus demokratis adalah jalan fundamental.”
Seruan pembubaran PKK muncul setelah Devlet Bahceli, pemimpin ultra-nasionalis sekaligus sekutu pemerintah, memprakarsai inisiatif untuk mengakhiri konflik. Bahceli yang selama bertahun-tahun dikenal mendukung pendekatan militer terhadap PKK, mengejutkan publik pada Oktober lalu ketika ia berjabat tangan dengan anggota Partai Dem di parlemen. Ia kemudian menyatakan Ocalan dapat memperoleh pembebasan bersyarat jika menyerukan penghentian kekerasan dan pembubaran PKK.
Ocalan menilai PKK terbentuk pada awalnya karena saluran politik demokratis tertutup bagi masyarakat Kurdi. Namun, menurutnya, sinyal positif dari Bahceli, Presiden Recep Tayyip Erdogan, dan sejumlah partai lain menunjukkan kondisi saat ini memungkinkan PKK meninggalkan perjuangan bersenjata.
Pernyataan ini memunculkan harapan baru atas kemungkinan berakhirnya konflik yang telah berlangsung sejak pemberontakan PKK pada 1984 dan disebut telah menewaskan sekitar 40.000 orang. Dari pihak pemerintah, Efkan Ala, anggota senior Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa, merespons secara hati-hati dengan mengatakan, “Kami akan melihat hasil akhirnya.”
Di kubu oposisi, Partai Rakyat Republik (CHP) sebagai partai oposisi terbesar dilaporkan menggelar pertemuan darurat pada Kamis malam untuk membahas pernyataan Ocalan.
Di tengah perhatian luas, ribuan warga Kurdi berkumpul di Diyarbakir dan Van—dua kota mayoritas Kurdi—untuk menyaksikan pembacaan surat Ocalan melalui layar raksasa. Sejumlah pemimpin Kurdi menyambut seruan tersebut dan menyebutnya sebagai titik balik bersejarah.
Namun, tidak semua pihak yakin situasi akan berubah secara signifikan. Duran Kalkan, salah satu komandan senior PKK, memperingatkan bahwa pemerintah Turki dinilai tidak sungguh-sungguh mencari solusi. Dalam wawancara dengan media pro-PKK, Kalkan menuduh Erdogan terus memprovokasi konflik melalui operasi militer terhadap kelompok Kurdi di Irak dan Suriah.
Di lapangan, ketegangan disebut masih tinggi. Pasukan Turki yang didukung pemerintah dilaporkan meningkatkan serangan terhadap kelompok Kurdi di timur laut Suriah. Di dalam negeri, politisi pro-Kurdi juga menghadapi tekanan hukum. Sejumlah tokoh Partai Demokrat Rakyat (HDP)—pendahulu Partai Dem—telah dijatuhi hukuman penjara berat, termasuk Selahattin Demirtas dan Figen Yuksekdag yang masing-masing dihukum 42 dan 30 tahun penjara terkait kerusuhan mematikan pada 2014. HDP kemudian direformasi menjadi Partai Dem setelah menghadapi tekanan hukum.
Sementara itu, kelompok oposisi nasionalis Partai Baik (Iyi Party) menunjukkan sikap skeptis. Saat pembacaan surat berlangsung, partai tersebut memasang spanduk hitam besar di kantor pusatnya bertuliskan, “Kami tidak akan lupa, kami tidak akan membiarkan mereka dilupakan,” sebagai penghormatan bagi korban serangan PKK.
Dengan berbagai hambatan politik dan militer yang masih berlangsung, seruan Ocalan membuka babak baru, namun masih menyisakan pertanyaan besar: apakah langkah ini akan benar-benar mengakhiri konflik panjang antara Turki dan kelompok bersenjata Kurdi.

