Bank Indonesia (BI) memiliki kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang yang beredar di masyarakat. Dalam pelaksanaannya, bank sentral menggunakan sejumlah instrumen, antara lain operasi pasar terbuka, kebijakan diskonto, giro wajib minimum (GWM), dan dorongan moral.
Salah satu instrumen tersebut adalah kebijakan diskonto. Instrumen ini berkaitan dengan pengaturan suku bunga tertentu yang memengaruhi keputusan bank umum saat membutuhkan tambahan likuiditas.
Pengertian Kebijakan Diskonto
Aulia Pohan dalam Potret Kebijakan Moneter Indonesia menjelaskan fasilitas diskonto sebagai kredit likuiditas yang diberikan Bank Indonesia kepada bank umum. Melalui fasilitas ini, bank sentral dapat mengendalikan jumlah uang beredar dengan mengatur tingkat suku bunga diskonto.
Ketika jumlah uang beredar dinilai melebihi target, BI dapat menetapkan suku bunga diskonto yang lebih tinggi. Kondisi tersebut cenderung membuat bank umum mengurangi pengajuan dana likuiditas ke BI. Berkurangnya likuiditas di perbankan kemudian dapat diikuti dengan penurunan porsi kredit ke masyarakat, sehingga jumlah uang beredar menurun.
Sebaliknya, jika bank sentral ingin menambah jumlah uang beredar, BI dapat melonggarkan atau menurunkan suku bunga diskonto. Dengan biaya pinjaman yang lebih rendah, bank umum cenderung meningkatkan pinjaman likuiditas dan memperbesar penyaluran kredit.
Rujukan lain dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut politik diskonto sebagai pengaturan jumlah uang beredar melalui tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Dalam praktiknya, bank umum dapat mengalami masalah likuiditas dan perlu meminjam kepada Bank Indonesia. Penurunan suku bunga mendorong penambahan uang beredar, sementara kenaikan suku bunga digunakan untuk menekan peredaran uang.
Tujuan Kebijakan Diskonto
Tujuan utama kebijakan diskonto adalah mengatur jumlah uang beredar di masyarakat. Ketika BI menilai uang beredar melebihi kebutuhan—yang dapat mengindikasikan gejala inflasi—bank sentral dapat menaikkan suku bunga diskonto.
Kenaikan suku bunga diskonto biasanya membuat bank umum mengurangi pinjaman likuiditas ke bank sentral. Likuiditas yang lebih ketat mendorong bank mengerem penyaluran kredit, sehingga uang beredar berkurang.
Adapun ketika bank sentral menilai perlu menambah uang beredar, BI dapat menurunkan suku bunga diskonto. Suku bunga yang lebih rendah mendorong bank umum menambah pinjaman likuiditas dan memperbesar penyaluran kredit, sehingga uang beredar meningkat.
Dampak Kebijakan Diskonto
Basuki dalam Kebijakan Moneter dan Kebijakan Fiskal Ekonomi menjelaskan dampak kebijakan diskonto, serta kebijakan moneter secara umum, antara lain:
- Menjaga stabilitas ekonomi, karena ketidakseimbangan jumlah uang beredar terhadap barang dan jasa dapat memicu inflasi yang terlalu tinggi maupun deflasi.
- Menjaga stabilitas harga, mengingat perubahan harga barang dan jasa memengaruhi permintaan dan dapat berdampak pada produktivitas dunia usaha.
- Meningkatkan kesempatan kerja, karena stabilitas ekonomi dapat mendorong investasi baru yang berpotensi menyerap tenaga kerja.
Secara keseluruhan, kebijakan diskonto menjadi salah satu instrumen yang digunakan BI untuk memengaruhi likuiditas perbankan dan peredaran uang, sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas perekonomian.

